@TaliUdeng@tb_siswadi Kalau menurut ortunya kondisi si anak "segawat" itu ya bawa ke IGD lah. Masa dibawa ke klinik yang udh mau tutup. Jelas2 bukan klinik 24 jam.
@raykairi@priesnanda Karena kita tau atau bisa memprediksi HPP makanan tersebut. Semua bahan makanannya tersedia di pasar lokal, cara memasaknya pun kita tau. Belum lagi porsi nya dll. Bisa estimasi lah mana yg worth the price atau tidak. Jadi kalau ada yg bilang gado2 40k itu kemahalan, itu valid.
@SeekHustle Jadi, Sebagian media merasa namanya dicatut dan gak merasa tergabung dlm INMF. Ada juga yg bneran gabung INMF tapi gak aware soal agenda didalamnya, termasuk soal pertemuan dg BAKOM. Nah, jadi yg ketemu BAKOM itu siapa aja? Dari media mana aja? Itu aja yg disorot dan ditinggalkan
@warunk_digital@_katakita08 Startup ojol sudah terlalu besar untuk diabaikan, sudah menyentuh banyak aspek ekonomi kita, merubh gaya hidup dan model bisnis. Jutaan konsumen, mitra pengemudi dan pedagang makanan. Kalau tiba2 kolaps, jelas akan sangat berpengaruh ke ekonomi negara.
@sefkelik As far as i know, kerajaan melayu di semenanjung malaya itu keturunan langsung dari sriwijaya.
Budhism itu agama, bukan suku bangsa. Jadi, ya gak salah kalau sriwijaya itu memang suku bangsa melayu....
@Nasikin_MA Apa maksudnya membandingan bangunan heritage dengan rumah minimalis?
Rumah2 baru di jepang juga super minimalis, jarang yang pake sistem carpentry traditional.
Orang italia juga kalau bangun rumah baru kayaknya gak pake kolom marble berukir deh?
@mejengditwiter@jellypastaa Iya kak, kayaknya sih ikan ini termasuk bycatch atau ikan yg gak sengaja ketangkep nelayan. Makanya harganya murah, daripada dibuang mubazir. Pedagang kecil jg gamau resell ke kedainya jadi cuma bisa ditemukan di pasar besar atau tempat pelelangan ikan.
BGN ini terlalu massive. Dana nya, personelnya, penerima manfaatnya dan proyek2nya pengadaannya juga massive. Walaupun semua orang sadar mudhorot nya super duper massive, mereka terlalu besar untuk ditidakan seketika kalaupun nanti kita udah ganti presiden.
@jellypastaa@mejengditwiter Ikan ini enak, dagingnya putih, flaky, lembut gak kering. Di pasar2 tradisional di kampungku harganya murah, karena jarang yang beli. Orang2 kayaknya udh geli duluan pas liat ikannya jadi gak laku. Padahal ikan ini sodara jauhnya flounder, bahan untuk fish&chips
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
#TauGakSih
Pada "nomor" 4 digit, ada bilangan yang bisa menjadi pusat perhatian dari seluruh bilangan 0001-9998(tidak termasuk 0000,1111,2222, dan seterusnya)
Caranya mudah! Ambil sembarang bilangan yang setidaknya ada 2 digit berbeda.
Saya ingin ambil : 2005
Lakukan operasi pengurangan, dengan "digit terbesar ke terkecil" dikurangi "digit terkecil ke terbesar"
Kalau 2005, bisa kayak gini :
5200 - 0025 = 5175
7551 - 1557 = 5994
9954 - 4599 = 5355
5553 - 3555 = 1998
9981 - 1899 = 8082
8820 - 0288 = 8532
8532 - 2358 = 6174
Jika kamu menggunakan nomor dengan 4 digit lain, hasil akhirnya akan sama saja berujung pada 6174.
Ini namanya "Konstanta Kaprekar", sihir ajaib ala Matematika.