And i wept both night and day
And she wiped my tears away
And i wept both day and night
And hid from her my hearts delight
So she took her wings, and fled
Then the morn blushed rosy red
I dried my tears, armed my fears
With ten thousand shields and spears
-William Blake-
Sebagai Warna-
S'bagai Hitam, kau jelaskan malam perias renungan
S'bagai Putih, kau jelaskan cahaya pembaca yang kasat
S'bagai Kelabu, kau jelaskan ragu dibawah dagu
S'bagai Warna, Ku terima segala pemaknaan
S'bagai Warna, Ku terima segala perasaan
Dan hidup tak akan mudah
Namun kan sanggup hadapi
Siang ini, seorang lelaki tangguh meneteskan air mata dihadap wajah yang biasanya berserah
Wanita itu berubah jadi pundak yang tegar ketika lelakinya roboh karena takdir
Maaf bu, aku tak bisa lagi cari uang, tanganku patah...
Ketakutan pada waktu bukan pada umurku yang tersisa
Namun,
Hal-hal mulai terbukti
Aku dilucuti dan tak berarti
Perlahan mati dari keyakinan
Kemudian keburukan menang
Berasa diabadikan dengan hardik
Dipahatkan pada prasasti kurang apik
Yang tak boleh kututup akhirannya dengan maaf
Bakal terjadi apa esok hari?
Kekecewaan, salah satu jawaban yang bisa kuberi
Kepastian dan kebahagiaan adalah jawaban yang hanya berhak diberikan tuhan
Dan aku tetap akan termenung di taman bunga
Dimana layu dan mekar adalah hal biasa…
Di perpustakaan, kau temukan diriku adalah buku usang tak berjudul. Dalam tiap lembarnya cuma kalimat rimpang, klausa bodoh, semantiknya nirmakna.
Sejak dulu terbiasa tak dibaca…
Danau di masa depan adalah muara anak sungai sepanjang bumi
Menjelajahi berbagai tanah kehidupan
Sebelum akhirnya terkumpul dan jatuh
Menjadi masa kini, jati dari diri sendiri
Ia tanya kepada cerminan bulan dari bening permukaannya
Apakah aku ini akan kering dan tak bermakna?
Terhadap proses berat, acap kali ingin kembali dan menyandarkan semua beban yang sangat mungkin untuk tak dipilih. Tetapi ringanpun tak selau indah, api yang membara misal, tak ada yang mau mendekatinya…
Sesudah tadi, hari depan tak kunjung meyakinkan. Hanya antara di langit nasibku tiba tiba muncul waluku pertanda mujur datang, ataukah paceklik panjang…. Sedang tetap kutanam walau sedikit harap, perjuangan bisa kita tuai kala bersemi.
Sejak dulu memang tak pernah percaya penuh pada penglihatanku kasih, Terkadang ia menyilaukan pandangan darimu. Hati mana yang teguh selain ku, Engkaulah matahari, pencerah dari segala yang kasat, mana mungkinku berpaling pada yang tergantung padamu...
Sementara, Mengingat hari-hari esok adalah proses paling kubenci saat ini. Semua termaafkan tidak lain adalah hari-hari esok juga merupakan anak tangga menuju hari depan, dimana pertemuan denganmu yang ku impikan datang, kekasih...
16/9/23
Pertemuan yang kau ijinkan setelah tiga tahun...
Dan benar saja hatiku masih tersimpan padamu,
Setelah kita berpisah kembali, ku lanjutkan pintaku pada Tuhan,
"Tolong jadikanlah orang lain menggunakan hatinya untukku, karena telah lama hatiku sendiri tidak aku kuasai"
Bahkan akhir dalam jumpa pun tak seindah pelabuhan pada kapal, disela dermaganya terdengar haru tangisan para sanak yang akan jauhh... Sedangkan kita hanya sepi...
Tirakatku pada menjamah bidadari surga dunia adalah bagian dari doa-doa ku untukmu kasih. Agar dirimu terlindung kepada hal-hal seperti itu pula. Karena ku dan kau terikat dalam benang karma. Mungkin sedikit kusut sekarang. Sampai saat itu, semoga kau rajut kembali...
Kesakitan luar biasa adalah peralihan daripadamu kepada yang tak seharusnya. Rerumputan dan anggrek berhenti bersemi, sebab cinta tak lagi sebening embun air mataku yang menjadi mata air. Sebatas hujan asam yang turun karena dendam.
-JR-
Belajar banyak dari mendengar, bahwa pusat segalanya tak harus darimu. Seringkali harus tempatkan diri pada tepian. Agar lingkaran terbangun apik, harmoni kehidupan terjalin, Terhindarlah segala terkotak-kotakkan