JAKARTA PUSAT.
master adalah B. SOFT BDSM. Suka melecehkan lelaki manly, TOP, kekar, edging, domination. Yg mau dimainin, slave pemula merapat. Isi form!
Femina X : Cairan Pengubah Lelaki Kekar (A THREAD!!)
Di balik senyum mengerikan Pranata, tersembunyi obsesi yang mematikan. ๐ Ia mengubah Angga menjadi budaknya, tepatnya jd anjing betinanya. Tapi, adakah harapan di balik penderitaan? #Obsesi#BDSM#Pengkhianatan
Anak Soshum tidak dihargai dan dianggap bodoh di Indonesia, karena ketika SD SMP SMA, mata pelajaran IPS terlalu gampang.
Mau Soshum dihargai? Simpel. Persulit ujiannya.
Tidak boleh ada persepsi "IPA pintar, IPS bodoh". Keduanya harus sama-sama horor dan sadis.
Reputasi matpel IPS masih dirasa kurang horor? Persulit lagi ujiannya. Persulit lagi quiz dan PR nya.
Barangkali ini tidak akan sulit-sulit amat untuk diterapkan.
Misal: 1 buku paket biasanya cukup untuk pelajaran eksak, karena ilmu pasti. Soshum harusnya tidak boleh begitu. Ujiannya harus didominasi pemahaman sosio-kontekstual akan hal yang ada di luar buku. Siswa yang survive hanyalah siswa yang banyak baca.
Sastra juga demikian. "Bahasa Indonesia", misalnya, tiba tiba akan jadi sangat sulit apabila siswa hanya bisa lolos ujian jika dan hanya jika sudah sering membaca, menghayati, dan menghargai karya-karya sastra fundamental.
Pada zaman dahulu, semua calon mahasiswa Soshum di Barat diwajibkan bisa bahwa Latin dan bahasa Yunani Kuno *sebelum* masuk kuliah, karena kebanyakan naskah penting ditulis dalam bahasa itu. Kemampuan bahasa ini mereka bangun lewat hobi membaca puisi, sastra, dan karya Latin dan Yunani Kuno.
Menurut gw ini standar kompetensi minimum yang sangat bagus. Hari ini kita tidak literally butuh bahasa Yunani Kuno, tapi kita butuh sesuatu yang sama sulitnya.
---
Kalau mau diseriusin lagi:
- Idealnya, partisi STEM-Soshum-Sastra dalam bentuk apapun di level SMA dihapus.
Di sekolah yang ideal, semuanya diajarkan dan dijelalkan masuk. Sayangnya ini hanya bisa berhasil apabila guru-gurunya elite dan bergaji tinggi.
- Idealnya, akademis SMA sengaja dibikin sangat susah dan sangat sadis dan sangat horor. Alasannya satu, yaitu memaksa lulusan SMP mempertimbangkan opsi masuk SMK dengan serius. Masalahnya, kualitas SMK di Indonesia sangat buruk sehingga ini harus diperbaiki duluan.
- Role edtech yang paling dibutuhkan adalah meringankan beban pekerjaan guru. Memeriksa soal, otomatisasi administrasi, memantau progress tiap siswa, dll. Barangkali siswa tidak perlu melihat atau menyentuh aplikasi edtech sama sekali.
Spekulasi liar:
- Di zaman AI, fungsi utama sekolah di bidang akademis barangkali akan berubah jadi ruang ujian saja. Bayangkan tiap hari ujian intensif, kertas dan pulpen, essay, tidak ada AI dan tidak ada kalkulator. Tapi jam pulang adalah jam 11 pagi. Setelah itu bebas mau ngapain. Pacaran, Valorant, motoran, ekstrakurikuler, belajar mandiri, silakan.
Karena tiap hari ujian, anak terpaksa memiih belajar mandiri. Well, tinggal minta diajarin oleh AI. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian besoknya dan menjadi shock therapy bagi anaknya. Salah sendiri terlalu percaya sama AI.
