Dalam rangka memperingati 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, Pataba Press akan mencetak secara sangat terbatas buku-buku biografi Soesilo Toer tentang Pramoedya Ananta Toer.
@msafarnurhan Benee nggak mencintai buku. Tapi sedang memerankan diri sebagai pengarsip karya-karya Pak Koesalah dan Pak Soesilo Toer. Iya nggak @Kedai_pataba ?
*mau tidur lagi ah.
Koesalah Soebagyo Toer sudah memulainya dengan menghimpun artikel-artikel abangnya itu, jadilah Menggelinding I yang terbit pada 2004 silam. Kemungkinan harusnya muncul juga Menggelinding II, III, dst. karena sejak 1957 hingga 1965 Pram produktif juga menulis di media massa.
Sudah saatnya warisan karya Trah Mastoer ini diserahkan ke Mas Bene aja kok, yang sudah terbukti handal dengan terbitan-terbitannya di Pataba. Mengharapkan penerbit yang onoh itu nganti jeleh rasane soale.
Sementara itu, Bene Santoso cerita kalau dia masih menyimpan 40-50 naskah bapaknya, Soesilo Toer, atau pakdenya, Koesalah Soebagyo Toer, yang belum pernah cetak.
"Masih aman buat terbitan @Pataba_Blora sampai 2030", katanya sumringah.
Artinya, tulisan Pram di Lentera, lembar kebudayaan harian Bintang Timur juga belum ada yang dibukukan sama sekali. Artikel dia di Harian Rakjat juga lumayan ada beberapa ini. Dan masih sangat memungkinkan untuk dihimpun.
Tulisan Pram yg diunggah Bung Agis di atas ini bahkan belum masuk ke dalam buku Menggelinding I, sebuah kumpulan tulisan Pram sepanjang 1947-1956 yang diusahakan dan dihimpun oleh Koesalah Soebagyo Toer. Bayangkan betapa masih banyak lagi, termasuk yang periode 1957 hingga 1965.
Ini lho yang harusnya ahli waris sekaligus penerbitnya pikirkan dan lakukan: menghimpun berbagai tulisan Pram yang terserak di berbagai media sepanjang 1950-an sampai 1960-an, kemudian dibukukan. Tinggal mau apa enggak aja sih. 😅
Penggalian kuburan massal yang dilakukan oleh YPKP di Hutan Situkup, Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo 16-18 November 2000 itu sejalan dengan isi artikel “Tentang Kuburan Massal di Hutan Situkup” yang ditulis oleh Femi Adi, mahasiswi Yogyakarta.
Harga:Rp 55.000
Sudah 32 tahun lamanya Sri Muhayati (59) menduga, bahwa sang ayah, Muhadi, yang hilang sesudah dibon dari Yogyakarta tahun 1966, termasuk dalam rombongan tahanan dari Yogyakarta yang dibantai di daerah Wonosobo. Sejak itu ia bercita-cita membuktikan dugaannya.
PENGGALIAN KUBURAN MASSAL DI WONOSOBO
“Upaya untuk menegakkan keadilan, kemanusiaan memang harus ditangani secara simultan, tetapi tetap harus berhati-hati. Lengah sedikit, bahaya mengancam.”
in books, the Toer family seems permanent..
then i meet Soesilo and encounter an elderly body carrying nearly nine decades of memory
i realize that the living bridge to Pram, Mastoer, and that entire intellectual generation is becoming very thin
But there is another side to it:
i met him while he was still here.
i heard his voice, saw his manner, and experienced something no biography can transmit.
first thing he asked me was
"mahasiswa atau sarjana"
age made the encounter painful precisely because it made the encounter real.
whatever small detail i remember
how he spoke, joked, sat, looked at the room, or treated me is now part of the living record too
thank you Toer family, for your incredible contribution to this nation
@oonshadi Wah ini judul yg sampe sekarang belum ada kabar lagi dari penerbit KPG. Hasil terjemahan Koesalah Soebagyo Toer yg entah nasibnya sekarang gimana.
Sebuah novel. "Mau rasanya aku mengajakmu jalan-jalan, tapi kamu sekarang di bawah pengaruh prosa. Tidurlah, & bermimpilah angka-angka matematik..."
#khp#bukuindonesia https://t.co/uappRRdqLe
@dallaballer@suhairi4hmad@senogp Di halaman kolofon tertulis "Hak penerbitan dalam bahasa Indonesia pada KITLV dan PT Pustaka Utama Grafiti". Berhubung penerbit sudah gulung tikar, kami tinggal mencari informasi berkaitan penerbitan buku itu dengan KITLV.