Greta Thunberg Beri Pesan Darurat Karhutla Kalimantan: Kondisi Lebih Mengerikan daripada di Medsos
Aktivis lingkungan, Greta Thunberg, menyuarakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, yang menimbulkan kabut asap.
Dalam unggahan Instagram pada Jumat (16/10/2026), Greta membagikan video dari akun @emmanuelashinta yang memperlihatkan asap pekat hingga membuat langit berwarna oranye meski masih sekitar pukul 10.00 pagi.
"Krisis kebakaran hutan dan kabut asap masih jauh dari selesai," ujar Greta dalam unggahan di akun Instagram-nya, Jumat (16/10/2026).
"Meski rekaman ini sudah menunjukkan betapa mengerikannya situasi yang terjadi, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada yang terlihat di media sosial," sambungnya.
Menurut Greta, situasi tersebut mengerikan. Namun, kata Greta, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada yang terlihat di media sosial.
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyatakan kesiapannya untuk bekerja menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan segera, Kamis (15/10/2026).
Kristomei mengatakan, respons atas bencana ini harus cepat karena rakyat sudah terdampak.
Sebuah analisa yang bagus dari Zen RS mengapa sipil selalu kalah : karena politik selalu diukur dengan pengetahuan
Hal tsb yang menyebabkan adanya kesenjangan dan menyebabkan yang tidak punya gagasan menjadi tidak punya tempat.
Seyogyanya yang perlu dilakukan adalah pengorganisiran untuk menyalurkan "kemarahan" secara kolektif
Vidionya kurang lebih 5 menit, coba deh tonton sampai akhir, dan prediksi saya, di benak kalian akan membatin "oh iya juga, ya"
Mantap betul memang Bung Zen ini...
Vamoss, hidup Juventusss
Sebelum menggenosida kaum Yahudi pada 1930an, Fasis Nazi Hitler terlebih dahulu membersihkan jalan-jalan dan lingkungannya dari kalangan Homoseksual. Bagi mereka, homoseksualitas adalah perilaku menyimpang dan ancaman moralitas.
Kita kini saksikan perilaku Nazi ini.
Dia orang yg kalo cari lawan ga tanggung2. Soeharto ditantang, Tomy Winata dihadapi, Riziek Shihab dibikin mlungker. Keberaniannya ga tertandingi. Award atas nama Taufik pantasnya diberikan untuk jurnalis2 yg juga punya nyali. @AJIIndonesia.
Tugas Para Intelektual
“Para intelektual kita seharusnya tidak duduk di kafe mewah sambil menyeruput kopi seharga 70 sen dan membahas masalah negara berkembang. Tugas mereka yang sebenarnya adalah terhubung dengan kaum miskin di masyarakat, memahami masalah mereka, pemikiran mereka, keyakinan mereka, tanggung jawab mereka, dan beban yang mereka pikul."
"Para intelektual harus mengetahui peluang yang ditawarkan kepada mereka [kepada para intelektual ini], memanfaatkannya seperti permata tersembunyi, dan menggunakannya untuk memobilisasi massa dan membimbing masyarakat menuju pertumbuhan, kesadaran, dan kreativitas. Peran intelektual adalah untuk memicu revolusi.”
– Dr. Ali Shariati (intelektual Iran, gugur 1977, kemungkinan besar dibunuh intel rezim Shah, SAVAK)
@aldnmarki
Mungkin ini sebabnya rakyat Myanmar memilih perlawanan bersenjata melawan rejim militer. Bukan lagi dengan aksi demo, debat di tv atau gugatan hukum. 🤔
Power Beyond Realpolitik | Anthropologist Scott Atran explains why so-called "realism" in international relations is psychologically unrealistic: people and countries cooperate, accede, or resist according to their moral commitments. https://t.co/NryDssIAtR
Michel Foucault visited Iran in 1978 and praised its budding theocratic revolution as a site of resistance against the liberal-capitalist West he hoped to subvert.
One reason why the usual suspects are still supporting the Iranian regime.
I have a lecture on Foucault's post-modernism and Khomeini's pre-modernism in my Philosophy of Politics course. Trailer and Syllabus here:
https://t.co/4z1AaSnKXy
Senang sekali rasanya dalam 6 jam ada 60 ribu orang yang mengakses https://t.co/LBHrUjN6sn, kebanyakan di Indonesia, tapi juga ada ribuan di Malaysia, Amerika Serikat, dan Australia.
“Pelaku-pelaku kejahatan (pelanggaran HAM masa lalu), masih berkeliaran. Apakah sebegitu kebalnya?”
Wiwin Haryono, ibu dari Ita Martadinata memberikan kesaksiannya dalam Sidang Gugatan Penyangkalan Fadli Zon terkait Perkosaan Mei 1998 di PTUN Jaktim, Kamis (5/2/2026).
Dalam persidangan, dia menceritakan kejadian yang menimpa anaknya pada tahun 1998. Ia diperkosa dan dibunuh, tanpa peradilan sampai saat ini. Wiwin menolak diam, dia bersaksi dan menuntut penyangkalan sejarah perkosaan Mei 1998.
