Bagus banget jawaban masnya. Dan semuanya tepat.
Small habit (discipline) itu pilar keberhasilan.
Respon atas kegagalan adalah kunci. Sebab dlm hidup kita akan menemui kegagalan berulang kali.
✍️✍️✍️🔥🔥🔥
Kalo kata Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist:
"Kenapa hidup ini menarik? Karena ada mimpi yang harus diwujudkan. Ketika kamu menginginkan sesuatu, alam semesta akan bersatu membantumu."
Sejak kuliah saya diajarkan untuk terus punya target. Ini salah satu contohnya. Hampir semua target di sini sudah tercapai. Setelah nemu catatan ini lagi, ternyata ada target saya yg baru tercapai; followers 10k di twitter. 😅
Daripada lu nonton drama knetz vs Seatizen. Tonton ini aja!
Orang ini: Ray dailo memberikan kursus cara membuat kita menjadi kaya selama 39 menit saja.
https://t.co/BhvdGjM6bw
Tidak habis pikir. Petunjuk teknis terbaru menunjukkan YAYASAN pengelola MBG dapat insentif 6 JUTA PER HARI selama 313 hari, libur pun masih dapat. Insentif itu tanpa kena pajak.
6 juta x 313 hari=1,87 miliar per SPPG
Bayangin POLRI kelola 1.179 SPPG PER HARI DAPAT INSENTIF Rp 7,07 M dan 1 tahun jadi Rp 2,21 Triliun.
Itu pun belum yayasan lain di bawah TNI.
Udahlah bubar aja negara ini.
Dijelaskan bahwa insentif ini bukan berdasarkan output based (berlaku 2025) yaitu jumlah porsi yang diberikan, tapi malahan availability based yaitu asal sudah ada dapur meski belum beroperasi. Jelas-jelas enak donk yang penyaluran porsinya sedikit bahkan belum kerja sudah dapat 6 JUTA PER HARI. Cukup duduk manis dukung rejim.
Memang MBG INI DIBIKIN BUAT MENGGERERUK DUIT NEGARA.
Kepada elite mereka royal dan disebutkan sebagai insentif, sementara bantuan ke rakyat disebut subsidi dan dianggap beban.
@ZakkiAmali Doksli-nya disini :
https://t.co/d1YClF8OZ9
Kalau ada yang mau bedah kayak om Zakki, silakan. Jadikan source ke Notebook LLM, tanya detail dan banyak yang bisa kita kritisi.
Ga usah idealis, yang penting ada notifikasi duit masuk ke rekening. Bisnis/kerjaan ga keren, selama menghasilkan dan halal, ga makan hak orang, lakukan saja.
Makes sense ya.
rumus konten ala raditya dika:
- buat konten untuk audience (yg kira2 akan rame)
- buat konten untuk diri kita sendiri (idealis yg memang kita suka)
kalau dalam konteks di X misalnya akun kita bahas rumah,
bisa kita variasikan misalnya sehari 20 tweet, 12 tweet bahas rumah 8 tweet bahas random yg kira2 akan viral.
itu teorinya,
prakteknya mungkin 30 tweet akan bahas random terus karena enggak viral2 😂
Harga tiket di Traveloka NAIK setiap kali lo cek.
BUKAN karena seat makin dikit dan orang udah pada beli, tapi ini algoritma.
Gue cek tiket Jakarta-Bali kemarin. Rp850rb.
Cek lagi 2 jam kemudian. Rp1.1jt.
Pake HP temen? Balik ke Rp870rb.
Mereka pake dynamic pricing buat maksimalin revenue.
Kita bisa lawan algoritma mereka.
Ini cara yang gue lakuin buat hemat tiket pesawat yang Traveloka gak mau lo tau:
Setuju sama Sam Altman. Tapi...
Ke depan, kerjaan knowledge worker emang bakal shifting dari doing ke directing AI agents.
Yang sering kelupaan... kalau kita cuma jago prompting tanpa system thinking, ya cuma jadi operator AI, bukan orchestrator.
Karena ngarahin AI itu bukan cuma “suruh bikin ini-itu”.
Kita harus ngerti:
Problemnya sebenernya apa,
Dampaknya ke sistem apa,
Decision kita bakal create feedback loop kayak gimana,
Dan efek jangka panjangnya ke user atau organisasi.
AI bisa handle heavy lifting.
Tapi ngerti big picture? That’s still on us.
Real leverage bukan cuma orchestration.
It’s orchestration + system awareness.
Mentorku dulu bilang,
lebih baik kerja di lingkungan yang semua orangnya pinter, kasih yang terbaik, kalau ga perform ya dicut aja. beneran di antara kolam hiu. jadinya ngedorong buat berkembang.
dibanding kerja yang semua orang sekadarnya dan terlalu permisif untuk banyak hal.
Tweet ini underrated banget. Padahal ini yang Bezos omongin tahun 2005.
Jauh sebelum orang sadar ini bakal jadi fondasi Amazon sampai valuasi > $1T dolar.
1) Inovasi itu ada dua arah, bukan satu.
