pada dasarnya, emang kamu harus bener bener capek dulu biar bisa merasakan yang namanya lost respect dan lost feeling sama seseorang, karena mau sesakit apa pun, mau seberapa kalipun kamu disakiti, kalau kamunya belum capek, kamu tetap bakal mikir kalau dia bisa berubah
Dear my self,
Yang kuat ya.
Jangan kalah sama keadaan.
Jangan kalah sama tekanan mental.
Jangan kalah sama trauma kamu.
Lelah memang,
Mungkin kamu akan menangis
tapi tidak untuk putus asa.
Dewasalah dengan elegan
tanpa harus mengemis belas kasihan.
batinku:
padahal aku ngeliat dia susah aja gatega, selalu pengen bantu dia. seujung kukunya sakit aja aku khawatir, tapi dia nyakitin aku tanpa rasa kasihan sedikitpun.
rasa sakit ga bisa diukur dengan standar orang lain. jadi, ga ada yang namanya overreacting. tiap orang punya level sensitif yang beda-beda. kalau itu menyakitkan bagimu, ya itu emang menyakitkan. kamu ga perlu menjelaskannya sama siapa pun
bagaimana caranya mengembalikan semangat yang dulu menggebu-gebu itu, seperti tidak ada gairah lagi untuk melakukan semuanya, semuanya terasa dan terlihat tidak menarik lagi, tidak membuat hati senang lagi, tidak membuat jantung berdebar lagi saat melakukannya, padahal dulu itu adalah hal paling menyenangkan untukku.
hiduplah meski sedihmu kau peluk sendiri, meski makanan, minuman, atau bahkan warna favoritmu tidak ada yang tahu. mungkin, akhir-akhir hidupmu rasanya terlalu hambar, matamu selalu sembab, dan energi yang kamu punya tidak sebanyak biasanya, tapi tolong tetaplah hidup, jika hari ini dirasa buruk, bukan berarti besok
tak lebih baik, kan?
semua yang lagi berjuang sendirian bulan ini, semoga hari-harinya dipermudah, rezekinya dilancarin, dan hatinya dikasih ketenangan yang beneran tahan lama sama Allah, aamiin.
beratnya jadi orang yang memaklumi itu bukan karna harus mengerti orang lain. tapi karna setiap kecewa, kita selalu sibuk nyari alasan supaya rasa sakit itu masuk akal.
“oh mungkin dia lagi capek”
“oh mungkin dia emang gak sengaja”
“oh mungkin aku aja yg terlalu sensitif”
sampe akhirnya semua orang punya alasan, kecuali perasaan diri sendiri
Dan di titik itu, Tuhan ikut andil.
Ia mengatur jarak, mengatur keheningan, mengatur waktu yang pas, hingga akhirnya kamu sendiri yang melihat dengan jelas. Dari situ kamu mulai membedakan mana hubungan yang dibangun karena ketulusan, dan mana yang hanya bertahan karena kepentingan. Hubungan yang tulus tidak berubah hanya karena kamu sedang tidak bermanfaat. Orang yang benar-benar menghargaimu tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu sedang kosong. Mereka tetap ada, meskipun tidak ada yang bisa mereka ambil. Mereka tetap menanyakan kabarmu, bukan karena butuh, melainkan karena peduli.
Namun ketika keadaan berubah ketika kamu tidak lagi berada di posisi yang menguntungkan, ketika kamu sedang jatuh, atau sekadar tidak lagi memberikan apa yang mereka harapkan, perlahan-lahan topeng itu mulai retak. Bukan dengan drama besar. Bukan dengan pengkhianatan yang spektakuler. Melainkan dengan cara yang jauh lebih halus dan menyakitkan: pesan yang semakin jarang dibalas, kehangatan yang berubah menjadi dingin, perhatian yang tiba-tiba menghilang, dan kehadiran yang dulu terasa dekat kini menjadi jauh.
Selama kamu masih berguna, selama ada manfaat yang bisa diambil, orang-orang itu akan terlihat ramah, penuh perhatian, bahkan terasa tulus. Mereka akan mengirimkan pesan di saat yang tepat, menanyakan kabarmu dengan nada hangat, menawarkan bantuan yang seolah-olah tanpa pamrih, dan membuatmu merasa dihargai. Senyum mereka meyakinkan. Kata-kata mereka menenangkan. Kamu bisa saja terlena, mengira bahwa hubungan ini dibangun di atas fondasi yang kokoh.
Tuhan Memperlihatkan Wajah Asli Seseorang Ketika Kepentingannya Sudah Tidak Lagi Dipenuhi
Ada satu hukum yang diam-diam bekerja di kehidupan, lebih akurat daripada ramalan apa pun: Tuhan akan menyingkap wajah asli seseorang tepat ketika mereka tidak lagi membutuhkanmu.
hati manusia itu punya batas lelahnya sendiri. jangan heran jika perempuan yang dulunya paling bersemangat menyambutmu, kini hanya membalas seadanya. bukan karena dia menemukan orang lain, tapi karena setiap janji yang kamu ingkari telah mengikis sedikit demi sedikit rasa percaya yang dia miliki.
kekecewaan yang menumpuk tidak akan
meledak dalam amarah, tapi mengendap dalam diam. sampai akhirnya, dia tidak lagi marah, tidak lagi bertanya, dan tidak lagi peduli. dia hanya... selesai.