Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen memainkan peran yang berbeda. Tidak semua menghasilkan bunyi yang sama.
Cara baca seperti itu tampaknya lebih membantu untuk memahami apa yang sedang terjadi hari ini.
@Fahrihamzah
Read more : https://t.co/ThTy7PWUun
MBG lahir dari salah satu gagasan paling mulia yang pernah dimiliki negara. Tidak ada bangsa yang dapat menjadi besar jika anak-anaknya tumbuh dalam keadaan kekurangan gizi.
@Fahrihamzah
Baca lebih lanjut: https://t.co/8eDx8IqLZ8
Kita hidup dalam zaman yang dipenuhi informasi tetapi miskin perspektif. Setiap hari kita mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita mengetahui siapa yang bertengkar dengan siapa. Kita mengetahui kontroversi terbaru.
https://t.co/pQNKgjGXOU
Oleh @Fahrihamzah
Jumpa ketua DEN pagi ini menyerahkan 2 buku saya #TrilogiKesejahteraan dan #IMSP2045 . Menarik mendiskusikan bahwa masa depan ekonomi kita ada pada integrasi digital yang diperkuat oleh AI. Sehat selalu pak Luhut. 🙏🙏
@Fahrihamzah : Masa depan perkotaan Indonesia ditentukan dari seberapa adil kita membagi ruang hidup.
Pembangunan perumahan skala besar yang sedang kita pacu hari ini tidak boleh hanya dihitung sebagai angka statistik pertumbuhan ekonomi semata.
https://t.co/bzTkcqFyOO
MBG DAN CITA-CITA PRABOWONOMICS
Anak-anak Indonesia masih menunggu. Dan mereka menunggu bukan hanya makanan di piring mereka, tetapi juga masa depan yang disiapkan dg sungguh2 oleh negara yang benar2 mencintai mereka. Itulah Prabowonomics. @Fahrihamzah
https://t.co/r5rhnkw9Qs
Dunia Sedang Sulit, Indonesia Tetap Melaju
Di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, ini adalah pencapaian yang tidak boleh dianggap remeh. Apapun, kerja kabinet, khususnya tim ekonomi harus dihargai.
Oleh @Fahrihamzah
https://t.co/uDft1dTx1r
Kemarin saya berkesempatan diundang oleh walikota Yogyakarta untuk menyaksikan normalisasi kali code yang terkenal itu. Saya mendukung ini menjadi contoh dalam penataan kawasan sungai dan sekitarnya. Karena Indonesia bermula dari peradaban pesisir. Terima kasih Pak walikota!
Padahal, tidak ada bangsa yang pernah mencapai kebesaran dengan terlebih dahulu meminta izin kepada dunia. Mereka menjadi besar karena berani memandang dirinya sebagai bangsa yang layak menjadi besar
https://t.co/kCKLo736Tx
BERHENTILAH MENYALAHKAN DIRI SENDIRI, APALAGI MEMINTA IZIN UNTUK MAJU!
Fahri Hamzah
Politisi, Alumni Universitas Indonesia, Mantan Wakil Ketua DPR RI.
Ada satu gejala yang selalu muncul setiap kali Indonesia mencoba melangkah lebih jauh. Bukan kritik terhadap detail kebijakan. Bukan perdebatan tentang angka. Bukan pula perbedaan pandangan yang wajar dalam demokrasi. Yang muncul adalah sesuatu yang lebih dalam: keraguan terhadap kemampuan bangsa ini sendiri. Kita melihatnya berulang-ulang dalam sejarah.
Pada awal kemerdekaan, kita meragukan diri: apakah bangsa ini bisa merdeka? Apakah bahan baku untuk menjadi sebuah republik sudah cukup? Belanda dan Eropa terus meragukan kita didukung segelintir orang yang percaya bahwa kita belum siap—sehingga klaim Belanda dan sekutu untuk kembali disertai tindakan nyata: agresi militer berkali-kali.