Ada yang mulai dari masalah terus nyari solusi. Contohnya Liquid Paper, wiper mobil. Ada juga yang mulai dari teknologi baru, baru mikir “ini bisa nyelesain masalah apa?”.
Mayoritas perusahaan cuma main di satu jalur. Amazon? Dua duanya dijalanin barengan. Yang lain mikir sempit, mereka mikir lebar.
2) Pembunuh inovasi yang asli itu bukan kurang pintar, tapi learned helplessness.
Tisu toilet baru ada tahun 1857. Wiper mobil dulu dibilang “ganggu konsentrasi nyetir���. Orang jaman itu rela tiap satu kilo berhenti, turun, lap kaca pake kain, dan nganggep itu normal.
Inovator sejati itu orang yang keganggu sama hal hal goblok yang udah diterima semua orang sebagai “ya emang gitu”.
3) Kecepatan inovasi ditentuin sama mahal atau murahnya eksperimen.
Ini cikal bakal AWS. Kalau eksperimen mahal, tiap ide harus izin CEO. CEO ga bisa ngurus ribuan eksperimen. Jadi Amazon bikin sistem biar tim kecil bisa ngetes ide tanpa drama koordinasi.
Mereka pernah A B test nambahin gambar di “customers also bought”. Kedengerannya pasti naik kan? Ternyata malah nurunin performa. Mereka tau karena biaya eksperimennya nyaris nol. Kalau mahal, insight kayak gini ga bakal pernah ketauan.
4) Ubah customer experience dari biaya variabel jadi biaya tetap.
Retail fisik ga bisa murah dan ramah sekaligus. Pelayanan nambah, biaya nambah. Linear.
Software Amazon beda.
Mau layani 1 juta atau 47 juta user, biayanya hampir sama. Inilah kenapa online retail bisa lebih murah tapi sekaligus lebih enak. Ini bukan gimmick marketing, ini keunggulan struktural.
5) Jangan fokus ke apa yang berubah. Fokus ke apa yang ga bakal berubah.
Semua orang nanya “10 tahun lagi dunia berubah jadi apa?”. Bezos malah nanya “apa yang ga bakal berubah?”. Jawabannya simpel. Orang selalu mau harga murah, pilihan banyak, dan praktis.
Strategi 20 tahun bisa dibangun dari situ. Ga bisa dibangun dari gerak gerik kompetitor yang tiap kuartal berubah kayak cuaca.
Ini tahun 2005.
Amazon waktu itu free cash flow 950 juta dolar dengan investasi teknologi 650 juta.
Hari ini, framework yang sama jalan di skala 600 miliar dolar lebih.
Setuju bangettt. Ini cara pakai AI yang bener dan next level, langsung dari omongan Jensen Huang (CEO NVIDIA).
Guys, AI itu bukan cuma buat:
tanya → dijawab → kelar
Kaya misal kita lagi googling doang/google search. Dipakai buat gitu ya sah2 aja dan ga salah, tapi jujur aja… yaa sayang banget kalo berhenti di situ doang pemanfaatannya.
Harusnya AI tuhh yaa dimaksimalin pemanfaatannya buat (misal):
deep analysis, bantu pahamin konsep lbh cepet, mempermudah proses belajar, ngerjain clerical jobs yang repetitif dan makan waktu
jadinya semua yg lo kerjain lebih efisien dan efektif.
Bukan buat:
“Eh kerjain PR gue dong.”
Udah dehh misal.
Kalo makenya gitu, itu sih jatohnya cheating pakai AI, bukan leveraging AI. Kalo kita makenya gini yaa asli masih salah mindset sihh.
Kaya level Bang Ismail yg udh next level, makannya bisa sampe manfaatin claude, karena basic dan technical beliau ya udh super kuat jadi pake ai tambah strong lagi.
This is true.
Sejak saya pakai Claude Code, lebih banyak berpikir, berimajinasi, dan memformulasikan ide ke dalam kalimat instruksi yang bisa dipahami AI. Dari highlevel design hingga printilan kecil2.
Aku baru nonton video pertama juga dan yg pertama beliau bahas adalah tentang sejarah uang dan bank.
Aku coba tulis intinya:
Beliau bilang bahwa sebenarnya bank itu boleh cetak uang kapan saja tanpa batasan, tapi mereka ingin kita semua percaya bahwa uang itu terbatas.
Pertanyaannya:
1. Untuk apa mereka ingin kita percaya bahwa uang itu terbatas?
2. Jika bank bisa cetak uang sebanyak2nya, kenapa masih ada kemiskinan?
Ada yg mau coba jawab?
Gue lagi ngantri di minimarket malem malem, banyak muka orang-orang yang kelihatan capek abis pulang kerja.
Ada seorang cowok ke kasir, beli kopi starbucks kaleng sama Marlboro merah. Pas kasir nyebutin totalnya, dia reflek buka MyBCA, cek saldo, terus ngedumel “Anjir, tipis banget.” Tapi habis bayar dia keluar dan foto minuman ama rokoknya dengan caption “late night grind”.
