≈ E. DOUWES DEKKER ≈
Berawal dari kegundahan Eduard Douwes Dekker saat menulis dengan nama pena "Multatuli" saat ia menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak, Banten, pada tahun 1856.
Pengalamannya ini dituangkan secara tajam dalam novel mahakaryanya yang sangat terkenal Max Havelaar (1860).
Inti dari pandangan Douwes Dekker mengenai kondisi tersebut dapat dirangkum dalam beberapa poin penting berikut:
1. Sistem Dual Governance (Pemerintahan Ganda)
Pada masa kolonial, Belanda tidak memerintah rakyat Jawa secara langsung di level bawah. Mereka menggunakan sistem pemerintahan tidak langsung (indirect rule). Pemerintah kolonial menaruh pejabat Belanda (seperti Residen dan Asisten Residen) berdampingan dengan penguasa lokal pribumi, yaitu para Bupati (Regent) dan kepala desa.
2. Realita Pemerasan oleh Bangsa Sendiri
Ketika bertugas di Lebak, Douwes Dekker mendapati bahwa penderitaan rakyat bukan hanya akibat kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) dari pemerintah pusat Belanda, melainkan diperparah oleh Bupati Lebak Raden Adipati Nata Kartanegara.
Kerja Rodi Berlebihan
Rakyat dipaksa bekerja di ladang-ladang pribadi Bupati tanpa dibayar, jauh melebihi batas aturan kolonial.
"Penyitaan Ternak"
Hewan ternak seperti kerbau milik warga sering diambil paksa oleh kaki tangan Bupati untuk kepentingan pribadi atau upacara adat.
Korupsi Pajak
Upeti dan pajak diperas melebihi ketentuan demi membiayai gaya hidup mewah sang Bupati yang sedang terlilit utang.
3. Mengapa "Lebih Sengsara" Dijajah Bangsa Sendiri?
Douwes Dekker melihat adanya ikatan feodal yang membuat penindasan ini menjadi sangat tragis
"Kepatuhan Buta karena Budaya"
Rakyat Jawa saat itu memiliki budaya kepatuhan yang sangat tinggi kepada pemimpin tradisional mereka (raja/bupati) yang dianggap sebagai pengayom. Ketika bupati memeras mereka, rakyat cenderung menerima nasib karena takut kualat atau menganggapnya sebagai kewajiban adat.
Belanda Menutup Mata
Pemerintah kolonial Belanda sengaja membiarkan penindasan oleh bupati ini asalkan setoran kopi dan hasil bumi ke Batavia tetap lancar. Hubungan ini saling menguntungkan bagi para penguasa, namun menghancurkan kehidupan rakyat kecil.
Douwes Dekker mengkritik keras kemunafikan ini. Baginya penindasan oleh orang asing (Belanda) memang kejam, namun penindasan yang dilakukan oleh "saudara sebangsa sendiri" jauh lebih menyakitkan karena berlindung di balik topeng adat, budaya, dan struktur feodal yang membuat rakyat tidak berdaya untuk melawan.
Ketika Douwes Dekker mencoba melaporkan korupsi dan pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak ini kepada atasannya (Residen Banten), laporannya justru ditolak dan ia malah dicopot dari jabatannya. Hal inilah yang mendorongnya keluar dari pegawai kolonial dan menulis "Max Havelaar" sebagai bentuk perlawanan.
Riset Menunjukkan Bahwa Hiburan Bisa Menjadi Alat Pengalih Perhatian Massa
Dalam bukunya Bloodlines of the Beast, Malik Bade mengangkat gagasan yang juga pernah disampaikan oleh Bill Cooper: ketika masyarakat mulai gelisah, mempertanyakan kebijakan, atau mencari kebenaran, perhatian mereka sering kali dialihkan ke hal-hal yang lebih menghibur.
Di zaman Romawi, rakyat disibukkan dengan sirkus, pertarungan gladiator, dan berbagai tontonan besar. Konsep ini dikenal sebagai bread and circuses (panem et circenses), istilah yang diperkenalkan oleh penyair Romawi Juvenal untuk menggambarkan bagaimana hiburan dan kenyamanan digunakan untuk meredam kritik publik.
Namun di era modern, pengalih perhatian itu mungkin tidak lagi berupa koloseum atau arena olahraga semata.
Kini, smartphone berada di genggaman kita hampir setiap saat. Notifikasi tanpa henti, video pendek yang tak ada habisnya, algoritma media sosial, drama selebriti, hingga tren yang berganti setiap hari berlomba-lomba merebut perhatian kita.
Bukan berarti hiburan itu buruk. Tetapi ketika seluruh perhatian kita habis untuk hal-hal yang tidak penting, kita bisa kehilangan waktu untuk berpikir kritis, memahami isu yang lebih besar, dan mempertanyakan hal-hal yang benar-benar memengaruhi hidup kita.
Penelitian dalam bidang psikologi perhatian menunjukkan bahwa manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas. Dalam ekonomi digital saat ini, perhatian telah menjadi komoditas yang diperebutkan oleh berbagai platform dan perusahaan teknologi.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah "Apa yang sedang saya tonton?"
Tetapi:
"Apa yang tidak saya lihat karena perhatian saya sedang diarahkan ke tempat lain?"
Sumber:
• Malik Bade — Bloodlines of the Beast
• Juvenal — konsep Panem et Circenses (Bread and Circuses)
• Herbert A. Simon (1971) — Designing Organizations for an Information-Rich World
• American Psychological Association (APA) — penelitian tentang perhatian dan distraksi digital
SC : IG brainhazard
Ketika rakyat sedang pusing dgn hidupnya mata uang melemah, harga kebutuhan pokok mahal, pendidikan biayanya melambung tinggi, kemudian tersadar dan mulai mengerti penyebab utama semuanya adalah sekelompok penguasa.
Kesadaran rakyat tdk akan dibiarkan begitu saja oleh sistem kekuasaan, mereka akan mengerahkan segala kelengkapan dan media buatan mereka untuk mengalihkan kesadaran tsb agar sepak terjang mereka di top level kekuasaan tidak terganggu.
Mereka bikin hiburan, gelanggang olahraga, infotainment dll untuk menyedot perhatian publik tertuju akan hal yang remeh temeh seperti ini, agar larut dalam euforia keramaian sebuah pertunjukan.
Di tengah euforia tersebut kelompok kekuasaan yang isinya hanya beberapa gelintir ini diam-diam secara keluasa tanpa tekanan berarti membuat keputusan politik, yang bahkan sangat mencekikpun rakyat akan tetep taat dan patuh dengan sistem yang mereka buat ini.
Selamat pagi, pak/bu.
Terkait laporan saya atas, tidak keluarnya uang di mesin atm, tapi saldo tetap terpotong.. Sampai saat ini saya belum dapat kabar.. 😭😭😭
Tolong di bantu selesaikan.. @BankBCA@HaloBCA
@BankBCA Selamat pagi, pak/bu.
Terkait laporan saya atas, tidak keluarnya uang di mesin atm, tapi saldo tetap terpotong. Sampai saat ini saya belum dapat kabar. Tolong di bantu selesaikan.
Thankyou BCA... 😀