SAYA TES DNA SEBELUM BERANGKAT KE INDIA.
SAYA ADA DNA INDIA!
KALAU DENGAR LAGU INDIA SAYA GOYANG!
KEMARIN WAKTU JAMUAN DI ISTANA,
MENTERI-MENTERI SAYA JUGA SUKA NYANYI DAN GOYANG!
MUNGKIN MEREKA ADA DNA INDIA JUGA!
THE FUTURE IS NOW, OLD MAN!
Ekspresi epic Fatimah, wakil ketua BEM UI saat denger wakil dari DPR bilang siswa mau ke sekolah aja harus berjuang lewat jalan rusak dan seberangi sungai tanpa jembatan, makanya solusinya dikasih MBG...
ini, adalah potret bagaimana generasi muda memandang keabsurdan logika generasi tua yang serakah dan tolol!
Guys kalian harus liat vidio lengkap nya sih🥲
Sumpah kesel banget dengan jawaban penjilat pemerintah tersebut🥲
sc:threadslisanwarga
momen gibran di wawancara rosi:
🤵🏻 Eh Mbak Penasaran gk?
👧🏻 Apa?
🤵🏻 konsultan saya siapa?
👧🏻 Siapa?
🤵🏻 Oh gk tau ya? Semua orang menanyakan itu
👧🏻 Punya konsultan politik atau gk?!
🤵🏻 Bukan punya atau gk siapa gk tau ya? Gk ada yg tau ya?
👧🏻 Gk, kenapa?
🤵🏻 Banyak yg menanyakan soalnya
👧🏻 Ya iya kenapa sekarang ya aku tanya
🤵🏻 Ya karena cara komunikasi saya gk seperti orang biasa
👧🏻 Jadi siapa?
🤵🏻 Ya rahasia!!
Ini skrip stand up komedi gk sih?!
mampuslah kita WNI prabowo gibran
gada yang bisa di harapkan
baru kali ini lihat orang "tertipu" tapi gue ga merasa sedih awokawok
konteks:
itu investor MBG ngamuk-ngamuk di kantor BGN mau minta kepastian. mereka udah keluar duit miliaran buat bangun dapur MBG tapi uangnya blom diganti. mampus 😂😭
Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya malah wajar sih.
Gw malah heran perang udah jalan berbulan-bulan, harga energi global sempat panas, banyak negara udah duluan kena efeknya.
Sementara di Konoha kita relatif santai. Jadi cepat atau lambat penyesuaian harga memang bakal datang juga.
Bukankah ini juga salah satu cara buat menjaga keuangan negara? Karena di sisi lain pemerintah juga lagi dorong program-program prioritas yang butuh anggaran besar.
Dan dari situ kita jadi bisa lihat sesuatu yang menarik anggaran itu adalah cerminan prioritas.
Kalau ada pos yang disesuaikan, biasanya ada pos lain yang sedang diprioritaskan. Yang bikin diskusi menarik bukan soal Pertamax naik atau enggaknya.
Tapi trade-off apa yang sedang dipilih?
Karena dalam ekonomi ada prinsip there is no free lunch. Tidak ada makan siang gratis.
Kalau satu sisi dibuat lebih ringan, biasanya ada sisi lain yang harus ikut menanggung biayanya.
Menurut kalian trade-off yang sekarang terjadi ini worth it gak?
Hari ini gue berkhianat dari Abang ketoprak
langganan gue, coba beli yg jaraknya cuma 70m dr dia.
Pas pulang dr ketoprak lain itu, abangnya ngegep bungkusan ketoprak yg gue beli dgn tatapan ga percaya. Jantung gue degdegan, keringet dingin.
Damn. Jadi ini rasanya kegep selingkuh.
Aku yakin kalian smua yg pernah ngalamin hal serupa dan merasa guilty tidak pernah selingkuh dr pasangannya wkwk
cc:threadkikikhairini
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.