@jeffreysantio Adanya kontras vokal dan konsonan begitu memang bikin fenomena sound symbolism dalam onomatope bahasa Jawa jadi menarik buat dikaji sih wkwkkw
my therapist told me:
"if you're an anxious person, do everything for fun. go to a job interview for fun. exercise for fun. start a blog for fun. anxiety feeds on importance. don't treat everything like a life-or-death situation."
and then it all made sense.
Ikut disksusi grammar bhs Indo, yg sering orang abaikan sebagai "Ah Indo gak ada grammarnya, gak ada itu tenses ato plural ato apa-apa kyk bahasa Inggris"
Perlu tahu bhw bhs Indo itu adalah salah satu bahasa dgn pengimbuhan (derivation) paling produktif di dunia
Tapi perlu digarisbawahi bahwa padanan ini bukan satu banding satu, karena yang bisa disandingkan di sini adalah *fungsinya* dalam konstruksi tertentu. Satu joshi Jepang bisa direalisasikan dengan beberapa bentuk berbeda dalam bahasa Indonesia, dan juga sebaliknya.
Crystal (2016) menjelaskan partikel sebagai “an invariable item with grammatical function” terutama unsur yang sulit dimasukkan ke kelas kata standar. Moeliono dkk. (2017) menjelaskannya sebagai kata yang tidak mengalami perubahan bentuk dan tidak memiliki status kelas kata.
@tahueazyy Setuju sih, secara fungsi sih/lah/loh/kok/dong/kan memang jauh lebih dekat ke 終助詞 (shūjoshi) seperti ね/よ/さ/な daripada は/が/を/に/で.
Particle sendiri sebenarnya cakupannya cukup luas
Makanya secara fungsi emang lebih menarik kalau disandingkan dengan shūjoshi (partikel akhir ujaran).
Sementara kakujoshi (partikel penanda kasus) seperti が/を/に/で/の juga secara kasar bisa dibandingkan dengan unsur bahasa seperti di, ke, dari, dengan, untuk, pada, dst.
@tahueazyy Setuju sih, secara fungsi sih/lah/loh/kok/dong/kan memang jauh lebih dekat ke 終助詞 (shūjoshi) seperti ね/よ/さ/な daripada は/が/を/に/で.
Particle sendiri sebenarnya cakupannya cukup luas
Bahasa Indonesia jg ada -banyak- partikel, *loh*!
Bedanya partikel kita lebih ke pragmatis (maksud) sedangkan 'wa', 'ni', 'wo'-nya Jepang lebih ke tata bahasa
Bedain, *dah*:
- di rumah, sih
- di rumah, lah
- di rumah, loh
- di rumah, kok
- di rumah, dong
- di rumah, kan
Dsb..
I think Indonesian is the easiest language in the world.
- No tenses (present, past, future)
- no particle such as は, に, を,で
- no kanji and any special alphabet
- no to-be (am, is, are)
- you can even speak the language without verbs
Easiest language on earth
i don't think americans are uniquely ignorant, like i doubt the average person from my country knows much about eastern europe, but the difference is we don't assume we know about eastern europe better than eastern europeans or that our racial dynamics are the default everywhere
Pernyataan yang lebih tepat ialah beberapa orang Indonesia *mungkin* sering kali gagal menangkap maksud akibat kompleksitas pragmatik dalam budaya konteks tinggi Indonesia, yang sering kali mengaburkan maksud pesan.
Kalau yang dimaksud adalah ini, saya setuju dengan OP 👍
alasan knp org indo "kesusahan" belajar bahasa lain salah satunya adalah kebiasaan "tidak" berbahasa. culture kita high context, cuma ngomong 1 kata aja, misal: "kan." itu udh banyak banget interpretasinya
sedangkan bahasa lain butuh pembahasan/ekspansi ide lebih lanjut😭🫵🏼
Gak cuma siapa yang ngomong sih, tapi bisa juga bagaimana, kapan, di mana ngomongnya, dst. Intinya keterangan untuk dialog di depan/belakangnya.
Di dalam dialog tag selalu ada verba (kata kerja) yang menempel langsung ke dialog.
Contoh variasi dari verba tersebut: