IHSG… (Indeks Harga Saham Gorengan) Review Ambisi Mercusuar Direktur Penilaian Bursa Negeri Konoha
Dulu, IHSG itu singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Sekarang? investor retail mulai getir: “Bukan gabungan lagi bang… itu Indeks Harga Saham Gorengan."
Penulis awalnya mengira fenomena saham mercusuar ala negeri Konoha ini hanyalah euforia sementara. Setiap negara berkembang pasti pernah punya fase terlalu percaya diri.
Tapi yang terjadi di Konoha benar-benar berbeda. Ini terlihat proyek AMBISI Seseorang.
Ambisi untuk menciptakan raksasa kapitalisasi pasar dalam waktu singkat. Ambisi mengejar kebesaran instan. Ambisi agar Bursa Konoha terlihat megah di atas kertas, walaupun fondasinya ternyata kopong.
Hasilnya? *Bertumbangan.*
Satu per satu mercusuar kebanggaan roboh di depan publik. Saham-saham kapitalisasi jumbo tanpa kualitas fundamental memadai akhirnya tersungkur brutal.
PER ratusan kali yang dulu dipromosikan seolah lambang masa depan, kini justru menjadi monumen keserakahan pasar.
Lucunya, dulu semua orang yang mempertanyakan valuasi dianggap: “tidak mengerti future growth.”
Padahal future-nya saja belum jelas, tapi *valuasinya sudah sampai planet Jupiter.*
War biasaaa.
Perusahaan laba tipis. Arus kas mepet. Likuiditas tipis karena free float buatan. Tapi market cap bisa segede negara kecil.
Dan semua itu diloloskan, dirayakan, bahkan dijadikan simbol keberhasilan pencatatan. Sang Direktur Penilaian pun Bangga lagi selalu ngomong di koran koran tentang ambisi "Mercusuarnya"
Kini dunia melihat hasilnya.
MSCI kecewa. Investor asing minggir perlahan. Retail lokal babak belur jadi pahlawan bursa. Karena pasar modal Konoha mulai terlihat seperti tempat di mana kapitalisasi bisa dibangun lebih cepat daripada kualitas bisnisnya sendiri.
Dan ironi terbesar?
Ini terjadi di ekonomi terbesar se wilayah Asia Tenggara. Negara dengan populasi raksasa. Negara dengan potensi pertumbuhan luar biasa.
Tapi IPO tahun ini? Satu. *Ya… satu. Sebiji semata.* Ada Direktur pencatatan tapi IPO cuma satu. Ngapain kerjanya?
Ini seperti kepala bandara internasional yang bangga punya terminal mewah tapi pesawatnya cuma lewat satu kali sehari.
Sebaliknya, yang tumbuh subur justru saham-saham gorengan berkedok mercusuar nasional. Saham-saham konglomerasi yang bergerak liar seperti roller coaster.
Naiknya bikin bingung.
Turunnya bikin Bank sentral ikut migrain.
Karena ketika saham-saham tertentu dijadikan collateral, simbol status, mesin leverage, dan alat permainan valuasi, maka kejatuhannya bukan lagi sekadar masalah investor nyangkut. Ini bisa menjadi ancaman sistemik.
Biaya dana naik. Kepercayaan pasar turun. Likuiditas mengetat. Yield obligasi terdorong naik. Bahkan Bunga bank sentral hari ini harus naik karena ambisi sang direktur
Publik bahkan mulai bercanda bahwa BI Rate naik bukan cuma melawan inflasi… tapi berusaha menenangkan efek domino kejatuhan mercusuar kebanggaan Bursa Negeri Konoha.
Lucu? Iya. Tapi lucu yang bikin negara berkeringat dingin.
Dan di tengah semua kekacauan itu, publik disuguhkan cerita mengenai HSC. Bagaimana pasar seolah diperlakukan seperti arena pribadi. Tentang pola-pola yang begitu vulgar sampai investor retail pun bisa melihat ada sesuatu yang tidak sehat.
Kalau semua ini benar terjadi, maka masalahnya sudah bukan sekadar volatilitas pasar. Ini soal integritas. Ini soal kepercayaan terhadap institusi.
Mungkin memang sudah waktunya OJK serta Bareskrim Polri mulai memanggil dan memeriksa sang Direktur Penilaian Bursa Negeri Konoha. Apalagi masa jabatannya disebut-sebut akan segera berakhir. Publik berhak tahu: apakah proyek mercusuar selama dua tahun terakhir ini benar-benar murni kebijakan profesional… atau justru ambisi pribadi yang dipaksakan kepada satu pasar modal penuh.
Yang dipermalukan bukan hanya investor retail. Tapi satu negeri.
Dan mungkin hari ini pasar mulai sadar: Tidak semua yang disebut “mercusuar” ternyata mampu bertahan saat ombak datang.
Happy Investing
JV
🧠 “Saham $DADA 230 Ribu? Logika Investor Kita Sudah Jadi BATU?”
Beberapa hari terakhir, Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US melihat dunia saham Indonesia kembali bergetar. Bukan karena emiten baru listing, bukan karena suku bunga turun — tapi karena rumor saham DADA akan terbang ke Rp230.000 per lembar. Bener bener diluar nalar bahkan untuk saya yang mantan IB Global dengan segala kisah nya.
Entah siapa dalangnya, tapi rumor ini menyebar lebih cepat dari promo buy 1 get 3 di grup Telegram. Dan yang lebih bikin miris: banyak yang percaya.
*🪄 “Vanguard Datang, Katanya”*
“Bro, ini sinyal besar. Vanguard masuk DADA!”
