Sambil menunggu putusan Parliamentary Treahhold (PT) dari MK sbg respon —kelak— dari revisi UU Pemilu yg sedang digodok DPR, publik perlu mendorong parpol mulai menunjukkan niat memperbaiki diri pada hal2 yg elementer saja dulu. Misal, kader mereka yg memegang jabatan politik/publik hrs menentukan anggota keluarganya ikut partai sibapak /siibu/sipaman atau pilih partai lain. Muak lihat satu keluarga yg tersebar diberbagai parpol dan bahkan diberbagai jabatan. Seakan semua jabatan harus keluarga mrk yg menjabat. Suami bupati dari partai A, istri ketua DPR dr partai B, anak2nya dari partai C. Ngomong hak azasi tp hidup dari fasilitas Bapaknya/Ibunya yang pengendali politik dan keuangan. @officialMKRI@KPU_ID@DPR_RI
Di akhir video ini saya tertawa sampai se isi rumah terkejut, kata Sujiwo Tejo "yang perlu diusud bukan ijazah asli atau palsu, masalah kejujuran dan kebohongan itu saya kira Pak Karni".
Lha ya sama saja
https://t.co/RTecM4hYrH
Kalau soal Ijazah SMAnya Jokowi, Ini lebih ruwet dan lebih parah dan lebih kompleks dari ijazah UGM.
Jokowi mengaku sekolah di SMA 6 Surakarta tahun 1977-1980.
Padahal,
SMA Negeri 6 Surakarta baru berdiri tahun 1985.
Sebelumnya SMA 6 Surakarta bernama SMPP 40 Surakarta, yang berubah nama menjadi SMA Negeri 6 Surakarta, di tanggal 9 Agustus 1985.
Artinya, kalau ada siswa yang mengaku dia sekolah di SMA 6 Surakarta tahun 1977-1980, siswa itu semacam tuyul atau makhluk gaib dari masa depan.
Untuk anda ketahui, SMPP atau Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan adalah sekolah proyek percontohan dengan kurikulum yang berbeda dengan SMA biasa, sehingga siswa SMPP menempuh masa sekolah 4 tahun, bukan 3 tahun seperti siswa SMA pada umumnya.
Jadi, kalau Jokowi mengaku dia sekolah di SMPP 40 Surakarta dan mulai masuk di tahun 1977, maka seharusnya dia lulus di tahun 1981.
Artinya kalau dia mau meneruskan kuliah, dan seandainya dia diterima di Fakultas Kehutanan UGM, maka dia akan jadi Mahasiswa angkatan 1981, bukan 1980.
Dan Ijazah SMA nya dia, tidak bakal dikeluarkan oleh SMA 6 Surakarta yang belum lahir, tetapi dari SMPP 40 Surakarta, tetapi ijazahnya baru akan dia terima di tahun 1981, bukan 1980.
Wis tah
Ruwet...ruwet...ruwet!!
Simak Orasi saya dan Doktor Roy Suryo, beberapa saat setelah kami bertemu dengan Rektorat UGM, pada acara Halal Bihalal Tim TPUA dengan Rektorat UGM 15 April 2025 di Yogyakarta.
Kami memberikan penjelasan secara terbuka -melalui beberapa video - agar RAKYAT mengetahui apa yang terjadi dan apa yang dibicarakan di Ruang Oertemuan tersebut.
Hal ini kami lakukan, karena pada saat pertemuan, kami hanyal boleh masuk bertiga, dan sama sekali tidak boleh membawa wartawa, sementara di ruangan tersebut sudah ada sekitar 6 media mainstream.
Kekhawatiran kami terbukti. Beberapa saat setelah pertemuan, media-media mainstrateam sudah memuat berita yang beberapa darinya ternyata melenceng dari yang sesungguhnya terjadi.
Tetapi, kami juga telah melakukan perekaman, dan ini menjadi barang bukti, jika ternyata apa saja yang kami; Saya Dokter Tifa, Dr @KRMTRoySuryo2 dan Dr @SianiparRismon katakan, ternyata dipelintir.
Ini adalah upaya kami, menegakkan kebenaran dan keadilan, dan sebagai pendidikan bagi kita semua, untuk sama-sama cerdas dan peduli terhadap segala situasi yang mengancam kerugian bagi negara tercinta.
https://t.co/2B6m2WbWcR
@SBYudhoyono Sebagian rakyat kecil dari hatinya sudah tahu, apa gak malu nya meraka segitunya cara cari isi perut.
Saya yakin kalau bapak tidak di dalamnya narasinya sudah beda atau mungkin diam.