Kelompok preman diduga menjadi provokator dalam demonstrasi di Yogyakarta yang berakhir ricuh pada 28 Oktober 2026 lalu. Di Yogyakarta, pengerahan preman untuk meredam demo diduga dilakukan dalam berbagai aksi protes sebelumnya. Bagaimana bisa demikian?
https://t.co/FGA8fF0x42
@merapi_uncover@PoldaJogja@polresjogja tolong dilihat video ini, para pelaku sangat mudah diidentifikasi dengan teknologi CANGGIH kepolisian (nek gelem kerjo). matamu di bukak yo, ra gur nguntal duet tok.
dear jagawarga, dekenganmu neng kandang wes tau di gawe dolanan cahยฒ, dadi nek gur musoh koeยฒ gentho tuo sek mentale ke doping koplo ro landepan, hayo genah e turah wani, semoga kita dapat segera bertemu di hari sialmu, JAGAWARGA ASU!
Buahahahahahahahaha
Cah-cah kono nek kon ndodoki omah wong cen melebihi BIN.
Lha wong MUng pamer cendelo dan kaSUr wae ra nganti mang menit lobby gua dah digeruduk je.
Respect ๐ซก
Pada aksi di Jogja (28/10), juga terdapat elemen Supporter yang turun ke jalan, bahkan bisa dibilang mayoritas dari aksi kemarin di Jogja kemarin adalah kelompok supporter, dan ternyata berlangsung secara alot, bahkan friksi mereka tak hanya dengan Polisi, melainkan (Supporter Jogja pasti ngeh)..
rivalitas diantara mereka tanggalkan, dan boom! kalian liat sendiri kemarin bagaimana mereka "mengorganisir" diri, baik dari pra hingga pasca aksi.
Sepertinya, para supporter di Indonesia mulai perlu bersatu untuk membentuk aksi kolektif guna menyuarakan apa yang perlu disuarakan, di Jogja terbukti untuk setidaknya melakukan perlawanan, bahkan hingga dinihari.
Skill adaptif para supporter ini di atas rata-rata, dengan polemik dan segala hiruk pikuknya, mereka tetap bisa lewati
mengapa supporter bola merupakan elemen yang supperior? jika ditilik dari percakapan Pangeran dan Zen Rs ada benarnya
>Suporter secara konsisten melakukan kerja-kerja kolektif setiap minggu, jauh lebih intens dibanding banyak kelompok masyarakat sipil lainnya
>Hal ini mencakup urusan logistik yang kompleks seperti mengatur transportasi untuk away days (melintasi daerah konflik atau berurusan dengan biaya), berkoordinasi dengan sesama anggota, hingga manajemen rute perjalanan
>Kelompok suporter memiliki kesadaran kolektif yang sangat tajam dalam mengelola dinamika di stadion. Mereka memiliki cara sendiri untuk menjaga solidaritas dan menjalankan aksi di tribun, termasuk taktik untuk membawa atribut (seperti flare atau spanduk) melewati pemeriksaan keamanan yang ketat
>Tidak seperti kelompok lain yang mungkin memerlukan stimulus finansial atau instruksi top-down, suporter bergerak berdasarkan common identity (identitas bersama). Mereka memanfaatkan waktu luang mereka untuk kepentingan yang mereka sadari sendiri
>praktik seperti ini menciptakan sistem jaringan yang tulus dan sulit dikontrol oleh pihak eksternal karena tidak adanya "tanah perjanjian" atau janji imbalan formal di luar kecintaan terhadap klub
setuju dengan perkataan Zen Rs tentang masyarakat sipil yang ingin membentuk front pergerakan, tapi masih belum melirik supporter, maka perlu diperhitungkan ulang.
ORGANISIR...
Sepertinya, membayangkan suatu gerakan yang benar-benar rapat, egaliter, organik, dan solid adalah hal yang mungkin untuk dilakukan. Sangat mungkin, bahkan. Meretas sekat, gotong royong, dan sama dalam satu nafas perjuangan.