Begitu kata para influencer saham level sakti mandraguna di X dan YouTube. Mereka seperti mempertontonkan kebodohan diri mereka sendiri.
Masalahnya, yang mereka sebut *“Vanguard”* itu kemungkinan besar cuma reksa dana global yang portofolionya nyenggol semua saham di bursa dunia — termasuk DADA — dengan *porsi setipis tisu bekas seminar investasi*.
Bukan kaya hitungan mereka yang seolah olah semua dana Vanguard dibeli saham DADA hingga mencapai angka 230 ribu selembar. Memang sebodoh itu apa yah IB Global dunia mau beli semua dana kelolaan mereka ke satu saham. Bener bener deh saya sebagai mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US geregetan baca ke *tololan* seperti itu sampai terpanggil untuk buat tulisan ini
Tapi seakan udh gak ada urat malu maka logika mereka (Influencer, media, analis abal Abal) abaikan. Yang penting “Big fund masuk”, langsung disulap jadi “to the moon!” Padahal, kalau logika selevel ini dipakai di Wall Street, Nasdaq sudah jadi pasar klenik.
*📰 “Analis & Media: Dari Financial Literacy ke Financial Fanfiction”*
Tak berhenti di situ, muncul analis-analis karbitan dan media-media ekonomi yang mungkin lebih cocok jadi content creator horoskop.
Mereka menulis dengan yakin:
“Saham DADA berpotensi naik ke Rp230 ribu, didukung volume dan minat investor asing.”
Volume? Bisa jadi itu cuma efek nyangkut berjamaah.
Minat investor asing? Ya, mungkin karena mereka salah klik waktu rebalancing ETF.
Dan lebih ajaib lagi, ketika *pemegang saham pengendali menjual sahamnya, berita itu justru diputar balik jadi kabar positif:*
“Langkah strategis untuk meningkatkan free float.”
*🤯 Free float?*
Iya, karena jualan dianggap “berbagi kesempatan” — padahal mungkin yang dijual bukan peluang, tapi kesadaran logika.
Kalau besok Komisarisnya resign, mungkin juga akan ditulis:
“Langkah transformasional menuju efisiensi kepemimpinan.”
*🏛️ “Regulator: Antara Diam, Bingung, atau Sudah Pasrah?”*
Sementara itu, OJK dan BEI tampak adem-ayem.
Seolah berita absurd semacam ini adalah bagian dari “ekosistem pasar dinamis.”
Padahal ini sudah masuk kategori ekosistem kebodohan dan penipuan terstruktur.
Kalau rumor Rp230 ribu bisa lewat tanpa teguran, jangan kaget kalau besok muncul berita:
“Saham warung kopi tetangga siap IPO, dikabarkan diminati Warren Buffett karena vibes-nya mirip See’s Candies.”
*💡 Akhir Kata: Saatnya Logika, Bukan Legenda*
Saham bukan ajang undian, bukan ritual, dan bukan tempat mencari wahyu. Harga tidak naik karena “sentimen spiritual”, tapi karena *fundamental dan rasionalitas.*
Kalau ada yang percaya DADA bisa ke Rp230 ribu, padahal pemegang sahamnya saja lagi jualan, maka hanya ada dua kemungkinan:
1. Mereka nggak baca laporan keuangan, atau
2. Mereka memang sudah graduated cum laude dari Universitas Kebodohan Finansial Indonesia (UKFI).
*💬Kesimpulan:*
Pasar modal Indonesia butuh literasi, bukan halusinasi.
Butuh akal sehat, bukan “feeling bandar.” Dan kalau logika sudah hilang, harga bukan lagi refleksi nilai — tapi refleksi kelucuan kolektif.
Jadi, sebelum ikut-ikutan beli rumor, ingat satu hal:
“Di bursa, yang paling cepat naik bukan harga saham… tapi tingkat kebodohan kalau logika ditinggal.”
Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi catatan kita bersama supaya logika itu dipake ...
Happy Investing,
JV
*Purbayanomics vs Srimulyanomics: Duel Dua Menkeu*
Kemarin kebeneran Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US ikut acara pemaparan dari Kemenkeu baru kita. Sebagai sesama mantan IB memang pak Menkeu punya pandangan yang sederhana dan gak ribet. Dulu waktu masih kuliah di Atmajaya tahun 2000 saya suka sekali baca tulisan beliau di kolom Tajuk Rencana Kompas dan sering melihat ulasan dia di riset riset sekuritas yang waktu itu untuk dapat susahnya minta ampun. Melihat beliau dan Bu Sri saya jadi keinget kalau Marvel punya Multiverse of Madness, Indonesia punya Multiverse of Menkeu. Bedanya, di sini yang duel bukan superhero, tapi super calculator—alat sakti para menteri keuangan. Mari kita sambut: *Purbayanomics vs Srimulyanomics.*
*Srimulyanomics: Defisit Itu Seni, Pajak Itu Romansa*
Era Sri Mulyani dikenal dengan tiga kata kunci: defisit, pajak, dan presentasi keren di Davos.
*1. Defisit Anggaran* Buat Sri Mulyani defisit itu bukan masalah, asal bisa dijelaskan dengan grafik cakep di PowerPoint. Seolah-olah, kalau defisitnya miring ke kanan sedikit, investor langsung jatuh hati.
*2. Pajak* Srimulyanomics adalah masa ketika rakyat merasa tiap bulan ada “cinta segitiga” antara gaji, pajak, dan kebutuhan hidup. Pajak dipungut dengan gaya “tough love”—sakit sih, tapi katanya demi kebaikan bangsa.
