Hipokrisi Blinks Terhadap Lisa
1. Bukan Sekadar Hipokrisi, Tapi Selective Hostility
Mereka tidak sedang berjuang mempertahankan citra “sayang semua member”.
Mereka memang sudah menempatkan Lisa di posisi out-group di dalam in-group.
Artinya Lisa secara psikologis sudah “bukan bagian dari kami” meski formalnya masih member BLACKPINK. Ini menjelaskan kenapa kritiknya jauh lebih kejam, lebih personal, dan lebih sering dibanding member lain.
2. Favoritisme yang Ekstrem (In-group Hierarchy)
Pola “stand solo member lain, kecuali Lisa” menunjukkan ada hierarki afeksi yang sangat jelas di dalam fandom.
Secara psikologi sosial:
1. Ada member yang dianggap “milik kami” (boleh dibela mati-matian).
2. ada member yang dianggap “beban” atau “saingan” (boleh dikorbankan).
Lisa sering diposisikan di kategori kedua. Ini bisa didorong oleh:
- Rasa iri terhadap popularitas global Lisa,
- Perasaan bahwa Lisa “terlalu besar” sehingga mengalahkan narasi member lain,
- Atau sekadar preferensi estetika/karakter yang sudah lama terbentuk.
3. Moral Disengagement yang Lebih Dalam
“Dia memang pantas dibenci.”
“Kami cuma kasih fakta.”
“Kalau dia di-hate fandom lain, itu salahnya sendiri.”
Ini moral disengagement level lanjut. Mereka tidak lagi merasa perlu pura-pura sayang di depan publik. Yang tersisa hanya pembelaan diri dan penyerangan.
4. Parasocial Relationship yang Sudah Rusak Total
Mereka merasa berhak mengatur image Lisa, dan ketika Lisa tidak tunduk (solo activity, brand, gaya hidup), responsnya bukan kecewa, tapi penghukuman (set-up, sebar narasi negatif, diam saat dia diserang).
Kesimpulan :
Ini bukan lagi hipokrisi biasa (pura-pura sayang sambil benci).
Ini sudah masuk ke pola preferential hostility dan active scapegoating di dalam fandom
Lisa diperlakukan sebagai anggota yang “boleh dikorbankan” demi menjaga kenyamanan dan posisi member yang lebih disukai.
#LISA
#LALISA
#LISADeservesBETTER
@wearelloud