Berdamai pada masa lalu.
Ia sudah terjadi. Dan memang semestinya hrs terjadi.
Tapi, aku pun pantas untuk bahagia tanpa terus melihat yg sudah terjadi.
Terima kasih, waktu dan keadaan.
Selamat malam,
Larasati
Jika memang masih ada yg memaklumi akan hal itu, atau setidaknya membiarkanku tetap bersedih akan hal itu tanpa disalahkan, rasanya aku seperti di tolong.
Ditolong, iya. Bahwasannya terkadang melupakan itu benar-benar sulit.
Bahkan mungkin tidak bisa. Aku coba untuk berdamai
Tapi, bukankah memang begini perasaan wanita?
Ia mungkin dapat terus membahas dan merasakan kesedihan walau sudah bertahun - tahun lamanya?
Bukankah memang seperti itu kodratnya?
Apa salah, jika kini aku pun merasakan kesedihan yg sama yg hrsnya sdh tdk perlu dibahas? :(
Satu tahun lalu ada pelajaran yg semestinya sudah bisa dilupakan, pelajaran untuk menghargai dan memaknai
Walau, prosesnya harus bertumpahkan air mata panjang nan melelahnya.
Terbuang, terhempas, teracuhkan.
Seperti itu yg sudah dialami.
Tapi sudahlah, malam ini tak ingin membahas itu soal padamnya listrik lagi.
-
Bulan Agustus sudah berjalan 5 hari, mungkin rasanya sama aja bagi sebagian orang.
Tapi.. Ada makna lain yg sulit untuk dilupakan dibulan ini. Sangat sedih.
Apa msh bole dibahas? :')
Hi. Selamat malam, twitter. Ada yg sudah bahagiakah karena saat ini listrik sudah berjalan stabil?
-
Sempet kesel kah?
-
Tp satu hal, mungkin dibalik kekesalan kita karena padamnya listrik, ada yg rela ngga tidur demi listrik trsbt bisa kembali kita gunakan:)
Hampir di satu tahun yg lalu, aku tak ingin berada di rumah ini. Aku ingin pergi, membunuh harapan, menghancurkan kenangan. Aku tak ingin berada di sini.
-
Saat ini, aku hanya ingin di sini. Duduk, merenung, berharap, bahkan hanya ingin di sini tanpa melangkah sedikitpun.