️️ ️️
️️ ️️
MALAM MENUMPUK seperti dosa yang tak sempat ditebus. Doa diulang sampai maknanya aus—menyisakan satu pinta: 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙣𝙖, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘱𝘶𝘴.
️️ ️️
️️ ️️
️
️
Nimas meraih tangan @bIoodypoet
yang bertumpu di atas meja, jemari lentiknya mengusap punggung tangan pria itu seraya menatap dengan senyum,
“Aku enggak apa-apa, ya?” Berusaha menenangkan Bima. Lebih baik begitu daripada harus mencurahkan kekalutannya.
️
@bIoodypoet ️
️
“Enggak.” Nimas menjawab sekali lagi, masih dengan suara yang lembut walau perlahan rasa kesalnya mencuat ke permukaan. Dirinya sungguh tak ingin membahas perihal pikiran yang tengah menggerogotinya.
️
️
️
“Enggak.” Singkat, diiringi dengan senyum simpul juga gelengan kepala pelan.
Tapi hela nafas dihembus, kemudian mengalihkan manik ke mangkuk milik @bIoodypoet, “Enak, nggak?”
️
@bIoodypoet ️
️
Suara lelaki di depannya memecah pikiran-pikiran yang telah menguntai sejak siang tadi—pikiran yang belum bisa ia bagikan, bahkan ke 'kekasih'nya itu.
“Hm?” Nimas mengangkat pandangannya dari semangkuk mie ayam yang kini ia aduk pelan dengan sumpit,
️
️ ️️
️ ️️
“Gue bakal tetep di sini. Selama lo masih ada.”
Ia mengangkat tangannya yang lain, ragu sekejap sebelum akhirnya mengusap pelan rambut @KIDUNGSEMU—gestur yang jarang, hampir asing, tapi kali ini tidak ditahan.
“Kita jalani yang ada di depan dulu.”
️ ️️
️
@KIDUNGANARKl ️️ ️️
️️ ️️
Ia tumpah di hadapan @KIDUNGANARKl. Meraung pelan meminta pertolongan bahwa ia hanya ingin hidup lebih lama hanya dengan kakaknya.
“Kenapa sulit, Kak?”
️️ ️️
️️ ️️
@truetoscan ️
️
Langsung sinis. Sebel. “Pulang aja lo.” Tapi pintu nggak ditutup.
Nimas ikut nengok kebelakang, “Ada semua. Ayah, ibu, Anin.” Balik liat Saka, minggir dikit kasih ruang buat kakak sepupunya lewat, “Ibu lg masak banyak. Lo makan deh. Kasian gue liat lo.”
️