- Ini diperkuat dengan sistem Romusha Tutor (atau Sistem Tutor Oxford). Tiap kakak kelas diberikan tanggung jawab terhadap prestasi akademis 1 adik kelas. Kalau adik kelas tidak lulus, kakak kelas tidak lulus.
Asumsi di sini adalah bahwa hanya manusia yang bisa menyelesaikan hal seperti "memotivasi anak untuk belajar" dan bahwa AI tidak bisa melakukan ini. Well, ya sudah, romushakan saja kakak-kakak kelas untuk jadi tutor. Kakak kelas bingung harus ngapain? Tanya AI. AI nya ngaco? Akan ketahuan di ujian besok.
- Spekulasi liar ini mengasumsikan bahwa pemerintah kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan useless dan gabut. Gw jauh lebih percaya bahwa teknologi AI akan bisa sangat murah Rp 2rb / bulan daripada percaya bahwa pemerintah akan peduli untuk "menaikkan gaji guru" atau semacamnya. Untuk isu yang ini, barangkali sebaiknya kita menyerah saja.
"Anak pintar," bisikku mengapresiasi, sebelum akhirnya memberikan ritme dan sentuhan yang sedari tadi dia tangisi. Dan malam itu, diiringi erangan panjangnya yang memecah keheningan, dia menyadari satu hal: dia tidak akan pernah bisaโdan tidak mauโlepas dariku.
Pernah membayangkan bagaimana rasanya melihat laki-laki yang paling dominan, kaku, dan merasa dirinya paling berkuasa, mendadak berlutut gemetar memohon padamu? Ini bukan sekadar tentang fisik atau kepuasan semata. Ini tentang menghancurkan egonya, pelan-pelan,
Sentuhanku turun ke dadanya. Titik yang selalu tersembunyi, yang paling jarang dia biarkan dieksplorasi. Saat ujung jariku bermain pelan di sanaโdi puncak dadanyaโmenggodanya tanpa ampun, tubuh kaku itu tiba-tiba tersentak hebat.
Aku menatap mahakarya di depanku. Laki-laki hebat yang biasa dipuja banyak orang ini, sekarang rela membuang seluruh harga dirinya hanya demi sentuhan tanganku. Dia sudah hancur. Dia sudah kubentuk ulang, dan aku menyukai hasil karyaku.
"Tolong..." Suaranya parau, berat, dan nyaris putus asa. "Tolong, Master." Kata keramat itu keluar juga dari bibirnya. Kata yang menjadi simbol penyerahan mutlak, menghancurkan sisa-sisa ego kelaki-lakiannya hingga tak bersisa.
"Aku belum mengizinkanmu," kataku dingin, mencengkeramnya sedikit lebih erat. Dia membuka matanya, menatapku dengan pandangan memohon yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini. Pandangan seorang penakluk yang memelas minta dikasihani.
Saat telapak tanganku akhirnya menguasai kejantanannya, meresapinya dengan genggaman yang mutlak, pertahanannya hancur total. Laki-laki 'straight' ini bergetar hebat di bawah sentuhanku. Kesombongannya luruh tak bersisa.
Kini tanganku bergerak lebih rendah. Menyusuri perut ratanya, menelusuri garis tubuhnya ke bawah. Turun menuju pusat gairahnya yang sejak tadi sudah menegang sempurna, berdenyut tak sabar, menunggu belas kasihanku.
Dia mengerang tertahan. Suara beratnya terdengar begitu rapuh. "Sshh... siapa yang menyuruhmu bersuara?" bisikku tepat di telinganya. Dia tersentak kecil, lalu langsung menggigit bibir bawahnya. Patuh. Begitu patuh sampai membuatku tersenyum.
Ada kepuasan magis melihat laki-laki yang biasanya mengambil alih permainan, kini bahkan tak sanggup mengatur napasnya sendiri. Dadanya naik turun dengan cepat. Tubuhnya merespons sempurna, mengkhianati otak logisnya.
"Jangan bergerak," perintahku mutlak. Dia menelan ludah susah payah. Matanya terpejam erat, keningnya mulai berkeringat. Menahan desahan yang meronta ingin keluar hanya karena cubitan dan putaran seringan bulu di dadanya.