Gue baru tahu kalau QRIS yang ada di warung atau toko kecil kita ternyata bisa dipakai turis asing buat bayar. 😂
Kalau merchant sudah punya QRIS, nggak perlu bikin sistem pembayaran baru khusus turis.
Dulu mikir tabungan cepet habis gara-gara pengeluaran besar. Pas dicatat rapi, pemicunya micro-costs: admin bank, parkir liar, jajan kopi pas stres, sama langganan app yang jarang dibuka.
Kebocoran halus itu jauh lebih jahat dari tagihan bulanan.
Pajak marketplace sebenarnya bukan pajak baru.
Yang berubah adalah mekanismenya.
Nantinya marketplace yang ditunjuk akan memungut PPh 22 sebesar 0,5% sesuai ketentuan.
Mulai berlaku 1 Nov 2026.
Yang menarik justru: marketplace semakin masuk ke administrasi bisnis seller.
Indonesia dilaporkan akan mulai menerapkan pemungutan pajak penghasilan ecommerce pada 1 Oktober 2026, dengan marketplace besar ikut memfasilitasi pemungutannya.
Buat seller, pertanyaan pentingnya bukan cuma:
“Omzet gue berapa?”
Tapi:
“Net profit gue berapa?”
Gue mulai curiga sama satu kata di konten:
“MAU.”
“Komen MAU, nanti gue kasih caranya.”
Komen
Masuk DM
Klik link
Masuk Lynk
Ternyata ada produk.
Ternyata “MAU” bisa jadi bukan cuma CTA.
Bisa jadi pintu masuk sebuah funnel.
Dimana antara marketing yang pintar dan misleading ?
Ketika AI berkembang, yang ikut bergerak bukan cuma perusahaan pembuat chatbot.
Chip, data center, listrik, cloud, sampai infrastruktur ikut terdampak.
Kadang bisnis paling menarik dari AI justru berada di belakang layar.
Kalau ada yang lagi cari akses Google AI Pro, gue nemu salah satu opsi di Shopee.
Tapi cek dulu mekanisme aktivasi + jenis aksesnya sebelum beli, terutama kalau ditawarkan lewat family group.
Link: https://t.co/KD0KkdGNFI
Kita mulai bayar AI satu-satu:
AI writing.
AI image.
AI video.
Cloud storage.
Google AI Pro menarik karena banyak kebutuhan itu mulai disatukan dalam satu ekosistem.
Bukan cuma soal AI mana yang paling pintar.
Tapi berapa banyak workflow yang bisa kita sederhanakan?
Dulu brand berlomba masuk Google.
Besok mungkin mereka berlomba masuk jawaban AI.
Karena kalau orang mulai bertanya ke AI sebelum membeli sesuatu, pertanyaan baru muncul:
“Bagaimana produk kita bisa direkomendasikan AI?”
Sadar gak, postingan yang ada link luarnya di X atau Threads jangkauannya makin ditahan algoritma?
Platform pengen pengguna tetap di aplikasi mereka. Solusi terbaiknya: Bikin konten value dulu, baru arahkan orang ke link kurasi di profil bio kamu.
Kalau masih pakai AI cuma buat tanya-jawab di kolom chat biasa, kamu kehilangan 50% potensinya.
Fitur kaya Canvas atau Artifacts ngubah AI dari sekadar "mesin jawab" jadi "ruang kerja berdampingan". Efisiensi buat bikin draft kepangkas lumayan banget.
Banyak orang belajar AI dengan menghafal prompt.
Menurut gue, itu bukan bagian terpenting.
Yang lebih penting adalah tahu masalah apa yang mau diselesaikan.
Prompt bisa dipelajari. Cara berpikir jauh lebih penting
Kalau kamu sering pakai AI buat kerja atau bikin konten, coba lihat ini.
Gemini + Veo + Nano Banana + NotebookLM + Deep Research + Google Drive 5 TB dalam satu paket.
Mulai Rp47.900.
Buat content creator, freelancer !!
👉 Cek di Shopee : https://t.co/rI67t051og
Percayalah semua akan berakhir dengan baik.
Jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah, jangan pernah berkecil hati.
Hadapi semua dengan senyuman 😊