Masalahnya, pemandangan kayak gitu tuh kejadian tiap malem di kota besar. Antrian minimarket penuh anak kantoran yang kelihatan rapi dan “sibuk”, tapi di balik itu banyak yang hidupnya kayak etalase. Dari luar keliatan mapan, dari dalem saldonya ngos ngosan. Gaji UMR tapi lifestyle sok SCBD. Beli kopi botolan mahal di minimarket padahal di rak sebelah ada yang lebih murah. Ambil snack overprice cuma karena packagingnya lucu dan keliatan estetik kalau difoto. Katanya biar nemenin “late night grind”, padahal yang digrind itu gengsi, bukan masa depan finansial.
Yang bikin miris, semua ini sering dibungkus narasi “self reward” dan “yang penting nikmatin proses”. Padahal jujur aja, itu sering cuma topeng buat nutupin rasa takut keliatan biasa aja. Takut kalau story cuma isi air mineral dibilang hidupnya gitu gitu aja. Takut dianggap ga level kalau ga kelihatan sibuk, capek, produktif. Akhirnya yang dikorbanin bukan rasa gengsi, tapi logika finansial sendiri. Story-nya rapi, tapi alur duit masuk keluar hidupnya ga pernah dirapiin.
Pahitnya gini. Dunia ga ngasih bonus cuma karena lu upload caption “late night grind”. Sistem hidup ga peduli lu keliatan capek kerja atau engga. Yang dihitung itu seberapa kuat lu berdiri pas hidup lagi ketat. Kalau tiap belanja kecil aja lu harus cek saldo dulu, tapi tetap maksa beli yang mahal demi kelihatan “lagi hustle”, itu bukan lifestyle, itu tanda lu lagi maksa citra yang ga sebanding sama realita. Lu lagi beli validasi sosial pakai napas masa depan finansial lu sendiri.
Ini keras, tapi perlu. Gaji UMR tapi pengen hidup kayak anak SCBD itu bukan mimpi besar, itu ilusi mahal yang kelihatannya receh di kasir minimarket. Kopi mahal hari ini mungkin keliatan kecil, tapi kebiasaan ngejar image tiap hari itu akumulasi stres versi premium. Kalau lu ga berani jujur sama dompet sendiri sekarang, gimana ceritanya lu mau naik kelas nanti? Coba puasa gengsi sebentar. Pilih yang masuk akal, bukan yang kelihatan. Stop nitipin masa depan finansial lu ke story 15 detik. Yang keliatan “grind” di antrian minimarket belum tentu lagi bangun masa depan. Dan yang beneran lagi naik kelas, seringnya justru ga perlu kelihatan sibuk di story.
Pernah sadar nggak sih? 🤔
Kebanyakan affiliator di Indonesia cuma fokus di satu platform aja. Shopee doang. Atau TikTok doang.
Padahal, kalau mau mikir lebih besar, affiliate itu bisa all in one.
Bahkan… bisa lintas negara 🌍
Gua mau pengakuan dosa...
Jadi gua pernah terlibat dalam proyek pelepasan status kawasan hutan menjadi sawit tahun 2021 di kalimantan tengah dengan luas konsesi 5.000 Ha itu gede banget menurut gua. Dan izin itu bisa sampai 30taun++
Begini prosesnya:
Saat itu gua masih SMK dan magang di sebuah perusahaan konsultan dan singkatnya gua diterbangkan ke kalteng karena ada proyek penataan batas wilayah hutan (tata batas).
Tata batas itu apa? Disudut pandang administrasi kawasan hutan itu dibagi menjadi beberapa tingkatan:
1. hutan lindung (warna di peta hijau)
2. Hutan produksi (warna kuning di peta)
3. Hutan produksi terbatas (warna hijau muda)
4. Hutan produksi yang dapat di konversi (warna ungu)
5. Areal penggunaan lain (warna putih)
Nah tata batas itu kita menata ulang batas kawasan hutan untuk kemudian di ubah statusnya menjadi kawasan non-hutan. Karena banyak banget di lapangan kebun sawit yang udah beroprasi puluhan tahun tapi status kawasannya di peta masih hutan. Ngeri banget kan? Dan ini pasti lebih dari 1000ha luasannya.
Gua ngapain disana? Kerjaan gua saat itu survey buat ngambil titik koordinat dan masang pal batas baru di kawasan sawit itu dan gak sedikit yang emang bersinggungan langsung sama hutan lindung (contoh di vidio kedua).
Gua banyak banget nemuin ketimpangan dan ironi karena banyak banget hutan disana yang dengan gampang di babat entah itu buat jalan atau untuk perluasan kebun. Dan gak sedikit gua cekcok sama warga adat disana perihal kerjaan ini bahkan yang sampe mengancam nyawa gua (ini real), dan disitu posisinya gua serba salah aja sebagai karyawan wkwkwk
Juga dari yang gua denger dari senior di lapangan gak sedikit perusahaan yang kalo izinnya udah mau abis mereka nyari surveyor geologi buat dapet sumberdaya didalamnya dan dijadiin tambang.
Segitu dulu ges gua sekarang sedang tobat ekologi kalian pernah liat atau mungkin terlibat hal yang serupa?? Komen dibawah