Berita hari ini mengecewakan para muridnya.
Mereka yang pernah berdoa di hadapan benda-benda sucinya, mengunjungi viharanya, atau menaruh keyakinan kepadanya mungkin mulai bertanya, “Apa sebenarnya nilai dari semua yang selama ini saya yakini?”
Yang lebih disayangkan, keadaan ini juga tidak adil bagi para biksu yang setiap hari tetap menjalankan latihan, melafalkan sutra, dan membina diri, tanpa pernah menjadi sorotan pemberitaan sepanjang hidup mereka.
Sesungguhnya, Buddha sudah mengingatkan tentang persoalan yang sangat serupa.
Dalam Aṅguttara Nikāya (AN 5.250), Buddha menjelaskan lima kerugian yang dapat muncul ketika seseorang menaruh keyakinan berlebihan kepada satu sosok. Salah satunya terjadi ketika sosok yang sangat dihormati mendapat sanksi, meninggalkan kehidupan monastik, atau pergi dari vihara.
Karena kecewa terhadap satu orang tersebut, sebagian orang ikut kehilangan kepercayaan kepada para biksu lainnya. Mereka berhenti mendekati Sangha, tidak lagi mendengarkan ajaran Buddha, dan perlahan menjauh dari Dharma.
Cunda Sutta dalam Sutta Nipāta juga mengingatkan kita untuk memahami perbedaan di antara para praktisi. Buddha menunjukkan bahwa tidak semua praktisi memiliki kualitas yang sama. Orang bijaksana tidak menyamakan mereka yang menyimpang dengan mereka yang sungguh-sungguh menjaga sila dan melatih diri.
Seorang biksu harus bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. Kita pun perlu belajar memisahkan kepercayaan kepada satu sosok dari penghormatan kepada Dharma dan kepada mereka yang sungguh-sungguh menjaga sila serta menjalankan latihan.