Jujur sampai sekarang masih gasuka sama konsep ain WKWKW lu yang iri kenapa gue yg kena😭😭 kalo lu dengki, yaudah itu problem dengan diri sendiri, kenapa jadi salah gue?Kecuali emang gue RIYA tuh ke elu, baru jadi salah gue. Kalo lu diem-diem dengki kan emang lu aje
Jujur suka banget gimana mereka bawa perihal gnosis. Ningguang terus terang minta penjelasan, tsaritsa juga jujur kalau emang itu nyakitin tapi ga menyesal. Neuvi juga jujur kalau dia masih ada rasa marah+benci. Aku suka 🙂↕️ tapi semua dikesampingkan karna ada yg URGENT.
@jj4ehyunn_@Smash1014314 Btw itu jaman masih belom boleh bawa HP. Mau telpon pun kaga apal nomernya 🫠
Sebenernya bisa aja pulang jalan kaki, tapi kan rumah dikunci jadi bisa apa 🫠
@jj4ehyunn_@Smash1014314 Kak aku pernah gini. Karna di grup g ada ngabarin kalo sekolah ada acara dan mulangin lebih awal.
Acara beres jam 9an pagi sementara emakku pulang kerja jam 4 sore. Y udah nungguin sampe lumutan.
Btw aku juga sampe dikasihani sama satpam, kyk OP cerita. Mayan nasi bungkus 😂
Kemarin sore pas di stasiun, ngelihat kejadian yang sampai sekarang masih bikin kepikiran banget. Ada anak kecil yang nangis kejer sambil diseret sama seorang cewek (kayaknya ibunya).
Infonya, adik ini nangis nggak mau diajak pulang karena pengin ikut bapaknya yang naik kereta. Jujur, nggak tega banget lihatnya. Si ibu kelihatan cukup kasar memperlakukan adik ini, sampai ada bapak-bapak porter yang akhirnya ikut negur si ibu supaya nggak kasar.
Mana si ibu sempat ngancam mau nendang si adik kalau nggak mau diam. Di tempat umum aja dia bisa ngomong begitu, gimana kalau di rumah? 🥲
Terus, kemarin juga kelihatan salah satu mata adik ini agak bengkak. Pas ditanya, ibunya bilang memang dari awal matanya sudah begitu. Nggak tahu ya apa penyebabnya dan tentu nggak bisa langsung menyimpulkan apa-apa.
Tapi, tapi, tapi, aku jadi kepikiran. Jangan-jangan ada sesuatu yang bikin adik ini segitu nggak maunya diajak pulang. Apa memang karena pengin ikut bapaknya, atau justru ada hal lain yang bikin dia takut pulang?
Aku tahu kita nggak bisa langsung menilai keadaan sebuah keluarga cuma dari kejadian beberapa menit. Tapi, melihat anak sekecil itu nangis kejer banget, ditambah ancaman kayak begitu, siapa sih yang nggak sedih? 🥲
Semoga kamu baik-baik aja ya, Dek. Semoga kamu punya tempat yang benar-benar aman buat pulang. 😭😭
Kalau kalian melihat kejadian seperti ini di tempat umum, apa yang sebaiknya dilakukan supaya anak tetap aman?
Tbh, gue berdoa buat seluruh sopir2 yang bantuin para pendemo. Yang mau nerobosin. Yang mau nerima orderan ke titik demo. Apapun deh yang gak kepikiran di gue.
I hope only good things happen to you all. We all deserve a better future.
Delapan bulan kerja di kantor itu, gue makan siang di warung seberang gedung terus. Warungnya kecil, meja cuma enam, kipas anginnya bunyi kayak mau copot. Bu Sari, yang jaga, udah hafal pesanan gue: nasi setengah, telur dadar, sambal dipisah.
Biasanya gue makan sendiri.
Terus suatu hari Bu Sari nanya, "Mas, nasinya dua, kan?"
"Satu, Bu. Dari dulu satu."
Dia ngelirik buku catatannya. "Oh iya, ya. Salah."
Besoknya dia nanya lagi. Lusanya juga. Lama-lama gue gatel.
"Bu, sebenarnya siapa sih yang biasa pesan dua?"
Bu Sari nunjuk meja pojok. "Anak muda yang duduk situ. Pesannya selalu dua, satu dibungkus. Udah lama."
"Namanya siapa?"
