Hajime Miura,22 tahun, menang gelar dunia ke-8 divisi 3A di Praha di tahun 2025. Itu dua yo-yo muter bareng, string trick ribet, dan otak yang harus mikir ambidextrous secara real-time.
Yang bikin ini beda dari sekadar "juara lagi" adalah tahun sebelumnya dia finis ke-4. Bukan podium. Keluar dari zona nyaman juara bertahan, terus balik lagi tahun ini ngalahin 300+ kompetitor dari 43 negara buat ngerebut gelarnya lagi.
Divisi 3A ini emang beda level dari yo-yo yang biasa dimainin orang buat iseng. Dua yo-yo long-spin sekaligus, tangan kiri kanan harus punya kesadaran ruang independen satu sama lain, sementara kebanyakan orang aja masih struggle bikin satu yo-yo "sleep" dengan bener.
Miura sendiri udah jadi juara dunia dari umur 10 tahun. Sekarang di usia 22, dia jadi pemain dengan gelar terbanyak kedua sepanjang sejarah kompetisi ini.
Yang bikin dominasi kayak gini menarik bukan cuma skill-nya. Tapi fakta bahwa dia pernah kalah, dan tetep dateng lagi tahun depannya.
DPR bertanya kepada Kapolri; Uang SIM dan Tilang di apakan dan Lari ke mana?
Kapolri dgn enteng menjawab; Uang SIM dan Tilang di pakai utk biaya operasional para para anggota
Hanya Ada 3 Polisi yg jujur di Indonesia; Patung Polisi, Polisi Tidur dan Jenderal Hoegeng!
Gus Dur !
Como berubah dan berbenah menyambut debut di kompetisi Elit Eropa!! Champions League!
Lika-Liku Singkat Como:
2018/2019 Juara SerieD
2019 Dibeli Group Jarum Hartono Brothers
2020/21 Promosi ke SerieB
2023/24 Peringkat 2 SerieB Promosi ke SerieA
2024/25 Finish SerieA Peringkat 10
2025/26 Lolos Champions League
Kisah Yang Terlalu Dramatis COMO, Hartono Brothers, Cesc Fabregas.
🙌
Skakmat buat pidato Istana di MPR! Rieke PDIP sentil keras: sebagus apa pun 'Pedoman Kabinet', kalau basis datanya ngasal, yang lahir cuma anggaran fiktif & korupsi. Jargon evidence-based policy tapi data PDB & kemiskinan difabrikasi demi pencitraan.
Video : kompas tv
👀🇦🇷 Después de decir que esta vez el arbitraje no influyó, me pidieron revisar el partido con detalle y encontré esto.
Enzo Fernández, autor del gol del empate de Argentina, no debió terminar el encuentro.
Al minuto 3 lanzó un codazo en la nuca a un jugador inglés, sin ninguna posibilidad de disputar el balón. Si se hubiera aplicado el mismo rigor arbitral que vimos contra Suiza y Egipto, esa acción perfectamente pudo terminar en expulsión. Pero no solo no fue roja… ni siquiera fue amarilla.
Minutos después, el mismo Enzo cortó un contragolpe de Inglaterra con una zancadilla al borde del área. ¿La sanción? Tampoco hubo amarilla.
Desde el primer tiempo, Enzo debió estar expulsado. Si una acción así hubiera sido contra Messi, difícilmente el infractor se salvaría.
Por cierto, guarden el video porque la FIFA los anda borrando.
acham o haaland assustador? é porque não viram ele vestido de coringa no haalandoween hahahah
sério, ele saiu na rua assim… o cara é realmente da resenha 🃏
Dengan menggunakan Drone, karakter CR7 menyampaikan ucapan terima kasih ke suporter Portugal di acara nonton bareng yang digelar di Medeira Portugal. 🇵🇹
Obrigado = Terima Kasih
Cara Yang Keren. 🫡👏
https://t.co/lo4VCE2Glr