Beliau berbicara dengan hati, dengarkan ucapan beliau sampai bergetar.
Pada podcast ini, pada menit 15 beliau hampir menangis.
Media Wahyudi Askar (CELIOS)
SETIDAKNYA DENGAN INI !!!!📛🔄
Meskipun nggak bisa ikutan demo at least turut memeriahkan di dunia maya…
Lanjutkan dimanapun perjuangan kalian,
semangat terus buat teman teman yang terjun ke jalan✊🔥
Reminder to:
• Gibran menyuap mahasiswa UBK 300 juta
• Korupsi emas jampidsus 74KG
• Kasus keracunan mbg
• Korupsi 10M Kebun Binatang Surabaya
• Korupsi pengadaan kipas angin Kopdes 1,8 Triliun
• pemotongan anggaran perpusnas 377 M
• Dana belanja pendidikan Indonesia terendah, hanya 1,3%
• BBM Pertalite Mulai langka
Saking gaada berita baik di negara ini🥲🥲
Presiden kok makin alergi dengan kenyataan?
Yang keliru bukan foto itu, atau media yg menampilkan foto itu. Yang jelas keliru adalah jika negara lebih marah kepada cermin daripada kepada wajah yang dipantulkannya.
Foto anak-anak menikmati MBG di depan sekolah yang rusak bukanlah penghinaan terhadap negara. Justru itulah esensi jurnalisme, utk menghadirkan kenyataan yang penuh kontradiksi agar publik melihat persoalan secara utuh.
Pers seharusnya bukan humas pemerintah. Tugasnya bukan memoles citra kekuasaan, melainkan mengawasi penggunaan kekuasaan. Dalam tradisi demokrasi, media menjalankan fungsi watchdog, termasuk membuka keburukan yg ingin disembunyikan dr publik.
Ironi dalam foto itu bukan hasil rekayasa wartawan. Yang menciptakan ironi adalah kenyataannya. Anak-anak menerima makanan bergizi di depan ruang kelas yang reyot. Jika ada yang terasa memalukan, sumber rasa malu ya kondisi yang direkam kamera. Dan itu sumbernya kebijakan negara yg memang keliru.
Mengecam media karena menampilkan ironi seperti itu semakin menunnjukkan wajah junta otoriter. Seolah pers hanya boleh menampilkan keberhasilan pemerintah, sementara kegagalan harus disembunyikan. Padahal demokrasi justru membutuhkan kritik agar kebijakan terus diperbaiki.
Selama sekolah rusak masih berdiri, guru-guru sengsara, sementara MBG beracun dan jadi makanan bebek, publik terus memiliki alasan untuk mengabadikan paradoks pembangunan.
Anak bukan angka. Keselamatan mereka tidak dapat diukur hanya dengan persentase memenuhi target program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Hari Anak Nasional, negara semestinya memastikan setiap kebijakan yang menyasar anak dijalankan dengan pengawasan, keamanan pangan, dan akuntabilitas yang menempatkan nyawa anak sebagai prioritas utama, bukan sekadar menjalankan target program.
#MBG #HariAnakNasional #Watchdoc
Ibu Annette Mau dari Aliansi Ibu Indonesia ke Komisi IX DPR 🔥🔥🔥
***
Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara, diberi makan sampai keracunan.
Dan apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial?
Bapak Ibu yang tidak punya BPJS, ke rumah sakit merawat anaknya, berhari-hari, tanpa kompensasi.
Dan kita berkata kita sedang membela orang miskin?
HOW DARE YOU!!!!
Bagaimana mungkin? Mereka bahkan tidak bisa bayar iuran BPJS.
Anaknya keracunan, diracuni oleh negara, dan tidak ada kompensasi apa pun.
Yang kelimpungan Pemda, bukan pemerintah pusat.
Jadi sebenernya kita harus bertanya, Bapak Ibu Dewan yang terhormat,
BAGAIMANA SIH CARA KITA MENJALANKAN NEGARA INI
Ini yang disebut "normalization of deviance." Keracunan dianggap insiden teknis dan para korban dikecilnya menjadi angka-angka dan hal biasa.
Beberapa waktu lalu sudah menulis, ini hanya soal bom waktu, akan terus berulang dan terjadi. Namun, herannya, bahkan setelah Dadan ditangkap, dan kritik yang sedemikian gencar soal MBG ini, tak juga terjadi perbaikan.
Pernah nulis ini: https://t.co/aYJxDZ0mAL
Harga beras naik tidak otomatis berarti pendapatan petani meningkat. Yang menentukan kesejahteraan petani bukan harga beras di pasar, melainkan harga gabah yang diterima petani, biaya produksi, dan apakah petani memiliki surplus untuk dijual.
Dan lagi, dengan harga barang konsumsi, biaya transportasi jg naik, uang sekolah dll jg naik, yg terjadi rakyat, termasuk petani tambah bokek sih.
“Saya menghabiskan belasan tahun meneliti tentang perlindungan sosial di banyak negara. Saya menyelesaikan S2 dan S3 saya di inggris. Tidak ada satu pun negara di dunia yg program makan bergizi gratisnya dilakukan oleh aparat keamanan. Dari semua program perlindungan sosial di seluruh dunia, MBG adalah program terbesar dari segi anggaran, inefisiensi dan potensi korupsinya, di seluruh dunia.”
Video ini adalah paparan paling clear soal kekacauan tata kelola embege. Kalo ada yg nanya “emang apa salahnya sih embege?”, cukup suruh nonton video ini.
Kita sudah tahu pembalakan liar merusak hutan. Tapi laporan Auriga Nusantara yang baru bikin shock: 41,5 juta hektar hutan (3x Pulau Jawa) kini di luar perlindungan.
58% deforestasi diam-diam sudah LEGAL lewat izin pemerintah. Bukan lagi soal liar gelap, tapi perusakan yang disahkan negara. Hukum cuma tangkap rakyat kecil. Korporasi besar? Bebas merusak. Hutan habis secara sah. Ini gila sih.
https://t.co/p7wx0MT94W
Stop intimidasi terhadap jurnalis.
Kontributor jurnalis Project Multatuli, Anggita Raissa, bersama tiga jurnalis dari Konde, Tempo, dan Mongabay, mengalami pengawasan, penolakan, hingga terpaksa dievakuasi saat hendak meliput dampak industri nikel di Pulau Obi, Maluku Utara.
Tadi siang habis dapat ancaman untuk menghapus postingan twit tentang Menteri PU (terlampir), dengan membuka data pribadi yang berisi alamat, NIK, TTL, data keluarga, dan lokasi terakhir gawai saya.
Saya sedang draft somasi dan akan kirim balik sebagai jawaban 🙏
Semifinal Piala Dunia yang mempertemukan Argentina vs Inggris, seorang fans karbitan mengirim esai komentarnya tentang politik dan sepak bola, dari Maradona hingga Messi.
@jiiagasii Gara2 pemerintah dan penegak hukumnya pada jadi maling. Institusi keagamaan sibuk nambang, beberapa juga menjadi pelaku pelecehan. Rakyatnya ikut jadi rusak gini moralnya.