*3. Kecerdasan Diplomasi* Srimulyanomics itu kayak anak pintar di kelas yang selalu dipanggil ikut lomba debat. Indonesia tampak elegan di forum global, meski di rumah masih bingung bayar utang kartu kredit (alias SBN).
*Purbayanomics: Optimisme di Tengah Tekanan*
Sekarang panggung bergeser ke Purbaya, dan lahirlah aliran baru: Purbayanomics, yang lebih pragmatis tapi tetap penuh warna.
*1. Subsidi dan Stimulus* Kalau Srimulyanomics sering bicara tentang “mengurangi subsidi”, Purbayanomics datang dengan gaya Robin Hood: *“lebih baik rakyat dikasih napas dulu, baru bicara reformasi.”*
*2. Utang dengan Rasa Nasionalis* Kalau dulu utang dikemas dalam istilah sovereign bond, sekarang lebih sering dibungkus dengan kata “demi kedaulatan”. Utangnya tetap ada, tapi branding lebih patriotik.
*3. Pragmatis, bukan Perfeksionis*
Purbayanomics lebih fokus ke “asal jalan dulu”—kalau Srimulyanomics itu perfeksionis dengan angka, Purbayanomics kayak bapak-bapak yang bilang: *“yang penting jalan, detailnya belakangan.* Walaupun nanti dimarahin istri wkwk
*Duel Aliran: Siapa Menang?*
Srimulyanomics unggul di branding global, bikin investor luar negeri kepincut.
Purbayanomics unggul di sentuhan lokal, bikin rakyat kecil merasa (sedikit) lebih diperhatikan.
Ibarat kopi:
Srimulyanomics itu espresso elegan, pahit tapi berkelas.
Purbayanomics itu kopi sachet 3-in-1, manis, cepat, dan bisa dinikmati semua kalangan.
Indonesia Butuh Campuran
Mungkin yang terbaik bukan memilih salah satu, tapi bikin blend. Campuran espresso ala Srimulyani dengan 3-in-1 ala Purbaya. Hasilnya? Ekonomi yang kuat, tapi tetap bisa diminum rakyat tanpa bikin perut sakit.
Manapun aliran anda Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US ini berpandangan memang sekarang saatnya pelonggaran dilakukan. Inflasi rendah di sepanjang tahun 2025 ini menjadi bukti lesunya permintaan akibat keringnya likuiditas.
Namun demikian setelah mesin ekonomi bekerja kembali maka jangan kaget maka inflasi akan meningkat dan disitu pengetatan dilakukan kembali. Begitu aja terus siklus ekonomi berulang
Satu yang menjadi catatan tambahan mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US adalah kita ditangan yang benar. Baik ibu Sri Mulyani maupun pak Purbaya.
Semoga memberikan pencerahan dan salam dari mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US
Happy Investing
JV
*FCA dan UMA: Mekanisme “Inovatif” yang Bikin IB Global Hengkang*
Minggu lalu, direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) terbang ke Shanghai, lanjut ke Hongkong. Katanya mau ketemu investor global. Tapi pertanyaannya: memang harus sejauh itu? Di Jakarta banyak kok mantan investment banker (IB) global—yang bukan cuma pernah ngopi di Wall Street, tapi juga ikut nyusun deal bernilai miliaran dolar. Tapi ya mungkin memang masih ada budaya inlander di negeri kita: yang luar negeri selalu lebih keren, lebih valid, lebih "investable."
Ironisnya, anak bangsa kita justru sering lebih dihargai oleh investor asing ketimbang institusi pasar modal lokal. Padahal banyak di antara mereka ini yang ngerti struktur derivatif lebih dari paham harga pecel lele seperti dugaan para direksi bursa.
Nah, salah satu misi ke Hongkong kabarnya karena MSCI ogah memasukkan saham Indonesia yang pernah kena FCA. Mereka juga bingung: "UMA ini apaan sih standarnya?" Bahkan BlackRock—yang katanya mau standby buyer untuk salah satu holding Perusahaan besar pak PP—ikut mundur karena status saham yang ngambang antara "misterius" dan "membingungkan." Ala FCA kedepannya. Sempat nongol di E-IPO langsung gak jadi karena status Blackrock masih ngambang.
Dua true IB Global pun bertanya, “Siapa yang bikin konsep FCA? Dan UMA itu rujukannya apa?” Jawaban dari pihak IDX: “Sudah studi ke luar negeri, ini mirroring dari praktik global.��� Lalu investor nanya balik, “Pasar mana tuh yang mirip?” Eh, ternyata… nggak ada. Asli, gak ketemu pasarnya.
Jadi, rombongan BEI pulang dengan tangan kosong. Malah berita kepergiannya lebih heboh daripada berita kepulangannya, malah gak ada beritanya Ding wkwk. Di mata investor global, ini kayak ngelihat dosen bikin kebijakan ujian tapi lupa nyusun kisi-kisi.
Sebagai mantan IB Global yang malang melintang dari Sin sampai US, saya bisa bilang: *investor asing bukan cuma lari karena sentimen, tapi karena bingung.* Dalam lima tahun terakhir, sudah ada Citigroup, Morgan Stanley, Merrill Lynch, Deutsche Sekuritas, dan Credit Suisse angkat kaki dari pasar Indonesia. *Dan ini bukan karena mereka gak cinta kita, tapi karena sinyal pasarnya makin absurd.*
Kebijakan seperti FCA dan UMA ini—sebagus apapun niatnya—kalau gak transparan dan gak inline sama praktik global, ya hasilnya cuma jadi noise. Bagi investor, likuiditas dan kejelasan adalah harga mati. Kalau saham tiba-tiba dikasih label “FCA” tanpa logika yang bisa di-backtest, ya jangan salah kalau masuk watchlist… buat dihindari.
