Pemerintah @prabowo seharusnya membangun perumahan layak dan terjangkau untuk buruh di sekitar kawasan industri. Kedengarannya sederhana. Tapi kalau kita lihat realitanya hari ini, justru yang terjadi sebaliknya: kawasan industri berkembang pesat, tapi pekerjanya dipaksa tinggal makin jauh.
Akibatnya? Waktu habis di jalan. Biaya transport naik. Energi terkuras sebelum kerja dimulai. Dan yang paling ironis, buruh yang menggerakkan industri justru tidak punya akses tinggal dekat tempat mereka bekerja.
Lalu muncul narasi: “kan bisa nyicil rumah.” Tapi dengan upah yang pas-pasan dan harga properti yang terus naik, cicilan itu bukan solusi mudah. Banyak yang bahkan untuk kebutuhan harian saja harus menghitung ketat, apalagi bicara DP dan kredit jangka panjang.
Pertanyaannya sederhana: kenapa kawasan industri bisa dibangun dengan cepat, tapi perumahan pekerjanya tidak pernah jadi prioritas?
Kalau negara serius bicara kesejahteraan, ini harusnya jadi bagian dari kebijakan—bukan sekadar wacana. Karena rumah itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan dasar.
Kenapa banyak pekerja sulit menolak perintah atasan, meski di luar jobdesk? Dalam hubungan kerja yang hierarkis, posisi pekerja sering berada di bawah tekanan. Ada kekhawatiran: takut dinilai tidak loyal, takut mengganggu penilaian kinerja, bahkan takut kehilangan pekerjaan. Akhirnya, banyak yang memilih diam dan menerima, meski tugas tersebut jelas di luar tanggung jawab awal.
Situasi ini membuat batas jobdesk menjadi kabur. Pekerja terus diberi tambahan tugas tanpa kejelasan, tanpa negosiasi, dan sering kali tanpa kompensasi.
Padahal, hubungan kerja yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kejelasan peran dan saling menghormati batas kerja.
Pekerja berhak menyampaikan keberatan secara profesional. Dan perusahaan seharusnya membuka ruang dialog, bukan menekan.
Karena itu, penting bagi kita untuk menyadari: mengatakan “tidak” bukan bentuk pembangkangan, tetapi bagian dari menjaga keadilan dalam bekerja.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
Di hari yang suci ini, mari kita jadikan momentum Idul Fitri untuk mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, dan terus menjaga semangat perjuangan demi kesejahteraan pekerja Indonesia.
Semoga kebersamaan, kedamaian, dan keberkahan senantiasa menyertai kita semua. #SPEE #FSPMI
“Harapan adalah sesuatu yang mendorong manusia terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik.”
Dalam kehidupan pekerja, harapan bukan sesuatu yang mewah. Ia hadir dalam hal-hal sederhana: upah yang layak, pekerjaan yang adil, dan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak. Harapan itulah yang membuat kita terus bangun setiap hari, tetap bertahan, dan tidak menyerah meski keadaan sering tidak mudah.
Namun sering kali, harapan itu diuji—oleh ketidakpastian kerja, upah yang tidak cukup, hingga perlakuan yang tidak adil. Di titik inilah, kita diingatkan bahwa harapan bukan sekadar menunggu, tetapi sesuatu yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.
Karena selama harapan itu masih hidup, perjuangan tidak akan pernah berhenti.
Maka kita harus percaya: harapan tidak boleh mati, karena di sanalah masa depan kita sedang dibangun.
Baru kemarin kita merayakan Lebaran. Suasana hangat, kumpul keluarga, semuanya terasa sebentar. Tapi hari ini, banyak pekerja sudah kembali ke realitas: menghitung sisa gaji yang ada.
Pengeluaran meningkat saat Lebaran—kebutuhan pokok, mudik, hingga kebutuhan keluarga. Sementara penghasilan tidak selalu ikut naik. Bahkan bagi sebagian pekerja, THR pun tidak utuh atau datang terlambat.
Inilah gambaran nyata kehidupan banyak pekerja: baru selesai merayakan, sudah harus kembali berhitung untuk bertahan.
Kondisi ini bukan soal gaya hidup, tapi soal daya beli yang terus tertekan dan upah yang belum sepenuhnya layak.
