“To my friend who isn't my friend anymore.
I used to know all your colours and share the same hues,
but now you've become a you I'm colourblind to”
I'm in love with this poem by Maxine Meixner 😭😭😭😭
The best beginning of a relationship I’ve ever heard:
“We sat next to each other and realised we were reading the same book, which is crazy. It’s called Trust [by Hernán Díaz] and I had just finished the first chapter and I told her and she looked at me and said, ‘I just finished the first chapter too.’ I said, ‘So we’re on the same page.’”
— Callum Turner on meeting Dua Lipa
"some people say that watching a good movie (as a director) creates more stress thinking, 'why can't i do it like that?'. but that's not true for me, i don't really compare myself much. i focus on the movie and think it's wonderful that art like this exists in the world and feel grateful for it. in such a messy world, there are people who create works like this, and it's such a relief that these works have been completed and i get to see them.
in fact, i get stressed when i see works that aren't very good. not just movies but things under the name of art that pretend to have depth and act all arrogant. as if they're desperate for recognition & wanting to be acknowledged but are empty works. honestly, most art these days makes people so tired and often feels like a kind of pollution. so if you want to do something, you really have to do it well and thinking like that just adds to the stress."
park chan-wook's most repeatedly watched films that he loves:
- vertigo (1958)
- the exorcist (1973)
- don't look now (1973)
- the wicker man (1973)
also films by:
- mikio naruse
- yasujirō ozu
- kim ki-young
- lee doo-yong
- hah myung-joong
At 25, I was lost.
At 35, I was stuck.
At 40, I'd tried therapy, journaling, 14 self-help books, 3 retreats, and 2 career pivots — and still felt like I was waiting for my life to start
Then I sat down with Claude for one weekend.
Here are the 8 prompts that gave me clarity I'd been chasing for 20 years:🧵👇
“If there's anyone out there living in the endless darkness, I hope u continue to endure until the morning eventually comes”
“Yesterday has passed, tomorrow is yet to come & today is still unknown, so let's live well for today”
Her acceptence speeches are always so deep 🥹
Instead of watching an hour of Netflix, watch this 2 hour hour Stanford lecture will teach you more about how LLMs like ChatGPT and Claude are built than most people working at top AI companies learn in their entire careers.
Cha Seungwon once said...
"If you don’t have the ability, you should at least have passion.
If you don’t even have passion, then you should at least be humble.
And if you can’t even be humble, then at least have some awareness (read the room/act wisely)."
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.