Dan mohon maaf, *pasar efisien bukan pasar yang penuh regulasi “dadakan.”* Pasar yang disukai investor global itu pasar yang predictable, bisa dibaca, dan konsisten. Bahkan Trump yang superpower pun gak bisa seenaknya ngatur pasar global. Akhirnya ya harus kompromi juga sama China—walau sebelumnya mulutnya kayak petasan.
Yang bikin kaget pagi ini: ternyata direksi BEI belum punya sertifikasi global. CK CK CK. Lah, jadi kepala cabang bank aja harus ikut pelatihan dan uji sertifikasi. Ini yang ngatur pasar modal malah belum tersertifikasi internasional? Pantas aja waktu ditanya soal FCA dan UMA, jawabannya kayak Google Translate dari Bahasa Jawa ke Latin.
Intinya, niat baik sih bagus. Tapi pasar itu bukan soal niat. Ini soal kredibilitas. Semoga BEI ke depannya bisa lebih market-oriented, bukan hanya regulation-heavy. Karena kalau tidak, jangan kaget kalau pasar kita jadi destinasi terakhir investor global.
Salam dari mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US dan sampai sekarang masih tahu cara baca term sheet dan valuasi convertible bond.
Happy Investing!
– JV
*CERDIK MEMILIH SAHAM ....* (Ala Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US)
Pengalaman malang melintang mengajarkan kalo memilih saham itu seperti milih pasangan: kelihatannya semua bagus di awal, tapi lama-lama ada yang mulai bikin jantung deg-degan... *entah karena cinta, atau karena minus 30%.* Eaaaaa
Nah, supaya gak jadi korban cinta buta pasar modal maka mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US ini punya beberapa tips, berikut tips memilih saham dengan cerdik.
* *Cek Fundamental, Jangan Cuma Skincare :* Kalau anda bisa menghafal kandungan skincare sampai ke niacinamide-nya, masa laporan keuangan emiten aja gak dibaca? Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US biasanya lihat laba bersih, ROE, utang, dan arus kas. Kalau neracanya kayak dompet akhir bulan, mending minggir dulu gan.
* *Hindari “Saham Gocap” yang Janjinya Setinggi Surga :* Kalau ada yang bilang, “Bro, ini saham 50 perak bakal jadi 5.000, gue mimpi semalam,” kamu jawab aja, “Gue juga mimpi ketemu Elon Musk, tapi gak gue beli Tesla.” Saham murah belum tentu murah hati. Kadang itu jebakan Batman... *Tapi karena Batman gak ada di pasar maka itu pasti jebakan 'bandar'.*
* *Tanya Diri Sendiri: Ini Saham, Bukan Gebetan :* Kalau udah beli terus tiap menit buka aplikasi sekuritas, jantung berdebar, pengen nge-chat broker, dan stalking forum saham... Selamat, anda lagi baper. Tapi inget, baperan di saham bisa bikin nyesek dompet kaya baperan ama gebetan yang maunya duit mulu
* *Lihat Sektor, Bukan Cuma Follower :* Sektor bank lagi naik, kamu malah beli perusahaan *yang jual kopi gak jelas dengan janji banyakin outlet,* emang jual kopi segampang itu? Atau saham saham yang bagi Deviden jumbo sedang manggung eh malah kamu sibuk Ama *IPO rumah sakit kecil di Sukabumi, dengan laba awur awuran dan yang bisa IPO karena punya mantan wapres doang.* Cerdaslah melihat tren. Kalau semua orang lagi ke arah mobil listrik, jangan kamu bertahan di saham gak jelas kaya diatas.
* *Cek Pemiliknya – Jangan Sampai Sahamnya Kayak Warung Kopi Tetangga :* Ada saham yang pemiliknya gonta-ganti kayak admin grup WA keluarga. Kalau komisaris dan direksi hobi resign berjamaah, itu kode alam: "Keluar juga, Bro!"
* *Jangan Ikut-ikutan Influencer yang Nge-chart Sambil Ngopi :* Ingat: "Cuan adalah milik bersama, nyangkut tanggung jawab pribadi." Influencer bilang "ini akan breakout", terus kamu beli. Eh, yang breakout malah dompet kamu. Mending lebih percaya sama mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US kaya aku yang tulisannya ada isi dan gak omdo.
* *Diversifikasi: Jangan Taruh Semua Telur di Satu Warteg :* Investasi itu kayak nasi padang. Harus komplit. Ada saham sektor keuangan, ada konsumer, ada energi. Jangan semua taruh di saham gorengan. Nanti perut (dan rekening) anda panas.
Penutup: Cerdas + Santai = Cuan Investasi saham gak harus serius kayak dosen ngasih kuliah. Tapi juga jangan asal kayak pilih jajanan di warung.
Dengan sedikit logika, banyak riset, dan selera humor yang sehat, anda bisa jadi investor cerdik — bukan cuma yang ikut-ikutan tren.
Salam dari mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US
JV
99% of people think the Bible never changed.
But Ethiopia's version is older, larger, & contains lost books revealing:
• Lost prophecies
• Hidden histories
• Stories Western Christianity concealed
Here's what's inside the Ethiopian Bible (& why it was kept hidden):
NILAI SEBUAH TRUST ....
Seberapa berhargakah kepercayaan (Trust)? Ijinkan Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US ini bercerita. Kebeneran hari Sabtu kemarin saya dan istri ke Gandaria untuk beli HP pengganti HP Oppo saya yang sudah berusia 5 tahun. Hp lama tersebut masih bagus, berfungsi, dan sebenernya masih bisa digunakan. Hanya karena sudah 5 tahun maka waktunya diganti saja supaya update dengan beragam teknologi terkini yang ada AI nya. Siapa tahu saja perut buncit saya bisa langsung six pack ketika difoto. Walau cuma foto tapi gpp lah dari pada tidak hehehe.
