@Andiarief__ Tapi di pengelolaannya bang. Selama ini banyak program pemerintah bagus di awal, lalu rusak karena mental birokrasi dan titip kepentingan. Lihat saja banyak gerai pasar murah pelayanan seadanya, pegawai kurang ramah, harga kadang lebih mahal.
@saiful_mujani BLT dulu dihujat “bagi-bagi uang”. Sekarang MBG dihujat “bagi-bagi makan”. Besok kalau rakyat dikasih akses kerja mungkin dibilang “bagi-bagi harapan”. Lama-lama negara disuruh diam saja supaya dianggap netral, sementara rakyat miskin tetap antre nasib.
@saiful_mujani Kalau logikanya begitu, berarti semua program pemerintah yang menyentuh rakyat otomatis dianggap alat politik. Jalan dibangun? Politik. BPJS? Politik. Bantuan pupuk? Politik. Sekolah negeri? Politik. Sampai posyandu pun nanti dicurigai “mobilisasi massa sambil timbang balita”.
@saiful_mujani Padahal hakekat negara memang hadir lewat program publik. Dalam sistem demokrasi, kebijakan yang dirasakan rakyat pasti punya efek elektoral. Itu bukan otomatis berarti jahat atau manipulatif. Yang membedakan adalah: programnya bermanfaat atau cuma kemasan kosong.
@Billy_Naravit Dulu pernah ada partai oposisi yang menyerang kebijakan BLT utk rakyat miskin dihapuskan! namun setelah dikasih kesempatan berkuasa, mereka memakai BLT jg utk keperluan periode keduanya. Omon2 orang yg blm berkuasa memang unik namun minim kreatifitas. 🤦
@Andiarief__ Hmmm iya jg sih. Revolusi Prancis terlihat meledak dalam beberapa tahun, tapi bibitnya sudah matang puluhan tahun sebelumnya.
"ambisi bisa memicu percepatan, tapi tetap butuh waktu untuk benar-benar berhasil."
@Andiarief__ Bukan soal siapa benar atau salah dulu, tapi siapa yang lebih keras, lebih sering, dan lebih terstruktur menyuarakan narasi. Social Contagion
@Andiarief__ Memang ini agak menarik bang. Banyak orang sebenarnya diam-diam setuju, tapi masing-masing mengira “orang lain pasti tidak setuju”. Jadi semua salah baca suasana, dan akhirnya ikut arus yang sebenarnya tidak mencerminkan isi hati mayoritas. Ilusi mayoritas
@Andiarief__ Isu yang bukan organik, tapi “diproduksi” lewat framing, buzzer, atau narasi berulang. Jadi terlihat besar, padahal awalnya kecil.
10 orang suka, tapi diam. 2 orang benci, tapi teriak pakai toa. Dari luar, terdengar seperti semua orang benci
Ide bangun ulang ojol ini ternyata banyak yang notice & minta aku bantu 😅
Kalau dibangun sekarang2 ini, aku yakin tech seperti Gojek bisa lebih efisien, lebih murah, dan potongan aplikator bisa turun dari 30% ke 5% 👏
Dampaknya, lebih banyak rakyat yang sejahtera 😊
Tapi...
@saiful_mujani Sebagai rakyat biasa, saya mendukung penuh kebijakan pemerintahan @prabowo. Dan disaat bersamaan sayapun mendukung oposisi untuk terus mengkritik, bahkan harus sangat keras
@bangherwin Kaya gak tau aja gmn institusi2 yang ada. Terlalu sporadis juga malah timbulkan kekacauan! Solusinya buat lumbung baru sambil pelan2 singkirin tikus2 di lumbung lama sampai benar2 bersih. Dan kita bisa saksikan saat ini, tikus2 itu protes dan teriak dgn menyewa buzzer2 🤪
@mhuseinali@Market_dino Iran sdh di bombardir sblm ada penutupan selat hormus, gmn sih ente? Lg pula candaan lengkap Menkeu jg dia bilang gak akan dimungkinkan.
@LambeSahamjja Proyek APBN merata ke seluruh lapisan masyarakat. Setelahnya (2014) hingga kini, hanya terbagi di seputaran kelompok dan golongannya saja. 🤦
@rachlannashidik Inilah satu2nya kekhawatiran bangsa Indonesia, disaat mengHaruskan bergandengan tangan dengan negara yang overacting behavior. @prabowo
@NataliusPigai2@msaid_didu Setuju! Hentikan saja budaya lapor melapor seperti itu. Kritik itu bagian dari demokrasi, dan demokrasi memiliki peran penting dalam sistem pemerintahan di Indonesia.