Tidak akan ada yang tahu, bagaimana caranya kembali sebagai ia yang lebih kuat daripada yang lain bisa capai. Pintu raksasa tertutup, dan akhirnya jiwanya kembali sepenuhnya dalam raganya. Setengah kesadarannya kini membuatnya limbung di lantai, nyaris memuntahkan isi perutnya.
“Pergilah, kamu dianugerahi sebagai yang pertama diantara seluruhnya. Satu-satunya, dan akan selalu jadi yang pertama.”
Percobaan, katanya. Miris sekali. Namun setiap sisi negatif selalu berisi sisi positif. Setidaknya, tidak akan ada yang menahan dirinya sendiri.
Rasanya pilu, itu terdengar seperti pernyataan bahwa ia sudah tidak cukup kuat untuk menyokong peperangan. Mungkin ini alasan mengapa sudah tak pernah namanya secara bergema diteriakkan di medan perang.
Ingatannya sudah tumpul, padahal kemampuannya masih setajam pedangnya.
Sedangkan pikirannya mengawang jauh dari tempat, meninggalkan raga yang setengah hidup sebab ditaklukkan oleh rasa takut.
“Setiap dari bangsamu adalah makhluk yang kuat. Namun, sama dengan mereka, seberapa kuat pun dirimu, pada akhirnya kamu sudah sampai pada titik akhirmu.”
Nama itu bergema asing, sudah lama tidak mendengar orang lain menyebutnya. Sebab ia lebih mengenal nama lain yang sayang—sama asingnya dengan ingatannya.
Kaki bersimpuh secara spontan setelah nama itu bergema, kepala menunduk pada lantai granit yang tak berpola.
Ini tempat pengadilan, tempat khusus yang tak semua orang bisa menginjakkan kaki mereka di sini. Lebih penting daripada kantor pemerintahan waktu itu sendiri. Karena di dalamnya, jantung waktu berdetak menjaga aliran waktu yang terus berubah.
“Yamanbagiri Chougi.”
Pintu raksasa itu terbuka secara otomatis, seakan sudah menunggunya lama untuk akhirnya terbuka. Banyak mata tak kasat mata yang menatapnya, membuat bulu kuduknya merinding. Ia kencangkan cengkraman pada pedangnya, sebelum membiarkan tungkainya membawanya masuk ke dalam ruangan.
Asing rasanya menjejakkan kaki pada marmer kelabu yang selalu terasa dingin seberapapun banyaknya langkah yang menginjaknya. Rasanya selalu mencekam, selalu penuh dengan ancaman tak berbentuk. Bagaimanapun, tempat ini bukan favoritnya diantara ruangan kantor pemerintahan waktu.
// maaf aku telat, tapi otsu buat semua peserta yang sudah ikut event ini! terimakasih sudah mau mengikuti cerita kami yang lainnya, meskipun ada plot twist yang tidak disangka-sangka.
maaf saya kurang aktif karena sibuk, semoga di event selanjutnya saya bisa berinteraksi lagi!
【 𝗧𝗛𝗔𝗡𝗞 𝗬𝗢𝗨! 】
Event「 ~刀ノ記憶~ Utopia of the Tranquil Moon 」telah sampai di halaman terkahirnya.
Waktu kita bersama sang rembulan telah berakhir. Ditutup, akhirnya, dengan kedamaian dan harapan untuk apapun yang akan datang selanjutnya.
Untuk itu, terima kasih.
@OsafuneDragon "Nozoki-kun... " ia membalas genggaman tangan itu dengan erat. Tak lama seulas senyum terukir di wajahnya.
"Terima kasih, biarkan saya menjadi teman, sahabat, dan siapapun itu hingga maut memisahkan. Biarkan saya yang mendampingi Anda selamanya."
【 𝗧𝗛𝗔𝗡𝗞 𝗬𝗢𝗨! 】
Event「 ~刀ノ記憶~ Utopia of the Tranquil Moon 」telah sampai di halaman terkahirnya.
Waktu kita bersama sang rembulan telah berakhir. Ditutup, akhirnya, dengan kedamaian dan harapan untuk apapun yang akan datang selanjutnya.
Untuk itu, terima kasih.
@OsafuneDragon Air matanya menetes lagi di pipinya. Mengingat bahwa masalah ini bukanlah hal dan perkara mudah untuk siapapun. Apalagi dirinya sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarganya.
"Nii-chan..." Ia terisak lagi, entah mengapa begitu.
[ @OsafuneDragon ]
@OsafuneDragon "Ah…" wajahnya masih lesu, meskipun mungkin kakaknya berusaha untuk membuatnya percaya diri lagi.
"Aku akan berbicara dengan Hinata, tapi… tidak tahu kapan… aku takut…"
"Tapi, aku juga ingin membesarkan seorang anak…"