Di fase pertengahan Orde Baru, ketika Indonesia ingin membangun industri strategis, muncul suara yang mengatakan kita belum mampu. Ketika Indonesia ingin menguasai teknologi, muncul suara yang mengatakan lebih baik membeli dari luar.
Lalu selanjutnya sampai sekarang, ketika Indonesia ingin mengolah sumber daya alam sendiri, muncul suara yang mengatakan pasar akan menghukum. Ketika Indonesia ingin memainkan peran lebih besar di panggung internasional, muncul suara yang mengatakan kita sebaiknya tidak terlalu percaya diri. Pola ini begitu konsisten sehingga sulit dianggap sebagai kebetulan.
Perdebatan terbaru mengenai diplomasi Presiden Prabowo sebenarnya memperlihatkan gejala yang sama.
Di satu sisi, ada pandangan yang melihat aktivitas diplomasi Presiden sebagai bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam konfigurasi dunia yang sedang berubah. Dunia hari ini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh satu atau dua kekuatan besar. Negara-negara menengah (middle powers) mulai mencari ruangnya sendiri. Dalam konteks itu, Indonesia bukan sekadar peserta dalam percaturan global, melainkan calon pemain yang semakin diperhitungkan.
Di sisi lain, muncul kritik yang mempertanyakan efektivitas, biaya, frekuensi perjalanan, dan hasil konkret dari diplomasi tersebut. Kritik seperti ini penting.
Demokrasi membutuhkan pengawasan. Setiap kebijakan publik harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi yang menarik justru bukan perbedaan pendapatnya. Yang menarik adalah bagaimana sebagian dari kita begitu cepat berasumsi bahwa langkah keluar Indonesia pasti berlebihan, terlalu ambisius, atau berpotensi gagal. Seolah-olah menjadi negara besar adalah sesuatu yang pantas bagi bangsa lain, tetapi tidak sepenuhnya pantas bagi Indonesia.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa hampir semua negara yang kemudian menjadi kekuatan besar terlebih dahulu membangun jaringan pengaruh internasionalnya. Amerika Serikat tidak menjadi kekuatan global hanya karena ukuran ekonominya. Ia membangun aliansi, institusi, pasar, dan pengaruh politik selama puluhan tahun.
China tidak menjadi pemain utama dunia hanya karena jumlah penduduknya. Ia membangun hubungan ekonomi, investasi, teknologi, dan diplomasi secara sistematis selama beberapa dekade. Turki, India, Korea Selatan, bahkan negara kecil seperti Singapura memahami bahwa masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga oleh kemampuannya memengaruhi lingkungan strategis di luar dirinya.
Kita terus harus menuntut anggota @DPR_RI dan @DPDRI untuk tetap mengawasi jalannya pemerintahan. Karena mereka dipilih dan digaji serta di beri hak imunitas untuk itu. 🙏🙏
Dialog Wamen PKP @Fahrihamzah bersama Elshinta jelang 1 tahun pemerintahan #prabowogibran.
Mulai awal mula Satgas Perumahan, target penyediaan rumah untuk rakyat, koordinasi lintas K/L, permasalahan dan pencapaiannya.
https://t.co/r0bqi5lQX2
Wamen PKP @Fahrihamzah berjumpa Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf untuk mengintegrasikan data dan program perumahan sosial.
Wamen ingin memastikan bahwa program perumahan yang dijalankan tidak hanya memenuhi kebutuhan papan, tetapi juga bersinergi dengan aspek sosial lainnya.
Hari ini, Rabu (8/1/25) Presiden RI @prabowo turut menyaksikan penandatanganan MOU Pengembangan Proyek Hunian 1 Juta Unit antara Pemerintah RI 🇮🇩dan Qatar 🇶🇦
Acara dihadiri pula oleh menteri & wakil menteri termasuk Wamen PKP @Fahrihamzah
���Live 👉🏻 https://t.co/2lh6M6VQbM
Wakil Menteri PKP @Fahrihamzah hari Sabtu (4/1/25) hadir berdiskusi memenuhi undangan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Prof. Haryo Winarso dan tim. Pertemuan membahas konsep perbaikan kawasan kumuh.