@monoceros_caeli Aku bisa mendengar suara Tartaglia meledak dari belakang bersama riang langkah kakinya.
"Wah, kebetulan sekali." Pada akhirnya aku berhenti melaju, tapi masih dalam kondisi lari di tempat ketika berbalik menghadap paras bungahnya. "Kenapa kok ngejar?" β
@eonscara Keren. Kamu lihat itu, Paimon? [@teyvatmudik]. Inilah bila hidup banyak memendam dendam. Mati jadi tidak tenang.
Kebetulan aku punya teman yang bisa mengantar arwahmu ke alam sebelah. Apa kamu perlu bantuannya, Om Topi?
@cocolleii β halusinasi cantiknya kekasihku di depan mata? Namun, kalimatnya begitu formal. Collei, apakah kamu tidak mengenaliku?
β β β β β β "Boleh," jawabanku cukup singkat sebab terlalu banyak yang perlu kuproses dalam kurun waktu beberapa hari ini. "Mau bertanya apa, anak muda?"
@cocolleii β β β β β β β Gemerisik semak belukar serta dedaunan sampai mengusik telinga yang kini berdiri. Secepat satu gerakan, aku melipat jam saku, pula menengok ke sumber suara. Hahβββ? Gadis di hadapanku ini... bukankah dia Collei? Atau peri hutan tengah baik dan menyajikan β
@cocolleii β "Sini. Aku punya cerita menarik," entah kenapa aku menepuk sebelah pahaku. Bukankah itu gestur yang ambigu?! Seolah aku ingin Collei duduk di pangkuanku. Waduh! Aku langsung mengoreksinya dengan beralih menepuk tempat kosong di sebelah.
@cocolleii β tempat ini meskipun tidak ada aku. Aku membuatnya sebagai markas rahasia kita," lanjutku selagi masuk lebih dalam.
β β β β β β Aku melangkah ke dekat rak buku, mengambil satu buku dongeng, lalu duduk bersila di tangah karpet bulu memandang Collei. β