PHK massal. 34 orang, termasuk aku, dipanggil ke ruang meeting jam 9 pagi, dikasih tau lewat 1 slide power point yang judulnya "Efisiensi Organisasi".
Gak ada yang nangis di ruangan itu. Semua diem, saking kagetnya.
Setelah pengumuman, HR ngasih penjelasan cepet soal hak-hak kita: pesangon, JHT, sama JKP alias Jaminan Kehilangan Pekerjaan.
Penjelasannya buru-buru banget, kayak lagi baca dari kertas contekan. Aku sampe harus nulis di HP sendiri biar gak lupa istilahnya.
Aku pikir, oke, minimal ada kejelasan. Ternyata itu baru awal dari ribetnya.
Aku coba klaim JKP lewat aplikasi seminggu setelah PHK, sesuai yang disaranin.
Statusnya "ditolak", tanpa alasan jelas di layar. Aku telpon call center, nunggu 40 menit, akhirnya dikasih tau: laporan PHK dari perusahaan belum masuk sistem BPJS Ketenagakerjaan.
Jadi aku yang harus balik lagi ke kantor lama, minta HR ngelaporin, padahal mereka yang PHK aku duluan.
Aku cerita ke temen seangkatan PHK, namanya Fikri. Masalah dia beda lagi: JHT-nya ketahan karena nama di KTP sama di data BPJS beda satu huruf, typo dari HR waktu daftar dulu.
Dia harus urus surat keterangan ke Disdukcapil dulu sebelum bisa klaim.
Dua masalah beda, tapi sama-sama bikin capek: yang salah bukan kita, yang harus benerin, ya kita.
cc : leunira3fhlumumba
@profesor_saham 16 jutaan sebulan buat manajer kopdes, digaji APBN 2 tahun pertama. Sementara 490 pemda hampir gak mampu bayar gaji PNS.
Perlu dipertanyakan prioritas anggarannya gimanaπ€£
@profesor_saham Ya allah haramkan uang pajak kami yang tidak digunakan semestinya. Berikan lah balasan yang setimpal baik di dunia maupun di akhirat bagi mereka ya allah.