Ada kalanya, seorang murid harus berdiri di hadapan gurunya. 🇯🇵 🇧🇷
Selama puluhan tahun, Jepang memandang Brasil sebagai standar tertinggi sepak bola. Mereka mengagumi cara Brasil bermain, mempelajari filosofinya, bahkan mengundang Zico pada awal 1990-an untuk membantu membangun fondasi sepak bola modern mereka.
Dari sanalah perjalanan itu dimulai.
Jepang tumbuh. Sedikit demi sedikit. Dari tim yang hanya bermimpi tampil di Piala Dunia menjadi salah satu kekuatan terbesar di Asia. Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, mereka kembali bertemu.
Bukan dalam laga persahabatan. Bukan pula sebagai tim yang sekadar ingin memberi perlawanan. Tapi di babak gugur Piala Dunia.
Brasil tetap datang dengan lima bintang di dada dan sejarah yang begitu besar.
Jepang datang membawa keyakinan bahwa mereka akhirnya mampu mengalahkan siapa pun.
Karena setiap murid pasti pernah bermimpi menjadi sehebat gurunya.Namun ada satu momen yang akan datang dalam setiap perjalanan.
Saat rasa kagum harus berubah menjadi keberanian.
Bukan karena rasa hormat itu hilang.
Melainkan karena satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa perjalananmu benar-benar berhasil... adalah dengan berani mencoba mengalahkan orang yang dulu menginspirasimu.
Malam ini, Jepang memiliki kesempatan itu. 🇯🇵 🇧🇷
Kalau kalian yang memilih, siapa yang akan keluar sebagai pemenang malam ini? Sang guru atau sang murid? 🇯🇵 🇧🇷