Memasuki triwulan kedua, kinerja #APBNKita tetap terjaga. 💪🏽
Tekanan eksternal masih menjadi tantangan, namun Indonesia tetap optimis menjaga pertumbuhan.
#UangKita
Relentless operations to stop narco-terrorism.
@USCGSoutheast crews aboard CGC Tahoma and an embarked helicopter seized approximately 6,085 pounds of cocaine worth nearly $45.8 million Saturday after stopping three vessels off the coast of Colombia. The interdiction required disabling fire after warning shots proved ineffective. Tahoma’s crew apprehended 9 suspected drug smugglers following the operation, then sunk the vessels as hazards to navigation. Close coordination with allies and partners, including @SOUTHCOM@jiatfs -South, ensured a successful interdiction.
Read more: https://t.co/KKo42lpmC6
Melaporkan langsung dari Bordeaux bahwa siswi Indonesia menduduki peringkat 5 dari segi peraihan nilai (dijamin gold) pada perhelatan European Girls' Mathematical Olympiad 2026.
Selamat Danica :D. Kita satu team siswanya hanya satu orang. Mudah mudahan bisa menginspirasi terutama siswi-siswi yang lainnya dan pada umumnya semua pelajar Indonesia.
Clause Wilke, penulis buku Fundamental of Data Visualization membagikan buku digital secara gratis dalam bentuk R Markdown.
Ada 30 bab mulai dari bagaimana membuat visualisasi dengan berbagai macam situasi. Selain itu, ada juga pengaturan sampai title, caption, dan table.
Yang tertarik. Monggo~
https://t.co/9LNJyYJPme
Salah satu cara terbaik untuk menunjukkan patriotisme adalah dengan berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang yang kita tekuni.
But it’s too damn hard.
Keunggulan/excellence/mastery, adalah kontribusi.
Ketika kita mendorong batas ilmu pengetahuan, bisnis, seni, atau pelayanan publik, kita sedang memperluas kapasitas negara. Kita sedang merajut masa depannya.
But it’s too damn hard.
Lebih mudah mengatur lokasi geografis seseorang daripada menaklukkan batas diri sendiri. Lebih mudah menunjuk arah pulang daripada membangun kualitas yang tak bisa dibantah.
Negara tidak maju karena slogan “mengabdi untuk negara” di bibir tiap warganya. Ia tidak maju karena pengibaran paspor hijau atau deklarasi harga mati di sosmed.
Ia maju ketika standar kerja warganya begitu tinggi sehingga dunia tidak punya pilihan selain menghormatinya.
But, then again, it’s too damn hard.
“Kalau patriot, pulang.” Dalam konteks riset global, cara berpikir seperti ini sangat tidak menguntungkan negara sendiri. Sangat sedikit orang Indonesia yang berhasil mendapatkan posisi akademik permanen di UK. Dari sekitar hanya 30–40 permanent academics Indonesia di UK (hampir tidak ada yang berasal dari jalur LPDP (in fact, saya pribadi tidak mengenal satupun). That is a very sad number for a country this "big".
Hampir tidak mungkin mendapatkan posisi permanen di universitas di UK; apalagi Russell Group univs; tanpa memiliki portfolio postdoctoral yang sangat kuat. Persaingannya terlalu brutal. If you disappear for 2–3 years after your PhD, you are immediately out of the market.
Negara-negara seperti China, India, dan bahkan Iran justru memanfaatkan diaspora akademiknya. Mereka menjadi:
– jembatan hibah riset internasional
– co-supervisor doktoral
– pintu masuk kolaborasi laboratorium
– penghubung industri dan universitas
– agen soft power budaya dan bahasa
Akhirnya mendongkrak kualitas dan ranking universitas mereka.
Nilai hibah riset yang mengalir melalui jaringan ini seringkali jauh melampaui investasi beasiswa ±2 miliar rupiah per orang. Walaupun itu mahal, but in the global research landscape, that is a small number. A UK-based Indonesian academic who wins Newton Fund / ISPF grants with Indonesian collaborators (I know a few) can easily bring back 2X that amount into the country within a year.
Saya sendiri tidak pernah mendapatkan beasiswa pemerintah manapun. Saya harus bekerja paruh waktu untuk menyelesaikan S2 dan S3. But I do feel a certain sadness melihat bagaimana kita belum mampu mendukung orang-orang kita untuk berjaya diluar.
Those who won LPDP scholarships are most likely more intelligent and more competent than I ever was. But many of them never got the chance to become globally competitive scientists. That is the part that makes me sad. We still think in zero-sum terms: as if one person flourishing abroad automatically means the country loses.
