Aku sudah meninggalkan perasaanku di kotamu tepat di hari sabtu di mana kita tidak jadi bertemu. Aku berharap semua selesai di situ saja. Tidak ada kelanjutan cerita apapun. Aku berhenti berharap, pun kamu sudah berhenti memberi harapan.
Tapi, hari ini harapan itu muncul lagi.
Kenapa ya w selalu ada di posisi di mana orang akan datang ketika w sudah sangat berusaha untuk mengikhlaskan. Bahkan sudah ada di titik hampir ikhlas sekaligus lupa. Hehe
KTP w Islam, aliran aswaja, organisasi NU. Tapi dari mana w dapat semua itu? Turunan dari keluarga.
Jadi, kepercayaan itu diturunkan.
Terus semua itu dipupuk dengan pendidikan, lingkungan, dan afirmasi bahwa kepercayaan yg mereka tanamkan paling bener.
Kalau mempertanyakan, akan dianggap nggk patuh, saru, berdosa, dll.
Capek ya lama² ada di lingkup yang toxic.
W percaya dengan agama w. Tapi tidak dengan organisasi²nya. Bukan organisasi ya, tapi lebih orang² yg ada di organisasi keknya
Semua hal itu ada waktunya.
Aku kudu beresin diriku sendiri untuk kemudian bisa menerima 'masalah/beban' baru lagi.
Jadi, pingin nikah cepet atau nggk?
Hanya kepingin ngerasa ditemenin dan dibersamai disetiap keputusan. Tapi aku sama sekali belum siap dengan konsekuensi nya.
Kadang ya, nggk kadang lagi malah sering, akutu ngerasa capekkk banget. Capek selalu diandelin banyak orang. Aku ngerasa butuh banget 'orang' yang bisa kuandelin dalam setiap situasi. Solusi yg ada di otakku seketika ya menikah.
Aku dulu takut banget sama pernikahan. Sodara yg nikah aja aku yanh panik. Tapi karena ngerasa udah capekkk banget, yaudah kayaknya nikah jadi solusi.
Tapi, syukurnya, akhir² ini aku kembali disadarkan bahwa menikah, atau sekedar pacaran malah nambah² masalah dan beban pikiran
@adambrotowijono Si ibu bilang "DPR RI yang turun ke bawah. Air mata rakyat sampe sekarang masih ada."
P-pfffftttttt, ya dah, si paling care
Tapi bu, mohon maaf, penyebab 'air mata rakyat' tidak hanya dalam bidang pendidikan. Salah satunya adl air mata akibat tertawa mendengar omongan ibu🙏🏼