Problem Indonesia saat ini, saya meyakini, legislatif mostly jadi "tukang stempel", setuju-setuju aja. Ketum2 tangannya "diikat" dg berbagai alasan. Yg mengingatkan Presiden dg masuk akal, on point, spt Dino ini, mestinya diapresiasi. Ngakunya tidak anti kritik kan...
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
ASN=Aparatur Sipil NEGARA, mengabdi ke negara, bukan ke pemerintah, apalagi presiden. Stop berpikir negara = pemerintah. Stop feodalisme. Presiden bukan raja, tidak perlu disembah, sangat boleh dikritik, tmsk oleh ASN. Indonesia republik.
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Tadi malam (29/3) tepat pukul 19.28 WIB, telah lahir anak kedua kami yang kami beri nama Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono dengan berat 3,076 kg dan panjang 49 cm.
Bagi kami kelahiran Arjuna adalah sebuah keajaiban, apalagi ini merupakan penantian yang panjang, ikhtiar yang luar biasa, serta buah dari doa, upaya, perjuangan, dan pengorbanan istri kami tercinta @AnnisaPohan. Sudah sejak lama kami berikhtiar bersama untuk menghadirkan seorang adik bagi putri kami Almira Tunggadewi Yudhoyono.
Nama “Arjuna” kami ambil dari tokoh utama ksatria dalam epos Mahabarata yang dikenal memiliki keberanian, kecerdasan, integritas, kebijaksanaan, serta keteguhan dalam prinsip. Kami berharap putra kami dapat meneladani sifat-sifat tersebut: berani, cerdas, halus budi, namun kuat dalam prinsip kehidupan.
Nama tengah “Hanyokrokusumo” merupakan nama yang kami mohonkan dari Bapak SBY. Beliau memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam, termasuk Sultan Agung Hanyokrokusumo, seorang pemimpin besar yang patriotik. Harapannya, nilai-nilai luhur tersebut dapat diwarisi oleh putra kami.
Sementara nama “Yudhoyono” memiliki makna perjuangan dan jalan hidup menuju keberhasilan. Maka harapan kami, AHY Junior dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, saleh, berakhlak mulia, dan kelak memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Terima kasih kepada tim dokter RSPI @rspondokindah dan seluruh dokter spesialis atas dedikasi profesionalnya sehingga proses persalinan berjalan lancar dan sehat.
Mohon doa restu dari teman-teman semua agar Arjuna tumbuh menjadi anak yang saleh, berbakti, dan kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Sebaiknya pak Prabowo sedikit rendah hati & tahu diri.
Untuk mendamaikan AS/Israel - Iran, juga kasus Palestina, menurut saya lebih tepat Jokowi.
Karena menurut Silfester Matutina, Jokowi pantas dan dia usulkan menjadi Sekjen PBB.
Pak Prabowo kan tidak ada yg mengusulkan.
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Sebagaimana saya tulis di Cuitan sebelumnya bahwa Saya ingin debat ilmiah, karena Profesor itu bicara ilmu dan pengetahuan holistik tentang ham bukan pembahasan pelaksanaan Tupoksi. Kalau penilaian Tupoksi itu urusan DPR dan Pimpinan.
Lagipula Catatan HAM di Indonesia selalu saya sampaikan kepada DPR dan Publikasi luas melalui media hampir tiap saat, bukan kepada individu.
Pak Ucheng sdh diberitahu Kompas TV bahwa Pigai sudah setuju jam 11.16 Pagi 27 Pebruari 2026 ( semua bukti surat2 elektronik saya simpan), tetapi kenapa Video ini muncul? Semoga bukan karena Pak Ucheng takut atau ragu-ragu kalau debat ilmu pengetahuan tentang HAM lalu mau lari ke soal Tupoksi HAM di Indonesia.
Dan satu lagi saya punya integritas.
Sampai di sini saya sudah paham Pak Ucheng sejauh mana kapasitasnya.
Saya putuskan! Case Close 🇮🇩
https://t.co/177vdswkIZ
Jika Indonesia sepakat dg metode imkanurru’yah (yg mungkin bulan terlihat) lebih 3 derajat dan elongasi 6,4 maka puasa dan lebaran bisa diumumkan dari jauh2 hari serta tak perlu ada sidang istbat. Ini lebih mudah bagi yg di Indonesia Timur dan lebih efesien anggaran.
Akhirnya nonton full Mens Rea nonstop di Netflix setelah bayar 65 rb. Panji memang luar biasa merangkai materi dan membawakannya.
Tapi bukankah semua materi itu sudah gentayangan di medsos dan media umum? Bukankah obrolan di warung2 jauh lebih sadis?
Kenapa hrs dilaporkan? Tolol.
Diujung thn 2025, sy sampaikan 4 kritik (dan saran) utk @Menlu_RI Sugiono. Semoga beliau tidak defensif menerimanya karena yg saya sampaikan ini mewakili pandangan sebagian besar masyarakat pecinta politik luar negeri kita. Semoga pula dapat menjadi bahan renungan yang bermanfaat u/ para eksekutor diplomasi🇮🇩. Silahkan disimak & dikomentari & dikutip. Salam diplomasi, Dr. Dino Patti Djalal
Muhammadiyah Terima Amanah Salurkan Bantuan Kemanusiaan UEA bagi Korban Banjir
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan bantuan kemanusiaan berupa beras sebanyak 30 ton dari Uni Emirat Arab (UEA) tetap disalurkan kepada para korban banjir.
Bantuan tersebut dipastikan tidak dikembalikan ke negara asalnya, melainkan akan diteruskan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Muhammadiyah.
Bobby menjelaskan bahwa bantuan tersebut bukan bersifat government to government (G2G), melainkan berasal dari organisasi nonpemerintah atau non-government organization (NGO) di UEA.
“Ini bukan bantuan G2G. Jadi bukan dari negara Uni Emirat Arab, melainkan dari NGO,” kata Bobby saat diwawancarai pada Jumat (19/12).
Karena bersumber dari NGO, lanjut Bobby, Pemerintah Kota Medan kemudian menyerahkan dan mempercayakan penyaluran bantuan tersebut kepada Muhammadiyah sebagai organisasi kemanusiaan yang memiliki jejaring dan pengalaman dalam penanganan bencana.
“Sebenarnya bukan dipulangkan, tetapi karena ini bantuan dari NGO, maka diserahkan kepada NGO yang ada di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Nanti Muhammadiyah yang akan menyalurkan kepada para korban,” ujarnya.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan mitra kemanusiaan dari Uni Emirat Arab kepada Muhammadiyah dalam menyalurkan bantuan tersebut.
Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terus berkomitmen membantu masyarakat terdampak bencana di berbagai wilayah, tanpa mempermasalahkan status kebencanaan.
“Dalam kerja-kerja kemanusiaan, Muhammadiyah tidak mempermasalahkan status kebencanaan. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, di situlah Muhammadiyah bergerak,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa prinsip gerakan Muhammadiyah dalam merespons bencana adalah sedikit bicara, banyak bekerja, dengan mengedepankan aksi nyata, cepat, dan tepat sasaran.
“Bantuan ini akan segera disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai wujud komitmen Muhammadiyah untuk terus berkhidmat bagi kemanusiaan dan kebangsaan,” pungkas Haedar.
Sumber: https://t.co/TJyF3D9E4h
#Muhammadiyah
@kompascom Seharusnya anda bisa datang dg pesawat anda bawa starlink 10 genset kecil 10 dan semuanya bisa langsung pasang .. tdk perlu tanya2 ( bawa lebih pun bisa )