"Nggak tau. Bayarnya tunai, orangnya jarang ngomong."
Sejak itu gue jadi sering ngelirik meja pojok. Tiap jam dua belas lewat seperempat dia datang. Kemeja biru, tas hitam, rambut agak berantakan. Pesan nasi ayam dua porsi, satu dimakan di situ, satu dibawa pergi. Bungkusan itu nggak pernah gue lihat dikasih ke siapa-siapa. Pernah gue lihat dia duduk di halte hampir sejam, bungkusnya cuma ditaruh di sebelahnya.
Penasaran sih, tapi bukan urusan gue.
Sampai suatu Senin dia nggak muncul. Selasa juga nggak. Rabu, Bu Sari ngomong sambil ngegoreng telur gue, "Yang kemeja biru itu kok nggak keliatan ya, Mas?"
"Mungkin pindah kerja, Bu."
"Iya, mungkin."
Anehnya, abis itu gue jadi nggak selera makan.
Kamis, buat pertama kalinya gue pesan dua porsi. "Satu dibungkus, Bu."
Gue sendiri nggak ngerti kenapa. Mungkin pengin tau rasanya jadi dia.
Bungkusan itu gue bawa ke halte yang pernah dia duduki. Kosong. Akhirnya gue kasih ke bapak-bapak yang lagi duduk sendirian di situ.
Besoknya gue ulangi. Besoknya lagi juga. Dua minggu gue kayak gitu. Bukan karena merasa jadi orang baik, gue cuma pengin tau, dulu dia ngelakuin ini alasannya apa.
Hari kelima belas, kemeja biru itu muncul lagi. Lebih kurus dari yang gue inget, dan ada plester kecil di dekat pergelangan tangannya. Dia duduk di meja pojok, pesan dua porsi seperti biasa.
Kali ini gue samperin.
"Mas, boleh nanya?"
"Boleh."
"Yang satu bungkus itu, buat siapa?"
Dia ngeliatin bungkusan di tangannya, lama banget. Terus senyum tipis.
"Buat ibu saya."
"Oh, rumahnya jauh?"
"Ibu saya udah meninggal. Delapan bulan lalu."
Gue bengong, nggak tau mau ngomong apa.
"Dulu tiap berangkat kerja saya mampir bawain nasi buat Ibu," katanya. "Rumahnya deket sini. Pas beliau nggak ada, saya masih aja pesan dua porsi."
"Kenapa masih?"
Dia muter-muter gelasnya. "Soalnya jam makan siang itu waktu saya paling sering dengar suara Ibu. Saya mampir, Ibu nanya udah makan belum. Kalau saya bilang belum, diomelin." Dia ketawa kecil. "Saya mikir, kalau saya berhenti pesan dua, berarti saya harus terima kalau udah nggak ada lagi yang nanyain itu."
Gue narik kursi dan duduk di depannya, nggak minta izin dulu. Kami diem agak lama.
"Saya juga lagi pesan dua porsi akhir-akhir ini," kata gue akhirnya.
"Lho, kenapa?"
"Awalnya penasaran sama Mas. Lama-lama kebawa."
Kali ini dia ketawa beneran. "Jadi sekarang kamu yang gantiin saya?"
"Nggak tau. Mungkin saya cuma nggak tega liat meja kosong."
Dia ngangguk. Sebelum pergi dia taruh uang di meja dan bilang ke Bu Sari, "Bu, mulai besok satu aja ya."
Gue kira dia udah siap move on.
Besoknya dia datang lagi. Pesan satu porsi, makan sampai habis. Terus nyamperin gue yang lagi ngebungkus nasi kedua.
"Masih pesan dua?"
"Masih."
"Ya udah, hari ini buat saya aja."
Sejak itu kami makan siang bareng, hampir tiap hari. Nama aja baru tukeran seminggu kemudian. Namanya Dika. Gue jadi tau dia suka kopi pahit, benci hujan, dan tiap Minggu sore selalu nelepon satu nomor yang udah nggak aktif. Dia tau gue lagi nabung buat pindah kontrakan, suka beli buku bekas, dan selalu nyisain bagian telur dadar yang gosong. Soal ibunya, nggak pernah kami bahas lagi.
Delapan bulan kemudian warung itu tutup. Bu Sari pulang kampung karena sakit. Kami berdua berdiri di depan pintu yang digembok, sama-sama bingung mau makan di mana.