Penerbit buku sejarah sejak 1998. Toko Buku Kobam Depok Senin-Jumat 08:30-17:00 Sabtu 10:00-16:00 ; Menteng Selasa-Sabtu 11.00-19.00 Minggu 09.30-17.00
Bazar Buku Sukarno dan Jakarta
1 Juni – 22 Juni 2026
Ingin membaca lebih jauh tentang Sukarno dan Jakarta? Temukan berbagai koleksi pilihan yang membahas keduanya dari beragam sudut pandang sejarah, politik dan kebudayaan di Bazar Buku Sukarno dan Jakarta.
“Tujuan penyerbuan Jepang ke Jawa, sebagaimana ke bagian-bagian lain Hindia, ialah mengeksploitasi sumber daya ekonomi. Pedesaan Jawa dianggap mempunyai potensi yang luar biasa dan Jepang mengeksploitasinya seefisien mungkin dengan kontrol yang intensif,” Aiko Kurasawa
“Pemerintah Jepang di Bogor Shū berupaya menjaga loyalitas Pangrehpraja melalui komunikasi yang baik, termasuk mendorong mereka mempelajari bahasa Jepang untuk mendukung kerja sama,” Susanto Zuhdi
“Propaganda Jepang di Jawa tidak terlalu berhasil menciptakan citra Jepang secara positif. Akan tetapi, propaganda ini setidaknya berpengaruh dalam membangkitkan dan memperkuat permusuhan Indonesia terhadap Belanda,” Aiko Kurasawa
“Penangkapan sembilan orang dari Lembaga Eijkman mengejutkan karena mereka tidak terlibat langsung dalam vaksinasi romusha, melainkan hanya sebatas menerima botol vaksin kosong dan sampel kulit bekas suntikan pasien tetanus untuk keperluan pengujian,” Aiko Kurasawa
“Setelah penyelidikan dan pertimbangan, Jepang menuduh Achmad Mochtar dan timnya sengaja mencemari vaksin dengan bakteri tetanus untuk merusak upaya perang Jepang,” J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki
“Dalam pidatonya, Sukarno menegaskan bahwa kemerdekaan politik harus diraih dengan keberanian. Baginya, kemerdekaan adalah langkah awal untuk membangun Indonesia yang dicita-citakan,” Aiko Kurasawa
Peter Kasenda dalam Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926–1933, menceritakan kecintaan Sukarno pada wayang tumbuh sejak kecil. Tokoh Bima dalam pewayangan turut berpengaruh pada karakter politik Sukarno.
#Sukarno#komunitasbambu#bukukobam
“Surat Pangeran Nuku kepada Gubernur Ambon, Bernardus van Pleuren, pada 11 November 1781 menyebutkan bahwa perlawanan yang sudah membara kemudian menyala menjadi aksi akibat penahanan Sultan Jamaludin dan Raja Muda Garomahongi,” Muridan Widjojo
Buku ini membahas pula mengenai budaya dan tradisi masyarakat Indramayu, Cirebon, Brebes dan Tegal. Ternyata setiap jenis hidangan yang tersaji dalam berbagai ritual adat selain menyumbang cita rasa di setiap gigitannya juga mengandung filosofi dan makna tersendiri.
Rempah-rempah memiliki sejarah panjang yang fantastis, dan melalui narasi sastra yang jenaka namun informatif, Jack Turner menelusuri rekam jejaknya dengan memaparkan berbagai kesalahpahaman, peristiwa, serta pencarian dan penggunaan rempah-rempah secara kronologis dan detail.
"Dalam dokumen VOC perahu - perahu dagang seram itu dinamakan jonk. Kata tersebut berasal dari kata jungku yang merupakan istilah umum untuk perahu - perahu pengangkut di Nusantara sejak paling kurang abad ke-16," R.Z.Leirissa
Kokki Bitja yang terbit pada tahun 1854 menjadi buku resep pertama di Indonesia. Isinya memuat berbagai resep yang mencerminkan tradisi kuliner budaya Indis, hasil percampuran beragam etnis dan bangsa.
“Pangan menjadi penting karena menurut Sukarno, dalam mencapai masyarakat sosialis Indonesia, kesejahteraan pangan menjadi yang utama. Atas dasar ini Mustikarasa diperintahkan untuk dikerjakan oleh Sukarno kepada Menteri Pertanian Azis Saleh,” JJ Rizal
“Karisma, kecerdasan, kemampuan berpidato dan kepemimpinan Bung Karno membuatnya dikagumi banyak kalangan. Daya tarik itulah yang menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dan paling memikat dalam sejarah Indonesia” Kadjat Adra’i
“Bagi Sukarno, Islam tidak cukup dipahami sebagai urusan pribadi semata. Nilai-nilai Islam perlu hidup dalam masyarakat melalui kesadaran dan budaya, tanpa harus menjadikan agama menyatu dengan negara,” M. Ridwan Lubis
“Di bawah Demokrasi Terpimpin, Sukarno memberi ruang bagi PKI untuk berkembang sekaligus memanfaatkannya sebagai penopang politik dan penyeimbang terhadap kekuatan Angkatan Darat,” Peter Kasenda
“Sukarno pada saat itu menganjurkan nasionalisasi atau pengambilalihan terhadap perusahaan milik asing terutama Belanda karena Indonesia dengan anti terhadap imperialisme dan kolonialisme ingin menciptakan stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri,” Amiruddin Al-Rahab
“Jika struktur masyarakat Eropa telah melahirkan kaum buruh sebagai golongan tertindas atau proletar, sebaliknya masyarakat Indonesia yang belum industrialis mempunyai kaum marhaen yang juga sengsara dan melarat,” Peter Kasenda
"Selama kapitalisme dalam berbagai bentuknya belum lenyap dari bumi Indonesia berarti revolusi belum selesai, begitu kata Sukarno. Tapi sayangnya, Pemimpin Besar Revolusi kemudian dimakan oleh revolusi yang diciptakannya sendiri," Peter Kasenda