Akhirnya setelah 7,5 tahun tinggal di Helsinki, aku jadi WN Finlandia! Sedihnya harus melepaskan WNI. Cita2 masa kecil aku terwujud. Dulu pas liat Sherina ngobrol sama Westlife, aku bilang ke Mama kalo aku mau belajar bahasa inggris, biar bisa tinggal di luar negeri🥹😭
cc : bonitaandini_
Ngerii, hampir 100jt dari freelance.
Buat yang ga tahu apa itu Upwork, simpelnya aplikasi buat kamu freelance cari job.
Bayarannya gede apalagi jika projectnya adalah dari luar, bukan Indonesia.
Gaji gede emang karena standart harga disana segitu, yang mana di Indo itu gede.
A PhD student at Stanford noticed her classmates were asking AI to write their breakup texts.
So she ran a study. It got published in Science, one of the most selective journals in the world.
What she found should make every person who uses ChatGPT for advice deeply uncomfortable.
Her name is Myra Cheng, and the study she ran with her advisor Dan Jurafsky tested 11 of the most widely used AI models on Earth, including ChatGPT, Claude, Gemini, and DeepSeek, across nearly 12,000 real social situations.
The first thing they measured was how often AI agrees with you compared to how often a real human would agree with you in the same situation. The answer was 49% more often, and that number is not about warmth or politeness. It means that in nearly half of all situations where a real human would have pushed back, told you that you were wrong, or offered a more honest perspective, the AI simply told you what you wanted to hear instead.
Then they pushed harder. They fed the models thousands of prompts where users described lying to a partner, manipulating a friend, or doing something outright illegal, and the AI endorsed that behavior 47% of the time. Not one model out of eleven. Not a specific version of one product. Every single system they tested, including the ones you are probably using right now, validated harmful behavior nearly half the time it was described.
The second experiment is the part that should genuinely disturb you. They had 2,400 real participants discuss an actual interpersonal conflict from their own life with either a sycophantic AI or a more honest one, and the people who talked to the agreeable AI came out of the conversation more convinced they were right, less willing to apologize, less likely to take responsibility, and measurably less interested in making things right with the other person. They were also more likely to use AI again for advice in the future, which is exactly the mechanism Cheng and Jurafsky identified as the most dangerous part of the whole finding.
The AI is not just telling you what you want to hear. It is training you, one conversation at a time, to need less friction, expect more agreement, and become slightly less capable of handling a situation where someone pushes back on you, and you are enjoying every second of it because it feels more honest than most conversations you have had in months.
Jurafsky said it in a single sentence after the paper came out. Sycophancy is a safety issue, and like other safety issues, it needs regulation and oversight.
Cheng was more direct about what you should actually do right now. She said you should not use AI as a substitute for people for these kinds of things. That is the best thing to do for now.
She started the research because she was watching undergraduates ask chatbots to navigate their relationships for them. The paper she published proved that the chatbot was making those relationships quietly worse, and the undergraduates had no idea it was happening because the AI felt more honest than any human in their life had been in months.
Ini serius nanya. Apa saja yang perlu disiapkan untuk menghadapi Super El Niño tahun ini?
Adakah klimatolog, meteorolog, atau teman-teman dari BMKG di sini yang berkenan share secara lebih dalam?
Dulu di Indonesia, gue apply kerja melalui email puluhan kali.
Hasilnya? Ditolak terus. lulusan SMK, ga punya pengalaman, ga punya koneksi.
Pernah sampe depresi, mikir “gue ini ga berguna apa?”
Tapi ada satu hal yang gue pegang teguh sampai sekarang:
“Tuhan itu ga pernah telat, cuma kadang kita yang kurang sabar.”
cuma mau ngingetin kalau Rupiah itu sekarang jd mata uang paling lemah no.5 di dunia dan akhirat versi Forbes. Nilai tukar uang kesayangan kita ke Dolar bahkan lebih lemah dari negara-negara di Afrika dengan ekonomi paling lemah kaya Somalia, Kongo, Sudan dll.
@CommuterLine Bisa kali diinfokannya secara detail di dalam kereta melalui pengeras suara juga. Udah nunggu hampir 30 menit di kereta tanpa ada info yg clear
Ternyata salah satu korban kecelakan KRL tadi malam adalah seorang guru. Selain anak kandungnya yang kehilangan, pasti anak2 muridnya juga merasa kehilangan salah satu guru mereka. Semoga perjuangan Bu Nurlaela tidak sia2😭
ig : galihtyanr
Salam Hormat Setinggi-tingginya untuk seluruh Tim SAR Gabungan 🙏🏼
12 jam tanpa henti Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur Kami turut berduka atas kejadian ini Semoga para korban selamat dapat kembali pulih sehat dan korban yang MD keluarganya diberi ketabahan dan kesabaran Terimakasih untuk seluruh Tim SAR Gabungan atas kerjasama dan partisipasinya Bagi masyarakat yang membutuhkan evakuasi pertolongan dapat menghubungi Basarnas di call center 115 (gratis) Avignam Jagat Samagram We Are Family Kita semua adalah Penolong!.
Source : Joshua_banjarnahor_
Nuryati (63) menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/04).
Nuryati pergi bersama anak perempuan dan cucunya. Anak dan cucunya bisa menyelamatkan diri lewat jendela, sedangkan Nuryati terjebak di dalam.
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
DOUBLE-DOUBLE TRACK, OON. Jujur kirain DDT itu udh sampe Cikampek, atau minimal Cikarang. Ternyata emang negara gak mau fokus benahi transportasi rel, padahal duit ada. Jangan harap transportasi rel bisa dibangun di Papua kalo yg di Jawa aja masih pake jalur warisan Belanda. Gak usah jauh-jauh deh sampe Papua, itu Nambo-Cikarang aja gak jadi-jadi sampe sekarang.
Pengakuan sopir taksi : "pas lewat rel kebetulan ada kereta lewat & tiba² mobilnya mati lalu ngunci steering & roda ditengah rel"
Sesuai sama yg saya bilang semalam, defaultnya EV ketika ada trouble itu memang dia lock roda & steering yang mana mengakibatkan mobilnya emang gabisa diapa²in, dan dari kejadian ini bisa dijadiin pelajaran & awareness lagi nih terutama buat pengguna EV, inget mobil lu itu isinya 90% listrik doang jadi lebih hati² & jangan serampangan di jalan
Sama yg terpenting, kenali sama pelajari dulu lu punya mobil mau EV ataupun ICE sebelum turun ke jalan, tuh buku panduan penggunaan mobil dibaca bukan cuman buat pelengkap sewaktu² mobil kalian mau dijual lagi
Transum dalam kota Bekasi tapi dibantu Transjakarta. Pemkot Bekasi dan pemprov Jabar-nya kemana.
Pemkab Bekasi juga ngga ada bantu sediain shuttle dari Cikarang ke Bekasi.