Nah singkat cerita kami pun ke gerai OPPO dan beli seri Find N3 yang bisa dilipet. Jaman canggih bukan baju aja dilipet, hape juga bisa rupanya. Di gerai OPPO hape tersebut dijual 19,9 JT padahal di Tokopedia HP yang sama dijual 16 jutaan. Tapi karena beli hape lumayan mahal dan harus bersama istri maka istri selalu maunya membeli di Gerai resmi. Katanya lebih "terpercaya". Memang sih kami dikasih ngopi gratis ... dan itu kopi termahal karena harganya hampir 4 juta lebih sesuai selisih harga hape di Gerai dan di Toped.
Cerita nyata dari Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US diatas jadi bukti kuat arti dari sebuah "Kepercayaan" bagi setiap kita. Bagi kebanyakan orang harga murah belum tentu jadi pilihan karena mereka tidak percaya terhadap barang tersebut. Sebaliknya untuk sebuah sesuatu yang mereka percayai bagus maka setiap orang pasti mau beli yang bagus walaupun harga mahal selangit. Coba saja misalnya kalau ada dana unlimited bukankah setiap kita mimpinya punya mobil BMW atau Mercy? Padahal kalo secara fitur dll masih banyak yang sama "seperti" BMW dan Mercy dengan harga jauh lebih murah.
Sama dengan pasar keuangan dan pasar modal. Tanpa Kepercayaan uang apapun di dunia ini hanyalah kertas semata yang di print. Nilai intrinsik dari mata uang hanya bisa muncul ketika uang tersebut "Dipercaya" dalam kegiatan menghasilkan barang maupun jasa. Tanpa Kepercayaan yah kita balik ke jaman bayar gaji pake garam atau pakai emas atau bahkan dengan cara barter.
Sayangnya sekarang pasar modal Indonesia sedang tidak dipercaya oleh investor. Yang mungkin awalnya tidak dipercaya investor asing sekarang merambah investor publik juga mulai tidak percaya. Belum lagi pernyataan pasar saham adalah judi ditarik oleh pemerintah, muncul lagi Video yang meremehkan pasar modal bagi ekonomi Indonesia. Seolah olah pasar modal dan pasar kelontong dua hal yang tidak berhubungan. Bukannya membangun kepercayaan pihak regulator pun terpancing dalam upaya cepat dengan kebijakan "Buy-back tanpa RUPS" yang tergesa gesa. Seolah olah kepercayaan mau digantikan atau bahkan dilawan dengan uang semata. Bisakah?
Tidak bisa. Saya sebagai Mantan IB Global yang Malang Melintang di Sin dan US paham betul tidak ada uang seberapapun yang bisa membeli atau mengganti arti dari kepercayaan. Tidak semua soal uang, Boby Saputra aja gak bisa beli acara Indonesia Idol walaupun bapaknya orang terkaya ke 7 di dunia, padahal dia mau ngetop. Aksi Buy-back tanpa RUPS hanya akan menjadi sentilan kecil saja bagi pasar modal yang tidak ada artinya.
Bayangkan jika saya pemilik perusahaan dengan misal uang Rp 5T lalu direksi dengan seenaknya memutuskan uang yang ada dipakai untuk beli balik saham perusahaan, apakah saya tidak marah? Bukankan kalo punya uang sebanyak itu mendingan dia bagi Deviden ke saya sebagai pemilik perusahaan? Urusan saya mau nambah saham atau mau pake liburan atau beli mobil Konig itu urusan saya. Masa uang investor dipakai beli saham yang harganya bisa naik turun? Ini di perusahaan swasta.
Di BUMN lebih parah lagi, kalo ada uang misalnya di $BBRI lalu direksi main pake itu uang untuk beli saham dan masuk saham treasury apakah anda tidak marah? Kalo itu saham turun lalu saham treasury mencatatkan kerugian bukankah itu sudah merugikan negara? Korupsikah? Dirut Pertamina aja masuk penjara ... Klik lebih lanjut https://t.co/c7xyDk5QrJ
SAHAM BUKAN JUDI ....
Saya pribadi mendukung setiap pemerintahan yang memang sudah ditetapkan oleh sistem yang ada. Bagi saya sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US siapapun orangnya jika terbentuk dalam sistem yang matang maka akan ada keseimbangan untuk saling menjaga. Toh pada akhirnya kemajuan sebuah bangsa juga memajukan orang orang di dalamnya juga. Dengan alasan ini maka sata walaupun ikut mendukung tetapi juga bisa ikut mengingatkan agar menjadi lebih baik.
Khusus untuk tulisan kali ini maka saya akan fokus pada pernyataan pak Presiden RI bpk Prabowo yang dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa "Pasar saham adalah Judi...." Pada titik inilah mulainya trend koreksi di pasar nodal Indonesia. Baik itu pasar saham maupun pasar surat hutang negara. Bayangkan efek dari pernyataan tersebut di negara hukum yang melarang perjudian maka pernyataan tersebut jelas jelas menjadi petunjuk bahwa pasar saham adalah Ilegal. Bukankah ini menimbulkan ketakutan banyak pihak khususnya investor? Bayangkan jika kami investor ikut dalam kegiatan berpotensi ilegal saja kami akan lari tunggang langgang. Jadi tidak aneh apabila banyak Investor lari tunggang langgang meninggalkan Indonesia takut nanti ditangkap sama Polisi atau pihak berwajib lainnya. Bahkan bagi para insan pasar modal Indonesia penyataan ini juga sangat menyakitkan karena itu berarti jutaan pelaku industri pasar modal menghidupi keluarga mereka dari uang Judi yang adalah haram hukumnya. Menyeramkan sekali bukan?
