@kyojindee@dayatpiliang Gua termasuk orang bodoh yg ngerasa pinter.
Kenapa banyak orang yg caci maki di "riset" itu, gua rasa wajar.
Yg terlihat "riset" cuma jadi tameng untuk sindiran dalam bentuk "pertanyaan",
Ya emang cuma riset di "x" doang tapi kalo pertanyaannya pada nyindir/framming ya gimana ya
@kyojindee Menarik nih! Sebelum panjang lebar disclaimer dulu gua bukan penonton live itu, dan udh lama juga follow @dayatpiliang
Pertama kenapa banyak respon negatif padahal udh disebutkan tujuannya riset, karena kata "riset" itu sendiri cuman "tameng", kenapa?
-lanjut
@kyojindee@dayatpiliang Terus "Apa yang kalian dapatkan dari live streaming dengan konsep seperti ini? Hiburan? Edukasi? atau hanya ingin melepas penat karena gabut?" Pertanyaan yg sebenernya jawbannya di batasi dari opsi yg ada. Padahal ada opsi yg lain ada perspektif lain.
Tanya aja @grok
@kyojindee@dayatpiliang Kalimat "Kira-kira, kenapa sih ada ratusan ribu orang mau buang waktunya nonton live marapthon?"
Itu aja udh ada penilaian buruk, kalo tujuan riset harus belum ada yg dinilai dong
Kalo pun hanya bertanya bisa dong pertanyaannya ganti jadi "apa alasan kalian nonton marapthon?"
@EASFCMOBILE saya tidak bisa main di event TOTY 2026. Semua belum dan tidak bisa saya mainkan. Aplikasi telah saya uninstal lalu instal kembali tapi tidak ada perbaikan. Tolong solusinya @EASPORTS@EASPORTSFC
@FutyChels All the accounts that create quizzes like this only reply to comments from people who answer incorrectly and ignore the correct ones. Very stupid. Is this how you want to be popular?
Anjing gue juga suka coklat, tiap gue makan coklat dia ngerengek minta.
Apakah kemudian gue kasih? Ya enggak, karena gue tidak tolol.
Orang-orang kayak gini sih bikin gue smakin yakin manusia emang butuh surat izin beranak. Salah satu syarat dapetinnya harus tes akal sehat, logika, ama psikiatri.
Kasian anaknya kalo engga, minta dilahirin juga kagak, eh sekalinya brojol dapet emak antivaxx + dongo 🤦🏻♀️
udah, matiin aja semuanya.
erase the youth, ignore the elders, deny the sick, kill the rebels, let the nation collapse under the heavy boots of a deaf and blind tyrant that was handpicked by dirt-stained fingers of manipulated farmers and sailors.
Datang dengan kesederhanaan. Dusta.
Dia adalah kita. Dusta.
Gorong gorong. Dusta.
Stop Import. Dusta.
Bekerja untuk rakyat. Dusta.
“Anak saya tidak tertarik politik.” Dusta.
“Jangan pamer kekayaan.” Dusta.
“Konstitusi harus ditegakkan.” Dusta.
“Itu urusan partai. Saya tidak ikut campur.” Dusta.
.
.
Now. Dia pergi. Setelah semua dibuatnya berantakan.
* Kepercayaan rakyat akan penegakan hukum runtuh: MK, MA, Polisi, ABRI
* DPR yang semestinya menjadi punggawa Demokrasi, diubah menjadi 1 paduan suara besar; yang hanya mengerti 1 kata: SETUJU!
* Tanggungan rakyat akan Hutang Negara yang begitu sangat tinggi
* PHK, Kemiskinan, Tingkat Kejahatan meroket dari standar kewajaran nalar
* Kekayaan alam yang semestinya untuk kemakmuran rakyat; nyata-nyata dieksplor besar besaran .. demi membangun negara lain
Dan Dia. Si Invisible hand. Pelaku utama, yang begitu pandai berkelit. Yang begitu sulit di buktikan. Yang sarat akan Pencitraan. Yang selalu memukul dengan tangan orang lain.
Dia belum selesai.
Di titik ujung. Dia pun masih menuntut anggaran besar, untuk 1 dusta lainnya. TUNTUTAN UCAPAN TERIMAKASIH …sebagai kata menutup di hari akhir dia berkuasa.
Hei kamu!
Yang merusak keindahan Indonesia!
Kamu adalah Kecelakaan terbesar Bangsa!
Kamu: PENDUSTA!!
@jokowi