Sekalipun orang yang berteriak "No drama" atau "I hate drama", pasti tetap melakukan/terlibat dalam suatu drama kehidupan.
Ya begitulah drama. "Memasak" sesuatu menjadi lebih enak untuk panganan psikologis. Totally normal.
Karena selain sandang-pangan-papan, manusia butuh memenuhi asupan psikologisnya. Lewat cerita, barter validasi, dikagetkan dengan plot, bonding, yang kalo bisa kita rangkum = DRAMA.
Buat apa? Buat feel alive & socially functional...
Iya, iya.. Saya paham sama yang namanya "konstruksi gender". Dibuat dari dan oleh masyarakat, menyesuaikan kebutuhan dan fungsi ke-sekarang-an.
But how far can you lie, biologically? Refleks sehari-harimu aja lebih seksis dari Twitter.
Intinya maskulinitas dan feminitas itu memang segitu tercetaknya di DNA manusia. Terus dibudayakan secara bawah sadar oleh kedua gender.
Pola otak yang terbentuk selama ratusan ribu tahun gak bisa dihilangkan cuma dengan ideologi berumur puluhan tahun.
Buat yang teriak feminis, pasti refleks ilfeel sama cowok yang gak punya "power". Buat cowok yang mengaku "netral", pasti ngumpat sama cewek yang nyetirnya jelek.
Coba pikir-pikir lagi. Kalo kamu beneran udah melihat laki-laki dan wanita itu totally sama, apa gunanya dimorfisme?
Jenis kelamin itu bermaksud untuk mengingatkan. Kadang caranya ekstrim. Tapi ya namanya pengingat kan begitu.. Di LGBT aja tetap ada genderception.
Maaf kalo pernyataan saya menyinggung pelbagai konteks. Tapi seksisme itu harus tetap ada (dalam dosis yang seimbang). Untuk membedakan laki-laki dan wanita.
Kalo gak ada seksisme (dalam dosis yang seimbang), jenis kelamin bakal melebur dan kehilangan identitas.
Nyaris semua yang saya percayakan logikanya udah jadi penganut zodiak fanatik.
Setengah dari lingkar dalam saya jadi penakut akan hantu/setan.
Seperempatnya jadi praktisi "ABC" atas stereotip negatif atas agamanya masing-masing..
*ABC*: Assure - Believe - Convert