Teman-teman yang sedang berjuang untuk hidup lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera, izinkan saya menitipkan sedikit pemikiran untuk kita renungkan bersama.
Nomor 1, pikiran kita sering menciptakan cerita yang terasa sangat benar.
Kita sering merasa sedang melihat kenyataan apa adanya. Padahal, di dalam kepala kita, ada narasi yang terus bekerja. Pikiran kita menafsirkan kejadian, memberi makna, lalu membentuk cerita.
Sebagian cerita itu lahir dari pengalaman lama, luka yang belum selesai, rasa takut, bias, dan emosi yang masih tertinggal di dalam diri.
Karena itu, semua yang kita pikirkan JANGAN langsung kita percaya. Sebagian perlu kita periksa ulang dengan tenang.
Nomor 2, hal yang kita hindari justru akan mengendalikan hidup kita.
Menghindar memang terasa melegakan di awal. Rasanya aman, rasanya ringan, rasanya kita sedang menyelamatkan diri.
Namun setiap kali kita lari dari rasa tidak nyaman, kita sedang memberi makan rasa takut, rasa malu, kebiasaan menunda, atau luka yang seharusnya mulai kita sembuhkan.
Nomor 3, kita dibentuk oleh apa yang terus kita ulangi.
Identitas tidak terbentuk dari harapan indah yang kita simpan di kepala. Identitas tumbuh dari kebiasaan kecil yang rutin kita lakukan.
Cara kita berpikir, cara kita merespons masalah, cara kita menjaga janji, cara kita bekerja ketika tidak ada yang melihat, semuanya perlahan membentuk diri kita.
Pada akhirnya, kita menjadi hasil dari latihan yang kita ulangi terus-menerus.
Nomor 4, emosi adalah bagian dari diri kita, tetapi hidup kita tetap perlu dipimpin oleh kesadaran.
sedih, takut, marah, kecewa, atau cemas adalah bagian dari spektrum emosi kemanusiaan.
Emosi perlu didengar, diberi nama, dan dipahami. Namun emosi juga perlu dituntun.
Kesehatan mental tumbuh ketika kita mampu mengenali apa yang sedang kita rasakan, menahannya dengan dewasa, lalu menggunakannya sebagai petunjuk, bukan membiarkannya mengambil alih seluruh keputusan.
Nyobain bikin “Nasi Hokben” hasil nyari di internet.
Jadi itu bikinnya pake beras biasa + beras ketan, dengan perbandingan 4:1. Terus dicampur dan dicuci biasa. Pas udah dikasih air, ditambahin 1 sendok makan bubuk agar agar swallow.
Pas udah jadi, kayaknya sih mirip ya? 😅
menanggapi sejumlah posting di X ttg pro-kontra flexiwork karena ada aturan 1 hari WFH bagi ASN, saya pernah nulis ini dulu di @hariankompas. saya kutipkan beberapa bagian.
Agar flexiwork berhasil, ada empat syarat. Pertama, sistem pengukuran kinerja yang kredibel dan terstandar. Saat kehadiran fisik tak lagi jadi ukuran utama, yang mutlak itu adalah capaian kinerja.
....
Kedua, infrastruktur digital yang memadai dan merata. Kesenjangan digital antar lembaga dan wilayah masih tinggi. Kesiapan digital ASN juga bervariasi. Menurut BKN (2023), lebih dari 30 persen ASN daerah tak punya perangkat kerja memadai dan akses internet. Platform kolaboratif yang aman dan terintegrasi juga minim. Tanpa infrastruktur dan literasi digital, flexiwork hanya akan memperdalam ketimpangan dan menurunkan produktivitas.
Ketiga, budaya kerja berbasis kepercayaan dan tanggung jawab. Saat ini birokrasi bekerja hierarkis dengan micromanagement dan kepatuhan prosedural. Ini tak lagi memadai. Perlu budaya baru: otonomi profesional, penilaian berbasis output, dan relasi pimpinan-staf yang kolaboratif.
...
Keempat, kepemimpinan adaptif yang paham arah perubahan. Flexiwork menuntut pemimpin yang paham konteks, bisa memfasilitasi transisi, dan membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian.
...
Esensi flexiwork bukan pada di mana ASN bekerja, melainkan bagaimana dan untuk apa ia bekerja. Birokrasi yang hadir fisik dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 belum tentu menghasilkan kebijakan tajam atau layanan bermutu.
Sebaliknya, birokrasi dengan cara bekerja baru—berbasis nalar, inovasi, dan tanggung jawab—lebih mungkin melahirkan terobosan.
silakan baca lengkapnya:
https://t.co/dcsxcqooQt
cc. @PNS_Ababil
Pemotongan Anggaran di 100++ hari Prabowo-Gibran
S-27/PB/2025, 20 Januari
Inpres 1 Tahun 2025, 22 Januari
S-37/MK.02/2025, 24 Januari
Izin Bapak/Ibu, ingin sedikit berpendapat dengan seujung kuku pengalaman di Perencanaan 🙏
Minggu lalu nemu video ini di fesbuk, terus cobain bikin, soalnya semua bahan-bahannya ada di rumah.
Hari ini pas seminggu dan ternyata emang masih wangi hahahaha..
Fenomena declining birth rate di Jepang yang sekarang terjadi tuh hasil dari proses panjang sejak tahun 80an. Faktornya? Buanyaaak. Ada data grafik perubahannya sejak tahun 80an nih, detail banget. (Dan super panjang! Ada berapa halaman auk ga ngitung 😂)
https://t.co/NkEgL1EM5z
Menikahlah saat Prefrontal Cortex di otakmu sudah berkembang sempurna (rata2 di atas 25 th, beberapa org di atas 30 th), ini akan membuat kamu lebih mampu mengkonsiderasi semua konsekuensi pernikahan.
Biar pernikahannya awet dan bahagia sampai hnya mautlah yang mampu memisahkan.
Ini salah kaprah. Stunting itu kurang gizi jangka panjang, terjadi di 1000 hari pertama kehidupan; hamil s.d. usia 2th. Gejala paling mencolok memang tinggi badan di bwh standar; namun dampak paling besar adalah kecerdasan. Stunting tidak bisa dicegah di usia sekolah. Tapi ....
Selain Hatta, siapakah tokoh lain yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dan memaparkan pidato yang juga tak kalah "menggelegar"?
Tidak lain adalah sang proklamator: Ir. Soekarno, yang memaparkan pidato Doktor (HC) berjudul "Ilmu dan Amal"
Kemarin lusa hari demokrasi internasional. Saya juga baru sadar karena diminta DW menulis. Dan ketika diminta menulis, saya langsung dan cuma kepikiran satu hal. Jokowi. Jokowi adalah kasus menarik—dan paradoksal—demokrasi. Saya pernah bikin utas tentang hal ini juga sebelumnya.
Yang ngefans mas-mas kacamataan belakang Sjahrir (Dr Soedjatmoko) perlu membaca 300+ tulisan beliau yang didigitalisasi di https://t.co/vLFZtjZXbJ
dlm rangka 100 tahun Soedjatmoko, Januari lalu.
Pada 13 Juli 2021, #ProgramRISE menggelar webinar “Meneliti Respons Daerah dalam Desentralisasi Pendidikan” yang mengangkat peran pemda dalam desentralisasi pendidikan dengan tujuan menyampaikan perkembangan terbaru penelitian RISE kepada para pembuat kebijakan pendidikan.