A professora passou mal durante uma aula e saiu da sala para não provocar pânico, mas os alunos estavam tão atentos que saíram atrás dela para ampará-la.
DUNIA SUDAH DIGENGGAM, AKHIRAT PUN DIKEJAR
Entah apa ujian yg tidak mereka tampak kan atau ujian apa yg udh bisa mereka lewati sampe bisa di tahap seperti ini. 😭
Semoga Allah jaga baik baik rumah tangga mereka ya ges
Anak jatuh dari ayunan. Lututnya berdarah. Dia nangis kencang.
Yang dia teriakkan: "MAMAAA!"
Bapak berdiri 2 langkah di sebelahnya. Tangan Bapak bahkan lebih dekat dari tangan ibunya yg ada di ujung taman. Tapi anak itu noleh ke arah ibu. Berlari ke arahnya,memeluk kakinya
Bapak berdiri disitu. Tangan masih ngambang di udara. Gak ada yg megang
Malam itu, Bapak gak bisa tidur. Bukan karna luka dilutut anaknya. Tapi karna satu pertanyaan yg gak berani Bapak jawab: "Kenapa dia gak manggil aku?"
@18fesss coba rutinin pake ini, aku pake ini rutin gong bgt buat nyerahin area liapatan yg hitam
setelah mandi pake exfobright toner ini agak mahal tpi works bgt
https://t.co/YzPaxXRnL9
trus setelah itu pake brightening lotion ini
https://t.co/18T6D5alZK
@sampahfhui inilah bukti ‘many people are educated but not well-mannered’. kaya lu punya pendidikan yg bagus tp kalo kelakuan lo jelek tuh percuma. sickkk. semoga korban yg dimention di group baik baik aja dan dapet perlindungan dari UI.
Gerbang toll kok tau ya kendaraan yg kita naikin tuh masuk golongan berapa? Karena kan suka beda tuh tarifnya. Kedetect by cctv kah atau gimana ya penasaran banget
Gue punya temen cewek namanya Amel.
Pintar, mandiri, dan waktu nikah semua orang bilang dia beruntung banget.
Suaminya kerja bagus
penghasilan oke,
sayang banget sama dia.
Dan karena semua itu Amel berhenti kerja.
Ngapain capek-capek, suami gue udah cukupin semua.
Gue nggak bilang apa-apa waktu itu.
Karena secara logika masuk akal.
Tahun pertama sampai ketiga
semua baik-baik aja.
Amel ngurusin rumah.
Suami cari duit.
Hidup terasa lengkap.
Tapi pelan-pelan gue mulai notice sesuatu.
Amel yang dulu berani berpendapat mulai jarang ngomong kalau beda pendapat sama suaminya.
Amel yang dulu spontan mau nongkrong sekarang selalu nanti tanya suami dulu.
Dan waktu gue tanya "Mel, lo nggak kangen kerja?"
Dia jawab "Kangen sih.
Tapi nanti suami gue ngerasa nggak dibutuhkan."
Tahun kelima semuanya berubah.
Kantor suaminya kena efisiensi besar-besaran.
Di-PHK tanpa pesangon yang cukup.
Dan tiba-tiba satu penghasilan yang selama ini jadi satu-satunya sumber kehidupan mereka, hilang.
Amel mau balik kerja.
Tapi gap-nya udah 5 tahun. Industri udah berubah. Koneksinya udah banyak yang putus.
CV-nya terasa ketinggalan zaman.
Dan yang paling berat bukan soal keuangannya tapi soal dynamic yang berubah di dalam rumah tangga mereka.
Suaminya yang tadinya provider tiba-tiba merasa kehilangan identitas.
Dan Amel yang tadinya dependent tiba-tiba harus jadi tulang punggung tanpa persiapan apapun.
Dua orang yang saling sayang tapi nggak siap untuk skenario yang seharusnya mereka antisipasi dari awal.
Dan ini yang gue pelajarin dari cerita Amel.
Punya penghasilan sendiri bukan soal nggak percaya sama suami.
Bukan soal "gue harus mandiri karena suami gue pasti selingkuh."
Bukan soal emansipasi yang dipaksain.
Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupa
Dunia ini nggak berjalan sesuai rencana.
Dan lo nggak bisa mendelegasikan seluruh ketahanan hidup lo ke satu orang.
Suami yang baik bisa kena PHK.
Suami yang sehat bisa tiba-tiba sakit.
Suami yang setia bisa burnout dan berubah.
Dan kalau di titik itu lo nggak punya apa-apa atas nama lo sendiri bukan rekening, bukan skill, bukan network lo nggak punya pilihan.
Dan ketiadaan pilihan itu yang paling berbahaya bukan karena lo miskin, tapi karena lo jadi terpaksa bertahan di situasi yang harusnya bisa lo tinggalkan.
Amel sekarang udah balik kerja.
Prosesnya nggak mudah dan nggak cepat.
Tapi dia bilang satu hal ke gue yang gue inget sampai sekarang
Gue bukan nggak percaya sama suami gue.
Gue cuma nggak mau jadi orang yang nggak punya pilihan kalau hal yang nggak gue inginkan terjadi.
Punya penghasilan sendiri bukan ancaman buat rumah tangga.
Itu justru salah satu fondasi yang bikin rumah tangga bisa bertahan karena dua orang yang saling backup jauh lebih kuat dari satu orang yang nanggung semuanya.
R.A. Kartini udah bilang ini lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dan kita masih debatin hal yang sama.
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
@tanyarlfes Aku awalnya termasuk tante yg sayang sm ponakan, tp semenjak si ortunya ngelunjak sering ninggalin dan pas aku punya anak ga ditreat yg sama. Aku dah gapeduli amat sm ponakan ku😅
@tanyarlfes Sampe hari ini gapernah berhenti bingung sama tipe orangtua yang beranggapan semua orang wajib suka anak kecil, wajib memaklumi semua tingkah laku si anak, dan ngebiarin anak punya jiwa minta², sekalipun itu merugikan orang lain. Trus giliran gak dikasih, gampang ngecap pelit🤦🏻♀️