Padahal saya dan jutaan pelaku di pasar modal sejatinya adalah pahlawan dengan cara kami sendiri. Pasar modal dan semua yang didalamnya berperan dalam menyediakan likuiditas bagi instrumen investasi yang ada. Bahkan pasar saham yang katanya "Judi" itu juga ikut dinikmati oleh ratusan saham perushaaan BUMN yang ada di Indonesia termasuk ketika pemerintah harus mengeluarkan surat hutang setiap bulannya. Coba saja lihat saham $BBRI musalnya yang 47% nya dimiliki hampir 700 ribu investor. Bukankah ini berarti ada 700 rubu orang yang menjadi agen lukuiditas saham BBRI yang menjadi pahlawan untuk saham BUMN ini. Bayangkan tanpa mereka berapa harga BBRI yang katanya adalah salah satu bank terbesar di Asia Tenggara.
Tanpa kami insan pasar modal maka likuditas itu tidak pernah ada. Dan dalam hukum investasi maka jika likuiditas tidak tersedia maka investor akan meminta Return atau keuntungan lebih tinggi ketika berinvestasi di sebuah kesempatan. Demikian sebaliknya, ketika likuiditas tersedia maka investor rela untuk mendapatkan return lebih kecil untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah kesempatan investasi.
Tidak percaya? coba saja lihat jika anda menaruh uang di deposito maka cukup dengan bunga 4% saja anda mungkin tertarik karena anda tahu bank tempat anda menaruh deposito bisa menyediakan dana kapanpun anda berniat mencairkan sesuai rencana. Akan tetapi ketika anda masuk misalnya ke sebuah bisnis buat pabrik maka setidaknya anda baru akan tertarik jika potensi return nya misal 15%. Jauuh sekali kan efek likuiditas itu bagi permintaan hasil atau return dari investor? Jadi jangan anggap remeh pasar modal dengan likuiditasnya. Tanpa pasar modal anda dan saya berarti harus membayar bunga lebih tinggi untuk semua cicilan kita, pada akhirnya harga barang juga akan menjadi lebih tinggi karena biaya modal jadi naik akibat kenaikan expected return dari para pemodal. Implikasi panjang ini harus disampaikan kepada para penasihat bpk Presiden dan sekitarnya.
Sebagai. Mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US saya pribadi pernah terlibat sebagai penasihat ahli di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) kementrian keuangan era SBY. Saya paham betul bagaimana sebuah kebijakan digodok, didebat, dan dikritisi sebelum keluar kepada publik. Namun demikian mungkin 80% kebijakan yang keluar pada akhirnya adalah kebijakan populis yang memang disukai masyarakat. Dalam pernyataan "Pasar saham adalah Judi ..." SELENGKAPNYA .... https://t.co/y0Bp9gPqrN
IHSG Minus 5% ....
Mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US cukup kaget melihat IHSG terpukul sampai 5% begini. Dimotori sama saham saham konglomerasi yang OVERVALUE karena gorengan.
Pengalaman puluhan tahun sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US ini hanya bisa terjadi karena ada aksi FORCE SELL saham saham yang jadi jaminan di bank global. Buangannya hajar kiri semua selama ada bid dihajar. Pengalaman saya juga menyatakan belum waktunya agresif. Jng kasih ruang yang force sell jualan dulu.
Salam dari mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US
JV
Kebijakan jaman Covid dengan penurunan 5% dilakukan trading halt kok masih berlaku yah?
Di sistem trading asing tiba tiba posisi jadi no bid kalo begini. Bener bener deh IDX
Salam dari mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US
JV
INVESTASI NILAI ... (Menyikapi Kejatuhan Pasar Saham Indonesia)
Sebuah paradoks di pasar modal kira kira sebagai berikut : "Pasar itu sangat rasional dalam jangka panjang, tetapi dalam jangka pendek seolah olah semua pada Gila ..."
Saya pribadi sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US sejatinya membidani kelahiran beberapa emiten yang ada di bursa saham Indonesia. Sebut saja $ELIT salah satu anak lahiran di pasar modal dari saya dan team. Masih ingat ketika itu pertama kami masuk penjualan perusahaan ini hanya sekitar 42 Milyar saja, dikelola oleh anak anak muda berpotensi, dan walaupun kantornya ngontrak di Fatmawati tapi semangatnya gedee sekali.
Kemampuan perusahaan menghasilkan cash flow operasional selalu bertumbuh dari tahun ke tahun, walaupun sayangnya cash flow ini muncul menjelang akhir tahun karena maklum perusahaan banyak mengerjakan proyek pemerintah yang bayarnya numpuk di akhir tahun. Ketika kita bantu benahi dan siapkan untuk IPO kebeneran Indonesia sedang banyak transformasi ke digital yang membutuhkan banyak sekali produk yang dijual oleh perseroan. Melihat potensi dan kisah ini yah jelas kami juga tertarik untuk membidaninya. Bahkan untuk tambahan modal kerja ketika itu sebelum IPO sudah ada masuk investor sekitar 20 Milyar. Dan terbukti langsung jadi penjualan.
Kemudian bagaimana selanjutnya? kita tahu bersama saat ini ELIT penjualan naik dari cuma 42 Milyar menjadi kira kira di akhir 2024 sebesar 400 Milyar. Naik 10x lipat !!! Bukan itu saja cash di dalam perusahaannya saja besar bahkan bisa menyamai kas waktu dia IPO dulu. Perusahaan seperti inilah yang bisa memberikan nilai kepada pemegang sahamnya.