Karena itu, kita tidak bisa menutup mata. Kesejahteraan pekerja bukan hanya soal hari raya, tetapi soal kepastian hidup setiap hari setelahnya.
Presiden FSPMI Suparno, S.H menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin 🙏🏻
#IdulFitri#1447H
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
Di hari yang suci ini, mari kita perkuat solidaritas, persaudaraan, dan semangat perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh pekerja di Indonesia.
Pemerintah mendorong kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret dan rencana lanjutan saat arus balik. Tujuannya jelas: mengurangi kepadatan dan memberi ruang fleksibilitas kerja. Namun di lapangan, muncul pertanyaan besar: apakah kebijakan ini berlaku untuk semua pekerja?
Bagi sektor perkantoran, WFA mungkin bisa diterapkan. Tapi bagi pekerja manufaktur, yang harus tetap berada di lini produksi, kebijakan ini tidak relevan. Mesin tidak bisa dipindahkan ke rumah, dan proses produksi tetap berjalan seperti biasa.
Di sinilah ketimpangan terlihat. Ada pekerja yang mendapat fleksibilitas, ada yang tetap harus bekerja tanpa pilihan.
Karena itu, kebijakan publik harus melihat realitas di lapangan. Jangan sampai fleksibilitas hanya dinikmati sebagian, sementara yang lain tetap memikul beban yang sama.
Keadilan kerja berarti kebijakan yang mempertimbangkan semua sektor, bukan hanya yang terlihat.
Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Pelalawan menunjukkan sisi humanisnya melalui agenda buka puasa bersama yang diselenggarakan di Restoran Dapur Kita, Sabtu (14/03/2026).
Berbeda dari biasanya, kegiatan tahunan ini juga memperkuat aspek sinergi kelembagaan dengan kehadiran perwakilan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pelalawan.
Putusan MK yang membuka jalan penghapusan pensiun seumur hidup pejabat patut diapresiasi. Buruh yang bekerja puluhan tahun saja belum tentu mendapat jaminan pensiun layak. Sudah saatnya keadilan ditegakkan. Pajak rakyat diprioritaskan untuk kesejahteraan rakyat, bukan privilese pejabat.
Terima kasih untukmu yang terus berdiri tegak dalam perjuangan. Dalam situasi apa pun, kalian tetap menjaga komitmen, tetap setia pada nilai kebersamaan, dan tidak pernah mundur dari garis perjuangan.
Hormat kami untuk kalian semua yang berada di garis depan, yang menjaga organisasi ini tetap kuat, tetap solid, dan tetap menjadi rumah bagi perjuangan kita semua. Kita tahu bahwa perjalanan tidak selalu mudah, tetapi justru dari keteguhan itulah kekuatan kita lahir.
Organisasi ini dibangun dengan keringat, pengorbanan, dan solidaritas ratusan ribuan pekerja. Karena itu, menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama.
Terima kasih atas keberanian, kesetiaan, dan semangat yang tidak pernah padam.
Bersama kita jaga perjuangan ini.
Bersama kita jaga FSPMI.
#JagaFSPMI 🔥
Hari ini digelar agenda sidang pertama gugatan perdata terhadap DPP FSPMI di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, sidang pertama berfokus pada pemeriksaan kehadiran para pihak, identitas, surat kuasa dll.
Majelis Hakim memeriksa kehadiran, identitas, dan surat kuasa penggugat serta tergugat (16/3/2026).
Dalam rangka mempererat tali silaturahmi di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Digital Platform Dan Transportasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPDT FSPMI) PT.Transportasi Jakarta menggelar agenda Buka Puasa Bersama (Bukber) sekaligus Santunan Anak Yatim yang bertema pada Senin (16/03/26).
Agenda ini merupakan bagian dari program 1 tahun sekali yang diadakan oleh SPDT FSPMI PT.Transportasi Jakarta terhadap masyarakat sekitar dan anak anggota yang ayahnya sudah terlebih dahulu meninggalkan kita.
Selain anak anak yatim PUK SPDT FSPMI PT.Transportasi Jakarta juga dihadiri para toko ulama dan agama seperti Habib Nobal Alaydrus, Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Al Kaff, Habib Syahil, Ustad Syarip dan Ustad Rusli. Perwakilan Management PT.Transportasi Jakarta serta dari pengurus PP SPDT FSPMI.