@Ryudami_ Gumam pelan terselip dari Minato. Tidak heran pada jawaban teman-nya itu. Musik sudah seperti cinta pertama bagi Yuuma.
... dan ...
sekaligus alasan bagi Minato untuk tetap tinggal.
"Kau akan bungkuk bahkan sebelum rambutmu berubah putih."
@Ryudami_ Tangannya ia biarkan untuk dituntun, tidak masalah, toh hanya teman, 'kan?
Plastik es krim ia taruh ditengah-tengah, menciptakan sedikit jarak diantara keduanya. "Kau terdengar seperti orang tua."
@Ryudami_ "Plin plan sekali jadi cowok." cibirnya. The truth is, Minato masih mau seperti ini.
Sebentar saja.
"Tuh, duduk disana." tunjuk Minato dengan asal ke arah deretan bangku taman dinaungi pohon besar.
@Ryudami_ Ditatap seperti itu membuat Aizawa tunggal itu sedikit merah. Matanya melirik ke arah lain, sebelum akhirnya menghela nafas.
"Sekali ini saja." ucap Minato.
Ia menggigit pelan ujung pocky dengan enggan.
@Ryudami_ Tangannya menggantung di udara, sedikit terdiam sesaat sebelum dialihkan ke arah kulkas eskrim.
"Kau mau?" tanya nya, sambil mengambil dua bungkus es rasa melon dan stroberi.
—ia bukanlah sosok pemberontak seperti yang sering diasumsikan orang. Di balik gayanya yang nyentrik, Minato tetap dikenal sebagai pemuda yang sopan, ringan tangan, dan selalu berusaha membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum.
Minato Aizawa (相沢 湊)
Nama Minato (湊) memiliki arti "pelabuhan"— sebuah tempat di mana orang-orang datang, singgah, dan merasa diterima. Nama itu diberikan oleh kedua orang tuanya dengan harapan Minato tumbuh menjadi seseorang yang mampu membawa kehangatan bagi orang lain—
Kini, Minato paling menikmati bermain gitar listrik dan sesekali menulis lagu sebagai cara mengekspresikan perasaannya. Meski penampilannya cukup mencolok dengan rambut pirang hasil bleaching dan beberapa tindik di kedua telinganya—