Segala bentuk pencapaian kinerja tersebut apakah selanjutnya membuat harga saham kemari. kemarin naik? Enggak tuh, orang belum lihat dan belum sadar sehingga kita sebagai investor justru bisa mendapatkan harga murah untuk saham saham bagus yang belum dilirik oleh pasar. Ingat paradoks awal dari veteran mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US seperti aku tulis diatas ... Dalam jangka panjang market akan menyadarinya anda hanya perlu bersabar dengan waktu. Dan sebagai investor waktu adalah sahabat terbaik anda.
Bagaimana apakah masih ada kesempatan seperti saham ELIT ini dimasa depan??? Saya sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US mengatakan bahwa kesempatan ini selalu ada setiap hari. Anda hanya harus jauh dari hiruk pikuk pasar, melihat dengan jeli kesempatan yang ditawarkan oleh Mr. Market dan percaya sama analisa anda sendiri. Sejatinya tidak pernah nilai akan mengkhianati anda.
Saya sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US dari waktu ke waktu juga selalu memilih untuk perusahaan terbaik yang bisa kami bantu untuk listing. Harga saham bisa naik turun tapi kalo kinerja baik maka penurunan harga justru malah menjadi kesempatan. Kami tidak takut, itu sebabnya emiten yang kami bantu, dukung, dan catatkan di bursa kami pilih yang bagus, punya story kedepan yang baik, dan terakhir manajamen bertanggung jawab.
Oh iya kebeneran di IHSG sekarng harga saham banking lagi error jangka pendek. Kami lihat secara nilai skrng sdh mulai menarik apalagi peurunan kinerja kami lihat bukan di bisnis model tapi lebih ke sisi pencadangan kredit macet akibat dihentikannya insentif Covid. Di bank itu lucu perlakuannya ... Kalo kredit macet kehapus atau bisa di recovery lewat jual aset maka itu pencadangan bakal balik lagi dan jadi loncatan laba di tahun berikutnya. Tinggal bagaimana manajemen di banking bisa fokus kerja bener aja bukan main politik.
Semoga sedikit tulisan dari mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US ini mencerahkan kawan kawan.
Happy Investing
JV
Think Trump was aggressive to Zelenskyy for no reason?
Watch the whole talk.
Timestamps below.
Zelenskyy was emotional.
Interrupted Trump.
Called Putin names.
Raised his eyebrows.
All before Trump checked him.
And he called Vance a bitch.
He wasn’t ready for peace.
2:00 Trump compliments Zelenskyy
4:00 Zelenskyy calls Putin a terrorist
12:00 Trump cracks joke with Zelensky
13:56 Zelenskyy interrupts Trump
17:20 Zelenskyy throws his hands up in seeming frustration
19:00 reporter asks Zelenskyy why he’s not wearing a suit
19:22 Trump commits to sending arms to Ukraine
19:41 Zelensky raises eyebrows and rolls eyes at Trump’s statement
22:55 Trump takes the edge off of the suit question by joking with Zelensky that he likes his outfit
23:49 Zelensky contradicts Trump and keeps painting Putin in a negative light
24:19 Zelensky says Putin will never accept ceasefire and pushes for American security guarantee
25:55 Zelensky says Putin hates Ukrainians
27:00 Zelensky says Putin should pay all reconstruction costs
29:19 Zelensky shakes head as Trump speaks
32:22 Zelensky says Putin wants to annex Poland
32:30 Zelensky says Putin will attack America
33:00 Zelensky interrupts Trump
39:19 This is when Trump went on the offensive by calling out Zelenskyy hatred for Putin and started to escalate
39:14 Vance says Zelensky has been disrespectful, and conversation continues to escalate
42:40 Apparently calls Vance “suka”, meaning bitch, under his breath.
You don't have to like how Trump handled this, but don’t buy into the story that he ambushed Zelensky.
CORPORATE TERBAIK .... (Extra Mile vs Budak Corporate)
Gimana sih mengetahui perusahaan terbaik??? Sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US maka sangat mudah yaitu dengan mencoba pelayanan perusahaan tersebut. Sesedehana itu. Ketika anda mau jadi investor di pasar saham sebenernya anda harus mau keluar dari zona nyaman dan mengetahui produk yang dijual oleh perusahaan yang anda beli dan simpan sahamnya.
Saya ambil contoh di industri perbankan, semua bank di Indonesia menawarkan produk yang sama persis ... Tidak ada pembeda dari sisi produk yang dijual antara bank yang satu dan lainnya. Sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US sebenernya cukup miris melihat ini karena perbankan Indonesia sangat terbatas dalam mengeluarkan produk produk inovatif seperti di luar negeri dengan alasan untuk mengendalikan resiko. Padahal pengalaman saya sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US resiko itu bisa dimitigasi dan dikendalikan dengan baik secara sistematis dengan beragam metoda. Bukan dengan dihilangkan karena itu malah berpotensi menghambat pertumbuhan itu sendiri.
Anyway kembali ke perbankan Indonesia yang produknya itu itu saja, tidak inovatif , dan tidak ada pembeda maka satu satunya yang dimainkan adalah dalam hal layanan dan inovasi pelayanan. Istri secara pribadi jadi nasabah prioritas di bank bank besar Indonesia, kalo saya sih sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US senengnya antri di teller sama CS aja sekalian ngobrol ... maklum kita sih kelas bawah wkwk. Kami merasakan sendiri bagaimana standar dan kualitas pelayanan dari produk yang perbankan jual dari mulai bawah sampai kelas atas. Dan gak aneh apabila kita sebut $BBCA adalah pemenangnya. Mulai dari sapaan security, proses penanganan antrian, proses kerja yang sistematis untuk setiap request perbankan, sampai SDM yang bener bener aku bilang sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US "Budak Corporate" banget.
