@faizcazika Bener juga ya, di bahasa Banjar penyebutan warna ungu itu biji raman, diambil dari warna biji ramania yg berwarna ungu. Tapi mungkin sekarang tidak banyak yg nyebut ungu sebagai biji raman lagi.
@rhagar088@malezetton@Brotoderan@KapudS640 Lah gw juga ngasih informasi, kalau ada orang yg punya 1 sepatu aja sukur. Dan orang itu gak bakal pilih sepatu formal sebagai sepatu pertama. Juga sepatu lari/kasual banyak yg lebih murah. Sepatu formal kepake sesekali, sepatu lari/kasual bisa dipake setiap hari.
@KapudS640 Kalau mau kondangan aja sebegitu ribetnya, maka di kampung2 bakal banyak kondangan yg sepi. Pakai sepatu lari aja dianggap salah, gimana yg di kampung yg sandalan, bahkan kadang sarungan habis dari masjid. Outfit tidak bisa disamakan, karena tergantung daerahnya. Gak usah ribet
@rhagar088@malezetton@Brotoderan@KapudS640 Gak semua orang rela beli sepatu yg jarang dipake. Sebagian orang bahkan punya 1 pasang sepatu aja sudah sukur. Nah orang yg seperti ini lebih milih sepatu yg sekiranya dia sering pakai. Dan sepatu formal kemungkinan urutan terakhir dari tipe sepatu yg akan dia beli.
@AdjieSanPutro Tergantung, kalau yg minta tujuannya buat transaksi usaha/belanja kenomor yang diminta, ya langsung dikasih.
Kalau tujuan lain ya ngomong dulu ke yang punya nomor.
@bardanslm Kalau dipikir2 sama aja Radit dan Ernest. Sama-sama cuma melakukan pekerjaan yg dia suka. Gak ada bedanya melakukan pekerjaan sampai tua karena cinta seperti Ernest. Atau melakukan pekerjaan yg disuka walau tidak menghasilkan uang seperti Radit.
@arieparikesit@330anzacparade Aku gak tau UU nya seperti apa, tapi kalau dilihat dari SS kan perdagangan di pasar itu. Kalau gak beli berarti gak ilegal kan? Kalau punya atau melihara sendiri.