@0xhanyfa krna bersosialisasi mengharuskan orang memakai topeng maybe? ada kalimat yang diungkapkan Erving Goffman, kehidupan sosial dapat dianalogikan seperti pertunjukan, kita menampilkan sisi diri yang berbeda sesuai konteks
duduk sendirian dikala gemerlapnya lampu jalan dan tenangnya hembusan angin malam, tetap isi kepala seberisik para politikus yang orasi tentang janji"nya
barangkali yang paling melelahkan bukan hiruk pikuk kota, melainkan percakapan yang tak pernah selesai dengan diri sendiri.
Darah, Dusta, dan Diplomasi: Machiavelli di Tengah Kekacauan Italia
Tahun 1513. Sebuah petang di desa kecil San Casciano, Italia. Seorang pria kurus dengan wajah keras dan mata tajam duduk menulis di sebuah meja kayu. Ia tak lagi memiliki jabatan. Baru saja dipenjara, disiksa, dan diasingkan. Namanya: Niccolรฒ Machiavelli.
Dulu ia adalah diplomat penting di Republik Florence. Ia menyaksikan langsung kekacauan Italia, perang antar kota, pengkhianatan politik, dan ambisi para pangeran yang haus darah. Tapi kini ia hanya bisa mengamati dari jauh. Tidak lagi berada dalam permainan. Dikeluarkan dari lingkaran kekuasaan.
Di bawah cahaya lilin, ia mulai menulis. Tapi bukan untuk membalas dendam dengan kemarahan. Ia menulis dengan dingin, seperti ahli bedah yang membedah bangkai politik dengan pisau analisis tajam. Buku itu bukan hanya teori, tapi manual, cara bertahan, cara menguasai, cara menipu dan menaklukkan.