Bagaimana gak "Budak Corporate" para karyawan di BBCA bener bener ditanam untuk memajukan tempat kerjanya. Sedikit sedikit mereka ucapkan terima kasih sudah bersama BBCA padahal orang orang ini yang kerjanya bagus tapi BBCA yang dapat namanya, seolah olah orang di BBCA hanya alat semata hehe. Saya yang lama tinggal di berbagai negara sebenernya suka risih tapi melihat pada sisi lain ini adalah keberhasilan BBCA membangun brand dan kebanggaan pada para karyawannya. Bukan sekedar karyawan level atas tapi sampai security dan OB punya semangat yang sama. Salut saya .... seolah olah setiap nasabah yang datang ke bank BBCA diperlakukan seperti nasabah penting yang pelayanannya di bank luar negeri hanya bisa didapatkan dengan status yang tinggi sekali.
Ini bener bener intangible asset yang gak dimiliki oleh perbankan lain di Indonesia. Dan intangible aset ini hebatnya bisa dimonetisasi oleh BBCA dalam bentuk NIM yang besar dan kualitas kredit bermasalah yang kecil sekali. Seolah olah orang di BBCA mau naro uang dng bunga keciiil sekali asal di BBCA dan yang mau kredit kualitasnya yang bagus dan prime yang join. Kalo ditolak BBCA baru deh ke bank lain hehe. Membangun aset intangible yang dapat dimonetisasi inilah yang membuat BBCA menang dan mampu menjual produk dan meraih laba bersih lebih baik dibandingkan bank lain di Indonesia. Padahal produk yang dijual sama sekali gak ada pembeda ... Sama dan percis semua.
Saya jadi inget tentang satu pepatah tentang bekerja "Extra Mile" dari seorang tokoh terkemuka dunia. Beliau berkata "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh Dua Mil." Luar biasa bukan??? Dan di BBCA saya pribadi menyaksikan ini entah ketika proses menabung, kredit, investasi, ataupun trade finance lainnya.
Sesederhana itu saja kita memahami untuk mendapatkan sebuah investasi yang baik. Lagipula investasi itu sebuah experience .... Selanjutnya https://t.co/iy8fGGZqaJ
DEVIDEN DAN EJAKULASI DINI ....
Sebagaim mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US saya suka bingung kalo ngelihat orang transaksi saham hobi keluar masuk gak jelas. Bayangkan dengan fee jual beli 0,5% bolak balik itu artinya dia hanya bisa transaksi 200 kali tanpa untung tanpa rugi dan Modalnya habis .... Ini gimana manajemen resikonya yah??? Pantes aja owner sekuritas gak ada yang main saham dan malah buka sekuritas karena lebih menguntungkan makan fee transaksi daripada dia kudu trading wkwk. Sebuah kesia-siaan banget.
Kemudian faktor kedua yang suka bikin geleng geleng kepala mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US ini adalah keinginan orang di pasar saham yang mau untung Segede gedenya dalam semalam. Begini yah pengalaman aku sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US gak pernah tuh ketemu orang yang bisa membangun kekayaan dalam semalam. Mereka membangun nya lintas generasi dan ada usaha serta ketekunan disana. Kalo cuma semalam bisa banyak uang maka niscaya uang akan jadi seperti daun nilainya.
Nah gimana pola investasi aku sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US? Sederhana saja, aku gak pernah kejar apresiasi harga semata. Harga saham itu hanya ilusi semata, kita mengejar Nilai yang memberi arti pada investasi kita. Karena saya dan istri masih di usia memperbanyak harta maka kita fokus pada perusahaan dan bisnis yang bisa kasih growth kenceng. Nilai perusahaan seperti ini sangat tinggi di mata kami. Growth yang kenceng artinya bisa memberikan potensi yield laba dan bahkan Deviden sangat tinggi di masa kini maupun masa mendatang. Hanya dengan cara inilah kami bisa menumbuhkan nilai kekayaan kami. Tentu saja kami tidak suka perusahaan yang tidak ada potensi tumbuh walaupun dividennya tinggi ... apalagi perusahaan yang mau Mati kedepannya kaya sektor batubara. Kami mendari perusahaan inovatif dan jauh bermimpi kedepan. Tanpa mimpi maka uang kami tidak berarti di perusahaan manapun.
Gak banyak perusahaan seperti ini. Tapi jika kami sudah dapat maka kami akan ride the wave dengan mengkoleksinya dan mengharapkan Dividen. Hanya dengan cara ini investasi kami bisa growth secara nilai dan bukan harga semata. Jng salah deviden itu besar loh, kalo perusahaan bagus growthnya maka cuma nyimpen 3 tahun kami pernah bisa dapat dividen yield setara dengan 30% pertahun loh. Mana ada para scalper yabg berpikir seperti ini??? mereka sibuk jual beli dengan target 1% perhari dengan kehilangan 0,5% perhari yang sudah pasti. Saya suka menyebut mereka team EDI (Ejakulasi Dini) wkwk.
Lagipula sepanjang pengalaman aku sebagai mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US belum pernah ketemu scalper yang kekayaannya bisa lintas generasi ...
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pemula dan memberikan sudut pansang baru bagi para pemain saham Indonesia.
Happy Investing dari Mantan IB Global yang malang melintang di Sin dan US
salam
JV
$IHSG $BBRI $PTRO
https://t.co/rvcRFtbzfd