Tak ada yg keliru dgn mengungkapkan prasaan. Klo ditolak, jadi puisi. Klo diterima, menjalani hubungan, dan tidak bahagia, jadi puisi. Pun, klo langgeng hepi sampe simbah2, ttp jadi puisi. Prasaan dipendam sj, juga ttp jadi puisi. Cinta bisa mati. Puisi, sprti pancasila, abadi ~
This dude went full Kamikaze mode 💀
A Chinese🇨🇳 guy starts cussing at him for cutting traffic. Next thing you know, this man throws it in reverse and SLAMS straight into him
Iyes, ini namanya commodification of intimacy, jd semacam eksploitasi ekonomi berkedok kebahagiaan. Dan hal ini bekerja dgn cara mengaburkan batas antara subjek dan objek.
Fans k-pop Indonesia yg seharusnya jd subjek yg menikmati seni, malah berubah menjadi objek pasar agensi dan ekonomi volume Korea.
Secara ekonomi, industri k-pop itu sukses bukan krn mereka menjual musik, tetapi karena mereka menjual ilusi kebahagiaan dan kepemilikan emosional.
Menurutku, menyadari kesalahan logika dlm industri k-pop bukan berarti kamu berhenti menyukai musik atau idolamu. Sadar logika adalah proses mengembalikan posisimu dr komoditas agensi menjadi sosok konsumen yang berdaulat.
Gimana sadar logika itu? Ya stop jadi fanatik. Bersikaplah kritis.
Sebab kebahagiaan di luar diri adalah kebahagiaan yang rapuh. Sebab kamu nggak bisa mengatur perilaku orang lain atau dinamika dunia idolamu.
Jika sumber kebahagianmu hilang, berubah, atau mengecewakanmu krn skandal idola misalnya, maka fondasi kebahagiaanmu langsung hancur gitu aja dan kamu akan jadi tawanan dari situasi luar dirimu.
Semangat!👌