@ryeeku Kalau bahas beginian, jujur, kalian tidak pantas. Berkaca dengan 7 pemain palsu kelian kemarin 🤣👊 tapi kalau kalian sebar berita dan fakta bobroknya pemerintah niscaya kami akan bantu aminkan.
Dear Indonesians,
Your loved ones are dying and so are people in neighbouring countries. Lives have already been lost.
For your sake, your families and ours, please tell your government to wake up 🙏🏼
@wafiyqqqq 🙇 iyaaa iyaaa kalian terbaik iyaaaa. Sudahi ketololan ini. Kalau kalian merasa tersakiti sama banteran netizen Indonesia ya ga usah nge banter. Ngebanter kena banter balik kok koar koar.
@ryeeku Serius ga malu bahas gini terus, serius ga ingat kejadian sebelum ini, serius? Serius? Se delusional itu? Se playing victim iti? Se ga berani sebut secara jelas pelaku kekacauan memalukan kemarin akhrinya melampiaskan ke negara lain? Serius? Sebodoh itu? 👊
@BolaSepakTRG@Changsuek_TH Iya iya malay terbaik, lebih hebat dari Argentina, brazil, spanyol italia dan semuanya. Iya iyaa
Lanjut impor pemain dr antah berantah lagi kasih passport la
@MasFootballHub So, why so many people from your side always think Indonesia just jawa and malayu? Man we're bigger in term of size and population than malay. When we're playing the same game like you, korang selalu merasa paling tersakiti.
@OnefootballM Harusnya push kalian punya pemimpin yg bertanggung jawab, bukan koar2 ke negara lain yang sudah berhasil dengan program naturalisasi yang sah 🗿
Tadi malam, ketika melihat Indonesia untuk pertama kalinya mengangkat trofi ASEAN Cup di Gelora Bung Karno, saya berpikir bahwa sepak bola sedang mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh melampaui lapangan: apa artinya menjadi bagian dari sebuah bangsa?
Sebagian besar pemain dalam tim nasional ini lahir di luar Indonesia. Bahkan, pada suatu titik, kesebelas pemain di lapangan semuanya lahir di luar kepulauan Indonesia. Sebagian adalah anak atau cucu orang Indonesia yang tumbuh di negara lain. Hal ini membuka perdebatan yang sangat kami kenal di Meksiko: apakah keturunan saja sudah cukup? Apa peran budaya, bahasa, pengalaman hidup, dan ikatan emosional dengan sebuah negara?
Meksiko secara aktif mencari talenta-talenta muda keturunan Meksiko yang lahir di Amerika Serikat. Banyak dari mereka tumbuh di antara dua budaya dan dapat merasa sepenuhnya Meksiko sekaligus Amerika. Hukum kami memungkinkan kedua kewarganegaraan tersebut; Indonesia menghadapi realitas hukum yang berbeda.
Mungkin karena itu, percakapan ini terasa begitu universal bagi saya. Bangsa-bangsa di abad ke-21 tidak lagi dapat dibatasi oleh garis perbatasan. Migrasi telah membuat jutaan orang memiliki lebih dari satu rumah, lebih dari satu bahasa, lebih dari satu ingatan, dan terkadang lebih dari satu cara untuk merasa menjadi bagian dari sebuah negara.
Sepak bola membuat semua ini terlihat dengan cara yang luar biasa emosional. Ketika seorang pemain yang lahir jauh dari tanah leluhurnya menyanyikan lagu kebangsaan dan mengenakan jersey negara orang tua atau kakeknya, belum tentu ia sedang memilih antara dua identitas. Bisa jadi, ia sedang menemukan bahwa keduanya adalah bagian dari dirinya.
…..
Anoche, viendo a Indonesia levantar por primera vez la Copa ASEAN de la FIFA orgullosamente en el Gelora Bung Karno, pensaba que el fútbol les puso a los amigos indonesios una pregunta que trasciende el fútbol ¿qué significa pertenecer a una nación o a un país o a una selección?
Una parte importante de este equipo que ganó anoche nació fuera de Indonesia, en algún momento los 11 jugadores en la cancha no habían nacido en el archipiélago. Algunos son hijos o nietos de indonesios que crecieron en países europeos y eso ha provocado una gran polémica ¿basta con tener ascendencia? ¿qué papel juegan la cultura, el idioma, la experiencia de vida y el vínculo emocional con el país? ¿en qué momento alguien deja de ser “diaspora” para convertirse simplemente en “indonesio”?. Me resulta imposible mirar esta discusión sin pensar lo que hemos ya discutido en México.
México busca activamente a jóvenes de origen mexicano nacidos en Estados Unidos. Muchos crecieron entre dos culturas y pueden sentirse (o no) plenamente mexicanos y estadounidenses al mismo tiempo. Nuestra legislación permite esa doble pertenencia, Indonesia enfrenta una realidad jurídica distinta, o acepta doble nacionalidad.
Quizá por eso el debate me parece tan universal. Creo que las naciones del siglo XXI ya no caben dentro de sus fronteras. La migración ha generado que millones de personas puedan tener más de una casa, más de un idioma, más de una memoria y, a veces, más de una manera de sentirse parte de un país.
El fútbol simplemente hace visible esa conversación de una manera extraordinariamente emocional. Cuando un país decide abrir lugar a esos jugadores, también está decidiendo algo sobre sí mismo: quiénes somos y a quiénes consideramos nuestros.