Tau ga sih ini udah (hampir) kaya 98? Pergerakan kita diawasi, kekuasaan polri jadi lebih gede. Lambat laun bisa muncul efek takut skala besar, trus warga jadi gamau lagi kritik pemerintah atau aparat karena nanti bakal dibungkam/diculik.
If this law passes, we're fucked.
PLASTIK NAIK, SAYA DIAM.
DIKATAIN GAK BERMIMPI JADI KAYA RAYA,
SAYA JUGA DIAM.
DOLLAR NAIK, SAYA DIAM.
IHSG DROWNDOWN. SAYA DIAM.
TETAPI HARI INI SAYA DENGAR
HARGA MIE AYAM NAIK,
SAYA AKAN LAWANNNN!!!
gua cringe karena gua bisa romantisasi hal-hal kecil yang berkeliaran di hidup gua, lu nganggep cringe karena lu ga bisa nemuin indahnya hal-hal yang ada di hidup lu
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
meskipun org org bilang, “percuma! nggak ada yg bisa berhentiin dia (presiden).”
nggak ada kata percuma, perlawanan ya tetep perlawanan. perjuangan ya tetep perjuangan.
👩🏻: gue
🧔🏻♂️: bapak gojek
🧔🏻♂️: kuliah di fakultas apa kak? anak saya juga di ugm tapi fkkmk
👩🏻: saya di fisipol pak
🧔🏻♂️: wah anti pemerintah ya?
👩🏻: /ketawa karir
🧔🏻♂️: politik gitu ya?
👩🏻: iya pakk
waktu gue mo turun
🧔🏻♂️: tolong terus kritik pemerintah ya kak, jangan berhenti dulu
ngeliat banyak orang bingung cari duit cari beasiswa buat bayar ukt, meanwhile there are those who get 1M perhari easily:)) it's honestly sick, pleaseee...
Alesan indo sulit maju tuh bukan cuma pemerintahnya aja, tapi masih ada (mungkin banyak) yang pola pikirnya begini. Terima terima aja dimiskinkan dan diperbodoh pemerintah sendiri. Hidup dibikin sesederhana mungkin, dikit-dikit bersyukur, ga ada pergerakan apa-apa.
KITA HIDUP DI NEGARA YANG MASYARAKATNYA SUKA NANYA "KOK BELUM?"
Umur 17:
"KOK BELUM KULIAH?"
Umur 22:
"KOK BELUM KERJA?"
Umur 25:
"KOK BELUM NIKAH?"
Umur 30:
"KOK BELUM PUNYA RUMAH?"
KOK BELUM PUNYA ANAK, KOK BELUM INI, KOK BELUM ITU, SEGALA MACAM PERINTILAN "KOK BELUM"
Makanya gw paham kenapa orang luar heran lihat anak Indonesia masuk kuliah umur 17-18. Hidup disini emg kayak lagi dikejar setan🤣