Malam sebelum pertandingan, Hendra Setiawan sudah susah jalan. Kalau mau tidur pun kakinya berasa nyut-nyutan.
Herry IP sudah bilang bahwa kalau memang tidak bisa main, ya sudah mundur saja, daripada sakit.
Hendra lalu pergi ke fisioterapis dan setelah itu Hendra berkata mau coba dulu untuk main di final All England.
Main lawan Aaron Chia/Soh Wooi Yik, Ahsan/Hendra kalah di game pertama. Dengan kondisi cedera, jelas Ahsan/Hendra susah untuk bangkit.
Namun Herry IP kemudian mencoba strategi baru. Hendra diminta berdiam di depan saja dan Ahsan yang cover di belakang.
Tak perlu ada rotasi seperti lazimnya ganda putra. Jadi mereka main serti pola ganda campuran ketika pemain putri lebih banyak berdiam di depan.
Aaron/Soh kagok dengan perubahan itu. Ahsan/Hendra bisa bangkit dan jadi juara All England.
Herry IP menyimpulkan kemenangan itu sebagai: Pertolongan Tuhan dan Mental Juara Ahsan/Hendra.
Bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah melihat orang tua kita menua.
Melihat daya dari sang waktu menyentuh dua orang yang paling mencintai kita, dua orang yang paling awal mengasihi, dan paling lama.
Semua yang mereka korbankan supaya kita bisa sampai di titik ini, pelan pelan berubah jadi keriput yang menempel abadi di wajah mereka, berubah jadi rambut yang memutih, dan kantung mata yang makin terlihat.
Katanya, setiap tahap hidup punya keindahan. Itu benar. Tapi hampir tidak ada yang menyiapkan kita untuk rasanya duduk di meja makan, melihat mereka makan, lalu sadar, senyum mereka tidak semuda dulu.
Ya dan kita juga.
Kita masih anak bagi mereka, tapi kita bukan anak kecil lagi. Aneh rasanya. Kita dan orang tua kita sama-sama orang dewasa, tapi dipisahkan beberapa puluh tahun jarak usia.
Tumbuh besar tidak pernah sempurna. Memang begitu. Karena kita juga cobaan pertama mereka menjadi orang tua. Mereka belum pernah menjadi orang tua sebelumnya.
Walaupun begitu, aku tidak akan menukarnya dengan versi apapun walau katanya lebih baik.
Aku baru mengerti, aku dan orang tuaku tumbuh besar bersama, dan ada sesuatu yang indah di sana.
Tapi yang kadang membuat haru adalah aku sadar aku punya kehidupan ini karena mereka pernah mengalah, pernah menepi, pernah memberi ruang.
Hidup yang aku jalani hari ini, dibangun dari hidup yang dulu mereka sisihkan untukku.
Dan sekarang aku menyaksikannya langsung di depan mata.
melihat mereka mulai lebih sering istirahat karena lelah yang ia simpan rapi.
melihat mereka lebih pelan saat berdiri, lebih hati hati saat melangkah, seolah sedang belajar menerima dahsyatnya kekuatan waktu pada tubuhnya.
Aku melihat tangan mereka. Tangan yang dulu kuat mengangkatku, menuntunku menyeberang, merapikan seragamku, mengusap-usap kepalaku, kini punya garis garis halus yang tidak pernah ada di masa kecilku.
Kadang aku menangkap momen kecil yang menghenyakkan.
Mereka mulai sering mengulang cerita yang sama, mulai sering lupa untuk hal-hal memori jangka pendek. Mulai menunjukkan semua hal yang aku baca di buku ajar geriatri, ilmu kesehatan usia lanjut.
Mereka bertanya hal yang sama dua kali, dan aku dulu tergesa menjawab, Sekarang aku memilih menatap mata mereka dengan senyum, menjawab pelan, karena aku sadar, yang mereka cari bukan sekadar jawaban, tapi kehadiran.
Aku mulai paham, ada doa yang tidak diucapkan lewat kata, tapi lewat kebiasaan mereka.
Mereka masih mencintaiku dengan cara yang sama, hanya saja tubuh mereka tidak lagi secepat hati mereka.
Di masa kecil, aku merasa waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat besar. Aku ingin cepat punya kebebasan. Aku ingin cepat menjadi siapa pun yang aku impikan.
Sekarang, ketika aku sudah sampai, aku justru ingin waktu melambat.
Aku ingin satu makan malam lagi tanpa buru buru. Satu perjalanan lagi dengan tangan mereka di sebelahku. Satu pagi lagi mendengar suara mereka memanggil namaku dari ruang tengah. Satu kesempatan lagi untuk bilang, terima kasih untuk segalanya. Satu kesempatan lagi untuk memeluk lebih lama, tanpa alasan.
