🇺🇸🇮🇷🇵🇰 The feelings of shock and disappointment on the face of Pakistan's Prime Minister, after he was informed by the Iranian delegation they are leaving after Trump threatened them.
“Ya ga ada sperma”
Ga semua pelecehan itu harus ada sperma.
Itu masalahnya.
Pie le buktike, susumu diremes?
Boro2 rekam.
Wis panik sek mas
mosok ngene ae kudu diterangke
Nih ya netizen kenapa kita harus stay with victim
Bayangkan kontol mu diremes temenmu di wc. Tiba2. Bar kui silitmu diraba2.
Trus kamu trauma.
Kamu mencoba speakup, tapi ga ada jejak sperma.
Pie le buktike kontol diremes?
Mangkane stay with victim kui diutamakan.
TW SH/SA
Bulan Mei 2025, saya dapet job sebagai Talent untuk photoshoot/videoshoot untuk salah satu brand lokal terkenal dengan owner inisial M.
Pada saat photoshoot tidak ada hal yang aneh dan semua berjalan lancar.
Memantau crita Aureli. Kalo kamu mengucapkan kalimat-kalimat ini ke anak di bawah umur korban kekerasan seksual, maka kamu bagian dari kekerasan itu sendiri.
“Anaknya juga mau kok.”
“Anaknya terlalu dewasa untuk umurnya.”
“Dia kelihatan genit dari kecil.”
“Posting fotonya kayak orang gede.”
“Dia kan nggak nolak.”
“Sama-sama menikmati.”
Dan masih banyak lagi contoh kalimat lain.
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar pendapat. Ini adalah alat kekerasan.
Karena dengan mengucapkannya, kamu:
1. Menghapus fakta bahwa anak tidak pernah bisa memberi consent,
2. Mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban,
3. Menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak—yang seharusnya dilindungi, bukan diadili.
Dampaknya jauh lebih berat ketika kalimat-kalimat ini datang dari orang dewasa yang punya otoritas: orang tua, guru, tokoh agama, aparat, atau figur publik.
Di titik itu, kekerasan tidak lagi berhenti pada pelaku pertama.
Ia berlanjut lewat bahasa. Lewat pembenaran. Lewat “logika” yang terdengar masuk akal, tapi aslinya kejam.
Pedofilia, grooming, maupun statutory ra--pe tidak pernah soal pakaian anak.
Bukan soal sikap anak. Bukan soal apakah anak melawan atau diam.
Semua itu SELALU tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasa.
Dan setiap kali seseorang memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, dia sedang berpihak pada kejahatan.
Fakta bahwa ibunya Aurelie udah minta tlg Kak SETO 4 kali tapi ttp gak digubris.
Ya ampun ternyata ka seto gak sebaik yg kita kira guyss, red flag juga yaa..
Tambah emosi lagi, giliran anaknya Ferdy Sambo dia belain 😭😭
Definisi “gak ada duit gak jalan”
seharusnya penderitaan aurelie bisa lebih cepat berakhir sejak pertama mencuat ke publik karena publik shrsnya menghukum bobby tapi di tgn media indo partriarki yg buta isu child grooming, isu ‘laki laki DEWASA memanipulasi anak’ jd kerdil, beralih ke ‘ANAK perempuan pembangkang’