A country is strong ONLY when individuals flourish, wherever they are!
Yang perlu kita benahi adalah manajemen beasiswanya: pastikan yang mendapatkan memang benar-benar PANTAS. Sentimen negatif yang begitu kuat ini adalah pertanda adanya kecurigaan bahwa sistemnya tidak sepenuhnya adil. That is what needs to be fixed.
Nobody goes to a football match booing the best players. People root for those who truly deserve to be on the field. Scholarship awardees who genuinely earn it will be supported. They will be celebrated. Dan jika seseorang bisa memenangkan posisi postdoc di universitas bergengsi, dalam sistem yang sangat kompetitif, itu sendiri adalah bukti bahwa dia pantas.
Go on, champ! We’re proud of you.
Saya meyakini pimpinan LPDP memahami konsep brain circulation dan investasi jangka panjang - some of them are bankers anyways. Namun kebijakan mereka kerap berada dalam tekanan politik dan birokrasi.
Pertama, ada persepsi bahwa LPDP lebih mudah diakses oleh kalangan elite (misalnya isu yang diangkat oleh Primus Yustisio, Re: anak pejabat). Jika persepsi ini benar, maka kelompok elite tentu tidak memiliki insentif untuk mendorong perubahan besar pada skema yang sudah menguntungkan mereka.
Kedua, LPDP harus berhadapan dengan DPR yang cenderung menerjemahkan nasionalisme secara populis: “segera pulang dan membangun negeri.” Dalam atmosfer seperti ini, sentimen publik yang paling sederhana sering kali menjadi tekanan kebijakan.
Ketiga, pengawasan BPK membuat riset dan pendidikan kerap diperlakukan seperti proyek pengadaan: harus cepat terlihat output, jelas serapan anggaran, dan mudah diaudit secara administratif.
Akibatnya, investasi pengetahuan yang secara alamiah berjangka panjang dipaksa tunduk pada logika jangka pendek.
Mengelola negara dalam kondisi seperti ini menuntut kombinasi langka antara kompetensi teknokratis dan keberanian institusional. Butuh otak dan tulang punggung: kepemimpinan yang mampu menahan tekanan jangka pendek demi kepentingan strategis jangka panjang.
Free Access Week is live.
From Feb 16–22, 2026, everything on DataCamp is open.
Courses. Projects. Tracks. Certifications.
No paywalls. Just learning.
Start here:
https://t.co/SUyEW7ClLc
Pesan mengatasnamakan “Bea Cukai” muncul setelah belanja online? 📲
Di momen seperti ini, keputusan ada di kamu. Pastikan kamu tetap tenang dan lakukan STOP, CEK, LAPOR.
Sahabat BC, penipuan bisa menimpa siapa saja!
Ayo jadi bagian dari gerakan STOP, CEK, LAPOR penipuan mengatasnamakan Bea Cukai.
Karena keamanan bersama dimulai dari kepedulian sesama agar tidak ada lagi korban berikutnya.
📌 STOP
Berhenti sejenak, tetap tenang.
Tenangkan diri dulu. Jangan langsung membalas, klik tautan, atau mengirim uang.
📌 CEK
Verifikasi lewat kanal resmi Bea Cukai.
Setelah tenang, cek kebenaran informasi yang kamu terima.
Kunjungi laman resmi Aman Bersama, hubungi Bravo Bea Cukai 1500225, atau cek akun media sosial @beacukairi.
📌 LAPOR
Bantu orang lain agar tidak menjadi korban.
Kalau kamu mendapati atau mengalami penipuan, bersuara lah!
Laporkan melalui laman resmi https://t.co/DjzjgpUApy
Laporanmu membantu Bea Cukai mengidentifikasi pola penipuan, menyusun langkah penindakan, dan mencegah korban berikutnya.
#BeaCukaiMakinBaik
#PamerAjaDulu
Rp 5,4 TRILIUN.
Itu harta salah satu menteri di kabinet sekarang.
Datanya publik. Tapi siapa yang pernah cek langsung?
Gue bikin website biar gampang -> kawalharta 💰
Sahabat BC, hati-hati saat belanja online, terutama di luar platform e-commerce resmi.
Yuk simak penjelasan dari Toms agar kamu lebih waspada.
Jika kamu mengalami indikasi penipuan mengatasnamakan Bea Cukai, ingat untuk ambil jeda, cek kebenarannya, dan segera laporkan ke
https://t.co/DjzjgpU2A0
#StopCekLapor #BeaCukaiMakinBaik