Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah
Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic.
✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran.
✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR.
✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1)
✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors).
✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession).
✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius.
Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur.
✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.
Lo sebel Indonesia ga lolos ke Piala Dunia sampai tau fakta kalo waktu Patrick Kluivert lagi nganggur dan akhirnya ditunjuk jd pelatih Timnas, John Herdman juga posisinya lg nganggur
Level sebelnya jadi double, triple, x100
“Normalisasi ga usah ngasih THR”
“Normalisasi gausah silaturahmi”
Guys, jangan coba-coba hilangin vibes lebaran ya. Kalo pelit dan males sendirian aja gausah sembunyi dibalik normalisasi😅
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausiyah pada 1 Maret 2026 yang mengecam eskalasi serangan militer Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sebagai pelanggaran nilai kemanusiaan dan perdamaian selama bulan Ramadhan.
MUI menyatakan dukungan solidaritas terhadap Iran dan Palestina, sambil mengutuk agresi tersebut sebagai bentuk ekspansionisme yang bertentangan dengan norma internasional dan Deklarasi PBB.
Pernyataan ini menyerukan PBB serta OKI untuk mengambil langkah maksimal guna menghentikan konflik, mewujudkan perdamaian abadi, dan melindungi umat manusia secara global.