Masy kt skrg berada dlm tahap solipisme. Mrk mrs asyik sendiri, saling klaim mengklaim n mrs benar sendiri. Byk ide aneh muncul, berayun dari yg ekstrim ke yg moderat n sebaliknya. Semuanya campur aduk n sulit utk dibedakan. Oleh krn itu kt prlu pembicaraan akal budi, bkn yg lain
Di tengah kehidupan kita saat ini, tampaknya,masy terlampau murah mengumbar kekerasan, kebohongan, dan tipu muslihat. Org dipaksa utk meyakini semua hal seperti itu, shg kehidupan tampak kurang damai dan penuh gesekan. Dlm situasi seperti itu, ruang diskusi dan dialog hrs dibuka!
The good life builds on connection and purpose. That our wealth is not measured by the size of our bank accounts but by the strength of our bonds, the health of our love ones and the level of our gratitude (Meik Wiking, 2019).
Kalau kita perhatikan, praktik kehidupan masy kita masih masuk kategori kurang mencerdaskan. Banyak diantara anggota masy masih tertarik untuk berdebat, mendiskusikan ttg sesuatu yg bersifat hoax, bodong, n tanpa isi. Pdhal, tugas bersama kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa
Mengapa masy kita gemar sekali menghabiskan energinya untuk memperdebatkan hal-hal yg kurang penting? Mungkin ini berkait dg tingkat pendidikan masy kita. Atau mungkin skrg tengah berkembang kegenitan intelektual di dlm masy kita. Mrk merasa tahu, walaupun sebetulnya tak tahu.
Perdebatan dipublik ditengarai sdh “memakai akal sehat”, tapi mengapa tidak cukup? Perdebatan omong kosong masih saja berlangsung. Mungkin kita semua membutuhkan mawas diri kolektif agar percakapan betul2 menggunakan akal sehat ilmiah (ada data, fakta, argumentasi, dan akurasi)
Dlm kerumunan yg meluas ketika Covid-19, org sering menganggap dirinya beruntung krn tak terkena pandemi ini. Tp lupa bahwa org seperti ini akan juga berpeluang jadi pihak yg tak beruntung, dan Justru terbuka lebar terpapar pandemi dg risiko terburuk. Mari kita disiplin dlm 3 M
Manusia bisa sangat kreatif dlm membuat pernyataan. Tapi, ketika pernyataan itu menunjuk kpd dirinya, manusia mengabaikannya, bahkan menolaknya. Org acap abai terhadap makna dari suatu pernyataan yg diucapkannya, krn org lebih suka untuk membenarkan apa yg dikatakannya. Ini=bias!
Sekarang ini, media sosial dipenuhi oleh percakapan bodong. Penguasa, elite, tokoh, pakar, intelektual, org awam menyatakan sesuatu yg tak akan dikerjakannya. Apa yg dikatakan bukan itu yg dilakukan. Isi percakapan sumir mengawang-awang, shg Kita jd masy hipokrit, berpura-pura.
Sekarang dimana-mana terjadi perdebatan. Tp, banyak sekali org tak tahu cara membuat argumen logis. Kita kemudian menjadi frustasi. Percakapan didominasi oleh perasaan marah. Org ingin sekali menjatuhkan lawan bicara, bukan mencari solusi terbaik untuk kepentingan bersama!
Sekarang ini, kita sdg mengalami kejengkelan kolektif krn banyak sekali org yg memberikan informasi tak akurat dan meragukan. Org berkata-kata dg ketidaktahuannya. Org tak tahu bahwa dirinya tak tahu, tetapi org itu tetap saja merasa tahu, bahkan sok tahu. Berkata tanpa argumen.
Mulai hari ini, kita hrs menghindari praktik dari adigium bahwa mengetahui sedikit tentang sesuatu berarti kita telah jadi pakar. Sebab, mengetahui tak sama dg memahami. Pemahaman tak sama dg analisis. Keahlian tak sama dg kesukaan melontarkan spekulasi dan info2 trivial.
Selamat Idul Fitri 1442 H. Semoga kita semua memperoleh ridho dan kasih sayang Allah SWT. Mari serentak memajukan Indonesia agar masynya lebih modern, sejahtera, dan berkeadilan. Mari kita membangun saling percaya agar masa depan dpt ditata dg lebih fokus!
Damai itu letaknya di hati nurani. Hati nurani dibangun oleh penghayatan kita ttg nilai-nilai baik, mana yg benar n mana yg keliru. Bs membedakan mana yg baik n mana yg buruk. Ukurannya adalah nilai2 keadaban publik yg berlaku universal. Mari kita upayakan agar hidup kita beradab
Mari kita manfaatkan hari natal n tahun baru sbg momentum utk mengukuhkan kembali eksistensi manusia sbg mahluk yg diciptakan secara plural, multi-kultur. Manusia tak diciptakan dg ciri tunggal. Manusia bersuku2 bangsa dg keunikannya masing2 agar saling “bekenalan” satu dg lain.
Mari kita sudahi pertengkaran—apapun bentuknya. Mari bersama saling mengingatkan untuk melaksanakan protokol kesehatan agar tak menjadi “carrier” covid-19 kpd keluarga, teman, sejawat, dan masyarakat luas. Kita semua bertanggungjawab thd kesehatan dan keselamatan bersama!
Tren penambahan kasus covid-19 meminta kita semua, baik pejabat, elite masy, tokoh, kiyai, ustad, kaum intelektual, kelas menengah, maupun awam agar tetap melaksanakan protokol kesehatan dg ketat, tanpa kompromi, dan tanpa aling2. Mari kita berusaha untuk keluar dari situasi ini.
Dlm praktik kehidupan, thd satu fakta tdpt pluralitas makna, krn hidup itu sendiri hrs diinterpretasikan. Aplg jika melibatkan lapisan simbol2 n makna2. Kt hrs mampu mengupas makna dr setiap lapisan yg tersembunyi. Oleh itu, kt hrs mampu melakukan interpretasi thd makna tsb
Hari ini kita memperingati hari guru. Tp kita tak akan memberi selamat kpd “hari guru”. Dihari ini, kita ingin mengingat kembali satu tugas guru yg mulia, yakni membangkitkan kembali “energi dalam” dari sebuah intelegensi, dan menempatkannya kembali dlm sebuah proses berpikir