NGGAK GUNA MOJOKIN ORANG LAIN KARENA SUKA ATAU NGGAK SUKA SAMA SATU FILM.
Suka atau nggak sukanya seseorang sama satu film tergantung pada banyak faktor, termasuk:
- kondisi emosional saat nonton (suasana hati, secara kognitif lagi seger apa lagi capek jadinya bisa fokus apa nggak)
- ekspektasi terhadap filmnya
- secara emosional lagi butuh apa (apa film lucu apa film horor, eskapisme, atau apa)
- tingkat empati
- kedekatan pengalaman (relate nggak sama yang dialami para karakternya)
- preferensi genre (suka film jenis apa)
- cara penonton mandang dirinya sendiri
- bias pribadi (kesukaan atau kebencian sama filmmaker atau pemainnya, etc)
- Kebutuhan status sosial (kebutuhan pengakuan sebagai penyuka atau pembenci jenis film atau filmmaker tertentu)
- dinamika kelompok (pengalaman nonton bareng ama siapa, seru atau nggak)
- dan lain-lain
Jadi, kalau sampai berantem soal suka/gasuka atau persepsi/pemahaman kita terhadqp satu film, ya nggak bakal ketemu lah.
Biar aja orang punya pendapat sendiri. Namanya juga pengalaman (spiritual) personal. Itu lah kenapa film itu sangat amazing.
Ave Neohistorian!
Dukacita mendalam kami sampaikan atas kepergian Titiek Puspa, sosok legendaris yang telah mengukir sejarah dalam dunia seni Indonesia. Lahir dengan nama Sudarwati pada 1 November 1937 di Tanjung, Kalimantan Selatan, beliau memulai kariernya sejak usia remaja dengan meraih juara dalam kontes menyanyi Bintang Radio di Semarang. Nama panggilan “Titiek Puspa” yang diberikan oleh Presiden Sukarno ini kemudian melekat dan menjadi identitasnya di kancah hiburan nasional. Sepanjang lebih dari enam dekade berkiprah, beliau telah menghasilkan puluhan album dan menciptakan ratusan lagu, termasuk karya-karya abadi seperti "Kupu-Kupu Malam" dan "Bing" yang telah menjadi bagian penting dari jalinan budaya musik Indonesia.
Kontribusi Titiek Puspa terhadap seni dan budaya di Indonesia sangat luar biasa. Selain dikenal sebagai penyanyi dan pencipta lagu, beliau juga pernah menjajal dunia akting serta aktif dalam mendidik dan menginspirasi generasi muda melalui program-program pembinaan seni. Inisiatifnya, seperti membentuk grup vokal Duta Cinta, membuka kesempatan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk belajar dan menyalurkan bakat mereka, sekaligus menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Jejak karya beliau akan terus hidup dalam Sejarah selama-lamanya.
Selamat jalan, Titiek Puspa!