Selain Wiwin sebagai saksi, hadir pula ahli yaitu Ketua Komnas Perempuan (Maria Ulfah Ansor) dan Sejarawan (Andi Achdian).
📸Nurul Nur Azizah/Konde.co
#lawanpemutihansejarah
Bayangkan, kalau masih bisa terbayang, aparat yang melindas orang sampai mati di depan mata ribuan orang, bebas berkeliaran. Sementara Laras yang hanya mengunggah cuitan prihatin di medsos di penjara. Keadilan adalah nasi dimakan jadi Tai.
PERNYATAAN BERSAMA
Atas nama keadilan sejarah dan integritas moral bangsa, kami mempertanyakan keputusan negara yang menobatkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.
Kami tak menolak mengakui jasa yang disumbangkan siapapun terhadap Republik ini — termasuk Soeharto. Tetapi kepahlawanan adalah hal yang jauh lebih besar dan penting dari sekedar menghargai jasa seseorang — siapapun dia.
Menjadikan klaim jasa sebagai dalih untuk menutupi, menyamarkan dan mengaburkan kesalahan atau kejahatan sejarah, sama saja dengan menyuntikan bius amnesia sejarah ke tubuh bangsa.
Bagi kami, Kepahlawanan adalah mekanisme moral kolektif: Cara suatu bangsa untuk mendidik anak-anaknya membedakan benar dari salah dalam sejarah. Memilih mana yang patut dihormati dan mana yang harus menjadi pelajaran.
Ia tidak boleh dikosongkan maknanya menjadi sekadar kemegahan personal, karena sesungguhnya ia adalah kompas moral bagi kehidupan bersama dalam menuju masa depan.
Kami setuju, rekonsiliasi bisa saja berguna untuk menyembuhkan luka-luka bangsa. Tapi bila demikian halnya, kami bertanya: Mengapa negara tidak secara konsekuen juga mengakui peran para tokoh-tokoh kiri Indonesia — mereka para pejuang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme yang dihapus dari catatan resmi sejarah kemerdekaan hanya karena perbedaan ideologi?
Kami bertanya: Apakah bangsa ini telah kehilangan keberanian untuk mengakui sejarahnya sendiri? Apakah nilai nilai yang hendak diajarkan kepada anak anak dan cucu kita dari sikap inkonsisten dan mau menang sendiri tersebut?
Bahwa kekuasaan boleh berbuat apa saja sepanjang mendatangkan kemakmuran?
Bahwa kepatuhan pada negara lebih penting daripada kemanusiaan dan solidaritas sosial? Bahwa kebebasan adalah ancaman konstan pada pembangunan ekonomi?
Bahwa korban-korban boleh jatuh dan dilupakan demi stabilitas politik?
Jika itu pelajaran moral yang akan diwariskan kepada generasi muda, maka bangsa kita bukan sedang membangun masa depan, melainkan sedang memperpanjang bayang-bayang masa lalu.
Terhadap kemungkinan itu, kami menyatakan tidak setuju.
Jakarta, 10 November 2025
1. Andi Arief
2. Rachland Nashidik
3. Hery Sebayang
4. Jemmy Setiawan
5. Aam Sapulete
6. Robertus Robet
7. Syahrial Nasution
8. Rocky Gerung
9. Yopie Hidayat
10. Bivitri Susanti
11. Abdullah Rasyid
12. Ulin Yusron
13. Iwan D. Laksono
14. Beathor Suryadi
15. Affan Afandi
16. Zeng Wei Zian
17. Umar Hasibuan
18. Hendardi
19. Syahganda Nainggolan
20. Hardi A Hermawan
21. Denny Indrayana
22. Benny K. Harman
23. Endang SA
24. Yosi rizal
25. Syamsuddin Haris
26. Khalid Zabidi
27. Monica Tanuhandaru
28. Ikravany Hilman
29. Hendrik Boli Tobi
30. Isfahani
31. Elizabeth Repelita
32. Roni Agustinus
33. Marlo Sitompul
34. Tri Agus Susanto S
35. Oka Wijaya
Zohran Mamdani’s election has thrust the US socialist movement into the spotlight. But American socialism is neither new nor obscure, as @TheDuhalde’s new study from @rosaluxnyc shows, comparing the old Socialist Party with today’s @demsocialists. https://t.co/jaeVRjb3cW
buku ini akan cetak ulang di @KomunitasBambu sebagai seri memahami soeharto en orde baru
buku ini jelas banget mau bilang bahwa dosa besar soeharto itu tidak dapat dibantah, itu sejarah, history bukan story, cerita kaleng-kaleng
Kondisi kampus Unisba pada Selasa (02/09) dinihari usai terkena penembakan gas air mata. Asap pekat masih ada di dalam kampus dan tiga satpam Unisba dilaporkan terluka akibat kejadian pagi ini.
Credit: @suaramahasiswa