Karena aku sangat mengerti.
Orang tua tidak pernah meminta kita membalas semua pengorbanannya. Mereka hanya ingin kita hadir, sesering yang kita bisa. Mereka hanya ingin kita pulang, meski sebentar. Mereka hanya ingin kita baik baik saja menjalani kehidupan, meski mereka sendiri sedang belajar menua.
Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih tua. Tapi tetap sama, dicintai, sepenuh itu.
Dan kalau suatu hari nanti garis garis itu makin banyak, langkah mereka makin pelan dan terbatas, aku ingin mereka tahu satu hal.
Aku tidak pernah benar benar pergi dari rumahnya. Aku sadar, cinta paling murni yang pernah kita terima, sedang berjalan menuju senja.
Dan tugas kita sederhana.
Menemani mereka sampai matahari benar benar turun, dengan hati yang lembut, dengan waktu yang kita sisihkan, dengan pelukan yang jangan kita tunda, dengan kata kata indah yang jangan kamu hemat.
Karena mereka tidak pernah hemat mencintaimu.
🗣️ "Gimana supaya hidupku ada perubahan? Ga gini-gini aja?"
Coba tukar metodenya.
Coba ubah rutinitasnya.
Coba ganti lingkungannya.
Coba upgrade mindsetnya.
Coba dobrak takutnya.
Coba input yang berbeda.
Intinya, ubah hal-hal yang sudah kita lakukan sejak lama.
It's clearly not working out and not gonna change anything.
Change the action.
Get different result.
Makes sense ya.
Menstruasi tiap bulan, kehamilan beberapa kali, lalu diakhiri menopause.
Sementara kita laki-laki, secara biologi, ya hidup lurus-lurus aja.
Ayo kita sadari sebentar.
Perempuan itu setiap bulan berhadapan dengan biologinya sendiri.
Dengan nyeri datang rutin sekali.
Dengan emosi naik turun tanpa diingini.
Dengan darah yang keluar, tanpa permisi.
Lalu di satu fase hidup, perempuan mengandung.
Menumbuhkan manusia hidup dalam dirinya.
Membagi nutrisi tubuhnya, energinya, tidurnya, napasnya.
Rahim membesar puluhan kali lipat. Organ-organ perutnya bergeser. Trus hormonnya loncat-loncat menari tanpa henti.
Dan ketika semua itu selesai, di dekade ke 5 tubuh berkata,
Haha belum selesai.
Tiba-tiba Menopause datang.
Badan rasa jadi tungku panas, lelah, gelisah, tubuh terasa asing, tapi tetap harus menjalani semua fungsi dan perannya sebagai Ibu.
Sementara biologi kita laki-laki?
Bangun tidur.
Tarik napas.
Minum air.
Kerja seharian.
Lalu merasa wah hari ini produktif sekali.
Kadang kita demam tinggi sedikit saja,
Nada bicara langsung melemah.
Rasanya ingin nulis pidato perpisahan
Setelah memahami ini, aku sering bertanya dalam hati, bagaimana bisa perempuan setangguh ini.
Bayangkan kita laki-laki yang mengalami menstruasi.
Mungkin sebulan sekali kantor akan tutup.
Grup WhatsApp penuh keluhan.
Rumah sakit penuh drama.
Satu kram kecil, sudah minta dipijat se-RT.
Kehamilan?
Laki-laki lapar satu jam saja sudah gelisah.
Jadi kalau hari ini kita melihat perempuan tetap tersenyum,
tetap bekerja,
tetap mengurus keluarga,
tetap peduli orang lain,
Kita menyadari kekuatan versi berbeda.
Dan kita, para laki-laki,
Sudah selayaknya lebih menghargai dan menyayanginya. 🩷
Sejarawan Prancis Jean-Pierre Filiu—yang menghabiskan lebih dari satu bulan di Gaza pada awal tahun ini—mengungkap bukti tegas bahwa tentara penjajah “Israel” mendukung geng-geng kriminal yang menjarah konvoi bantuan di Jalur Gaza.
@KAI121 jadwal commuter line bdg raya cicalengka padalarang apakah berubah tiba2 min? ataukah maintenance jd ga semua jadwal kelihatan? hiks knapa gda jadwal kereta biasanya
Anak ini adalah jurnalis Anas Al-Sharif saat pengeboman "Israel" di Gaza pada tahun 2008—2009.
Saat itu ia hanyalah seorang anak laki-laki yang menyaksikan para wartawan bekerja, dan memiliki impian suatu hari nanti akan menjadi wartawan juga.
Kementerian Kesehatan Gaza: 60.034 orang syahid dan 145.870 orang terluka sejak dimulainya serangan "Israel" di Jalur Gaza.
@anasalsharif0@sahabatalaqsha