@afrkml Kebetulan kalo pake digital sering tinggi, pas kontrol di klinik pake air raksa sdh mengira tinggi malah yg keluar normal, dan itu sudah berkali kali. Jadi kalo pas ada pemeriksaan gratis di kampung slalu ketebak endingnya, makanya saya tanya apa perlu kalibrasi alat digitalnya
Tahiyat: Bisikan Janji dan Kesaksian di Gerbang Keabadian
Tahiyat adalah jeda yang membuka rahasia, ketika seorang hamba duduk dalam diam paling halus, menyapa Tuhannya dengan penuh adab. Saat lidah berbisik “at‑tahiyyātu lillāh…”, ruh menanggalkan semua kehormatan palsu. Hanya Allah pusat segala kemuliaan. Hanya Dia yang layak diagungkan. Semua kembali pada-Nya.
Tahiyat awal hadir sebagai janji di pertengahan jalan. Setelah dua rakaat, engkau berhenti sebentar, seperti musafir yang menatap langit dan meneguhkan arah. “Aku belum selesai, tapi aku tetap setia melanjutkan langkah menuju-Mu.” Dalam pandangan para arif, inilah tajdīd an-niyyah, pembaruan niat agar hati tetap teguh.
Tahiyat akhir adalah puncak pertemuan. Setelah semua rukuk dan sujud, engkau duduk hening, seakan benar-benar berada di hadapan-Nya. Bacaan kini lengkap, ditutup dengan salawat Ibrahimiyah—shalawat yang sempurna. Lalu salam kanan dan kiri, tanda engkau kembali ke dunia, dengan membawa pulang cahaya shalat, untuk menebar salam perdamaian dan kasih sayang ke penjuru semesta. Selepas shalat, engkau tak lagi sama; hatimu dibasuh keheningan dan dikuatkan ketenangan, langkahmu penuh kepastian bersama cahayaNya.
Dua kali duduk, dua makna. Tahiyat Awal adalah janji setia di tengah perjalanan. Tahiyat Akhir adalah kesaksian cinta di gerbang pertemuan terakhir. Seperti tamu yang pamit penuh hormat, sebelum melangkah pulang. Begitulah hidup: ada jeda untuk memperbarui niat, dan ada akhir untuk meneguhkan makna. Sungguh siapa yang memahami tahiyat, akan memahami hakikat perjalanan ini.
اللَّهُمَّ ا��ْعَلْ تَحِيَّاتِنَا اعْتِرَافًا بِعَظَمَتِكَ، وَجُلُوسَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ خُضُوعًا لِعُبُودِيَّتِكَ، وَسَلَامَنَا عَلَى نَبِيِّكَ مَحَبَّةً صَادِقَةً، وَخُرُوجَنَا مِنْ صَلَاتِنَا نُورًا يَمْشِي مَعَنَا فِي حَيَاتِنَا.
Ya Allah, jadikanlah tahiyat kami sebagai pengakuan atas keagungan-Mu, duduk kami di hadapan-Mu sebagai ketundukan yang tulus, salam kami kepada Nabi-Mu sebagai cinta yang jujur, dan keluarnya kami dari shalat sebagai cahaya yang berjalan bersama kami sepanjang hidup.
Apa boleh besok dilanjut kajiannya tentang makna 3 salam di bacaan tahiyat? Pelan-pelan, bi idznillah, mari kita buka lapisan tirai ini 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rahasia Duduk di Antara Dua Sujud
Di antara ruku‘ yang meruntuhkan ego dan sujud yang meleburkan diri, ada jeda yang sering dipandang sederhana: duduk di antara dua sujud. Namun justru di sanalah kelembutan Ilahi menyapa. Ia bukan sekadar istirahat, tapi helaan napas ruhani setelah meruntuhkan segala keangkuhan di hadapan-Nya.
Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menulis, “Duduk di antara dua sujud adalah saat hamba berhenti sejenak untuk memohon semua kebutuhannya, merintih dalam ketenangan, lalu bersiap kembali menenggelamkan wajahnya dalam penghambaan.”
Di duduk ini, kita melafazkan doa singkat namun memuat lautan makna:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَارْزُقْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَاعْفُ عَنِّي
Ampuni aku… rahmati aku… perbaikilah yang retak dalam hidupku… angkat aku dari keterpurukan… berilah aku rezeki halal dan barakah… tunjukkan jalan-Mu… lindungi aku dari bala… maafkan aku…
Ibnu al-Qayyim berkata, “Doa ini intisari segala permintaan hamba. Ia merangkum ampunan masa lalu, rahmat saat ini, petunjuk jalan, perlindungan, dan limpahan kebaikan yang akan datang.”
Lihatlah betapa lembutnya Allah. Setelah sujud, Dia tidak langsung memerintahkanmu bangkit. Dia memberi jeda agar kau duduk dalam keheningan, meneguk rahmat-Nya perlahan, sebelum kembali bersujud lebih dalam.
Para sufi memandang duduk ini sebagai tempat ruh bernafas. Setelah tenggelam dalam fana sujud, jiwa yang luluh diberi jeda untuk merasakan baqā’—kehadiran yang kembali pada hidup, namun lebih jernih.
Jangan anggap remeh duduk di antara dua sujud. Ia mengajarkan bahwa setiap kejatuhan butuh jeda untuk bangkit, dan setiap bangkit harus disertai pengakuan akan kelemahan.
Berhentilah sejenak, biarkan hatimu merayu pada-Nya. Duduk itu bukan sekadar transisi gerak. Ia adalah mushafahātul qalb—berbisiknya hati dengan Rabb-nya, dalam lirih yang tak terdengar telinga manusia, tapi disambut langit dengan kasih sayang.
Lantas mengapa harus sujud dua kali? Kok gak cukup sekali? Ada apa dengan sujud yang kedua dalam shalat? Nantikan pembahasan berikutnya yah, bi idznillah 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
@Boediantar4 Tokoh idola yang menjadi alasan mengapa anak saya yang pertama perempuan aku beri nama Nusaibah. Semoga harapan untuk menjadi tauladan terkabul. Amin
"Jika kamu lelah, berdoalah Jika doamu belum terkabul istighfarlah "Astagfirullah innahu kana ghoffaroh" Baca 70x sore ini dan 113x malam hari, maka doamu cepat terkabul dan rizekimu dilancarkan."
KH. Maimoen Zubair
@dawuhguru
Jangan melempar lumpur ke wajah orang lain, karena belum tentu lumpur itu akan mengenai wajahnya .. namun yang sudah pasti lumpur tersebut telah mengotori tanganmu ..